Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN


TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN
(Teladan 1)

Di kegelapan malam yang mencengkeram dengan kehitamannya, tampak bayangan dua orang laki-laki tegap berlenggang menyusuri jalan di sela-sela rumah yang pintunya sudah tertutup rapat. Suasana sepi, menandakan para penghuni rumah itu sudah enggan meninggalkan peraduannya.

Keheningan itu tiba-tiba pecah ketika sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara tangisan anak-anak. Kedua orang itu berusaha mencari arah sumber suara itu. Bebarapa saat mereka mencari, akhirnya mereka berdua melihat di kejauhan ada sutu rumah yang masih terlihat terang karena ada api yang menyala.

Setelah yakin bahwa suara tangisan itu berasal dari rumah yang terlihat terang itu, keduanyapun bergegas menuju ke sana. Hati mereka cemas, jangan-jangan sesuatu telah terjadi dan anak-anak itu membutuhkan bantuan.

Ketika mereka telah sampai di depan rumah itu, salah seorang di antaranya segera mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, 'Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikum salaam", terdengar suara seorang wanita menjawab salam dari dalam rumah itu. "Siapa kalian?", sambung wanita itu.

"Kami dua orang yang kebetulan lewat dan mendengar suara tangis anak-anak. Bolehkah kami masuk?", jawab salah seorang laki-laki di luar.

Dengan nada agak kesal, wanita itu menjawab, "Mau apa kalian ke rumahku? Jika tidak ada keperluan, pulang saja. Aku sedang repot menghadapi anak-anakku"

"Perkenankan kami untuk masuk, barangkali kami bisa membantu", jawab salah seorang lelaki itu.

Setelah diam beberapa saat seolah-olah mempertimbangkan permintaan kedua laki-laki itu, akhirnya wanita itupun berdiri dan melangkahkan kakinya membukakan pintu lalu kembali duduk di dekat tungku menjaga agar api tetap menyala. Sementara itu, anak-anaknya yang tadi menangis sudah terlihat tidur walaupun tampak gelisah.

Salah seorang laki-laki itu bertanya kepadanya, "Apa yang sedang ibu kerjakan?"

Sambil bersungut-sungut wanita itu menjawab, "Aku sedang memasak air bercampur batu dalam periuk ini. Dengan cara ini aku beralasan kepada anak-anakku yang kelaparan untuk bersabar menunggu makanannya masak. Akhirnya anak-anakkupun kelelahan dan tertidur"

Mendengarkan penuturan wanita itu, salah seorang dari laki-laki itu tampak mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang dan badannya gemetar. Laki-laki itu tampak gelisah.

Wanita itu berhenti sejenak. Wajahnya tampak semakin muram. Kemudian ia melanjutkan, "Ini semua adalah kesalahan  Umar yang telah kalian angkat menjadi pemimpin itu. Dia terlalu sibuk memikirkan urusannya sendiri sehingga melupakan kami yang miskin dan butuh bantuan ini. Jika kalian menjumpainya, katakan padanya bahwa dia adalah orang yang tidak bertanggung jawab, membiarkan rakyatnya kelaparan."

Laki-laki yang gelisah itupun tampak semakin gelisah dan tegang, sedangkan yang seorang lagi tampak menjadi marah dan bersiap untuk menegur wanita yang sedang mengomel tadi. Tetapi, temannya yang gelisah itu menggamitnya dan memberi isyarat agar jangan berbuat apa-apa terhadap wanita itu.

Laki-laki yang semakin gelisah itu dengan suara yang gemetar berkata, "Baiklah, bu. Apa yang ibu katakan akan aku sampaikan kepada Umar, Dia memang pantas menerima omelan seperti itu. Sekarang ijinkan kami pergi"

Bergegas laki-laki yang sangat gelisah itu pergi diikuti oleh temannya. Wanita pemilik rumah itu memandang dengan heran, apa maunya kedua orang laki-laki yang aneh itu.

Sementara itu, laki-laki yang gelisah itu mempercepat langkahya. Dengan berlari-lari dia menuju gudang penyimpanan makanan diikuti temannya yang terheran-heran.

"Ya amirul mu'minin, mengapa engkau berlari-lari dan kelihatan sangat tergesa-gesa?" , tanyanya.

Orang yang tergesa-gesa itu ternyata adalah Umar bin Khathab. Beliau menjawab, "Aku akan mengambil sekantung gandum dari gudang dan akan aku antarkan kepada wanita dan anak-anaknya tadi"

"Kalau begitu, ijinkan aku yang mengambil dan memikulnya. Biarlah aku antarkan gandum itu kepada mereka", jawab laki-laki itu.

"Tidak!", kata Umar. "Biarkan aku sendiri yang memikul dan mengantarkannya. Ini adalah tanggung jawabku"

Tanpa dapat dicegah lagi, Umar memikul sendiri sekantung gandum itu diantarkan ke rumah wanita tadi. Sesampainya di rumah wanita itu, Umar segera memasakkan makanan. Setelah masak maka disajikannya hidangan itu untuk ibu dan anak-anaknya .

Betapa terharunya wanita tadi menerima kebaikan orang yang belum dikenalnya itu. "Siapakan sebetulnya laki-laki yang baik hati ini?". tanyanya dalam hati.

(Diceritakan berdasarkan Kitab al Bidayah wa al Nihayah li ibn Katsir)

Kisah di atas adalah sekelumit cerita dari sikap seorang pemimpin yang merasa bertanggung jawab mengurusi rakyatnya. Beliau merasa perlu untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya, sehingga pada suatu malam berjalan-jalan  ditemani oleh seorang pembantunya mengontrol kondisi rakyatnya..

Tercermin betapa seorang pemimpin betul-betul bertanggung jawab memperhatikan rakyatnya dan melayaninya dengan baik. Apalagi untuk urusan makanan, tidak boleh ada seorangpun rakyatnya yang kelaparan. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ * رواه البخارى
Tidaklah disebut seorang yang bermian, orang yang tidur di suatu malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar (karena tidak punya makanan)

Alangkah indahnya hidup ini jika pemimpin-peminpin kita betul-betul memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.

Semoga kita bisa meneladani kisah ini


Dugan SY, Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame