BERPRESTASI DALAM WEGAH
Pagi tadi sepulang dari pengajian di gedung dakwah AMM Selokraman, saya sowan Ibu/Yang Uti. Untuk selanjutnya saya sebut saja Yang Uti. Biasanya Yang Uti juga hadir di pengajian tersebut, tetapi tadi pagi tidak nampak. Ternyata Yang Uti sedang “wegah”. Istilah “wegah” tersebut menggambarkan kondisi Yang Uti yang merasa badannya kurang fit, mau berbuat apa-apa malas, termasuk mandi, makan. Namun Alhamdulillah, kalau solat wajib 5 waktu sehari, selalu di kerjakan oleh Yang Uti. Untuk kegiatan ibadah yang satu ini, Yang Uti memaksakan diri tidak wegah untuk melaksanakannya.
Ketika kami datang, Yang Uti sedang tiduran, belum mandi tapi sudah dahar “segi Jani”. Kami bawakan tongseng yang di masak setelah subuhan tadi, di samping daging juga kami tambahkan telor agar jika Yang Uti kesulitan dahar daging, bisa dahar telornya. Yang Uti janji mau dahar tongsengnya nanti jika sudah merasa lapar lagi. Saya matur Yang Uti, bahwa sekarang ini kalau ke Selokraman, terasa nyaman mengendarai motor dari “sor kluwih” sampai depan Ndopo. Karena mulai sor kluwih sampai depan rumah Om Bambang sudah di semen ulang, sehingga nampak lebih luas dan mulus. Itulah hasil pemikiran dan karya Yang Uti, yang selalu memperhatikan kenyamanan orang lain. Selanjutnya Yang Uti ngendiko, kalau dalam keadaan tidak wegah, rasanya apa-apa bisa di kerjakan.
Pada kenyataannya Yang Uti senang mengerjakan sesuatu yang membuat senang orang lain. Mulai dari memasak dan membagi-bagikan kepada anak cucu dan tetangga, mengunjungi orang-orang yang sedang sakit, membuat/membeli makanan untuk ta’jil di masjid Baiturahman setiap Senin dan Kamis, dan sebagainya. Dalam kondisi sedang wegah, Yang Uti minta di nasehati apa yang harus di lakukan. PdW menyarankan agar Yang Uti menikmati saja apa yang sedang di hadapi, karena memang di usia yang tidak muda lagi, kondisi fisik tidak memungkinkan untuk memaksakan diri bekerja. Perbanyak rasa syukur atas apa yang di peroleh, karena sesungguhnya nikmat Alloh sangat banyak. Yang Uti pun lalu ngendiko bahwa tadi malam mendengarkan pengajian yang di selenggarakan oleh RW di rumah Ibu H. Hajid. Kata Pak Ustad, perintah untuk menyembelih hewan Qurban datang ketika Nabi Muhammad SAW berduka, karena beberapa putra-putrinya wafat. Yang terakhir putra-putrinya tinggal dua, Siti Fatimah dan Ibrahim. Namun Ibrahim pun juga wafat. Kemudian Alloh menurunkan surat Al-Kautsar, bahwa sesungguhnya nikmat Alloh itu sangat banyak. Maka dirikanlah sholat dan semeblihlah hewan qurban. Sholat itu di lakukan hanya untuk Alloh semata.
Selanjutnya, Yang Uti juga bercerita, bahwa kemarin dalam kondisi wegah, Yang Uti bersama Chera membersihkan depan rumah Om Bambang yang banyak kotoran kambingnya. Kotoran berupa inthil dan daun-daun sisa makanan kambing sudah di bersihkan Bulik Tri, tapi kotoran basah menempel di lantai semen. Oleh Yang Uti lantai tersebut di di kerok, disikat dan di siram dengan air. Lama-lama bersih juga. Kami tertawa mendengar cerita Yang Uti, saya komentar : “Itulah hebatnya Yang Uti, dalam kondisi wegah masih bisa ber prestasi, membersihkan lantai semen yang tidak bisa bersih hanya dengan di sapu saja”. Mudah-mudahan bincang-bincang kami tadi pagi bisa memunculkan semangat Yang Uti. Semoga muncul keinginan untuk melakukan sesuatu sesuai kemampuannya, yang penting kegiatan tersebut bisa membuat hati Yang Uti senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame