Kesan Akhmad Immaduddin tentang Eyang Putri Sriyati Hoedan:
- Bangga
Alhamdulillah sangat membanggakan menjadi bagian dari garis keturunan Eyang yang memiliki track record bersih, sholeh, membesarkan putra-putra yang banyak dan (insyaAlloh) selalu di jalan Alloh. Tentu kami di tingkat cucu sudah lebih heterogen dengan warna pendidikan dan bimbingan orang tua kami masing-masing. Akan tetapi warna dasar ke-Islam-an dan kerukunan dalam Keluarga Bani Hoedan masih jelas terasa.
- Meneladani
Konsistensi Eyang dalam mendidik putra-putri-nya berdasarkan Islam namun diselimuti kasih-sayang dan pengorbanan yang luar biasa untuk putra-putri, suami, mertua dan cucu-cucu. Penegakkan cara mendidik Islami mutlak harus dilakukan.Akan tetapi tanpa cinta dan kasih-sayang yang lembut, bagi anak akan terasa kaku. Sentuhan-sentuhan kecil seperti menyediakan makanan kesukaan anak (bahkan ketika sudah sudah senior), ’sedikit melanggar aturan’ untuk memanjakan anak, berusaha semaksimal mungkin menengok,menunggu, dan mendo’akan bila ada yang sakit tentu sangat bermakna dibanding kata-kata formal ketika orang tua lain mengemukakan berbagai alibi untuk tidak dapat bicara dari hati ke hati dengan anak-anaknya.
Teladan Eyang yang baru-baru ini saya rasakan adalah kepekaan sosial dan menyampingkan senioritas. Eyang di bulan Syawal ini berjalan kaki sendiri untuk menengok mbah Marto tapi sekaligus berkunjung untuk menyampaikan salam Iedul Fitri pada yang lebih muda..jauh lebih muda secara usia maupun tingkat kekerabatan. Eyang menjawab kegundahan karena tidak banyak lagi generasi muda yang sowan sungkem Syawalan, dengan cara mengunjungi mereka. Silaturahmi ternyata dicontohkan Eyang dengan cara luar biasa. Berjalan kaki di panas terik untuk mengunjungi yang lebih muda dan mengucapkan selamat Iedul Fitri.
- Melayani
Dari tahun 1955 sampai 2012 Eyang selalu melayani anak-cucu-buyut. Saya aja kalo sakit ditengokin,dipijitin sambil didoain dan..lama..Yang terakhir ini mungkin agak susah dengan adanya hp/bb di tangan.Sebentar-sebentar bunyi dan seolah-olah ”wajib” dibuka. Memang kodratnya barang itu menjauhkan yang dekat dan (seolah-olah) mendekatkan yang jauh.
Eyang juga berkorban luar biasa dengan mengasuh adik-adik Eyang Hoedan dan melayani Mbah Buyut Mustajab (beliau dulu satu-satunya yang sanggup) sampai wafat.
Dalam melayani, Eyang melakukannya dengan cinta tapi tegas. Dari buku harian (diary) Eyang, saya sangat memahami ketegasan Eyang yang kuat. Misalnya tidak mau di-madu apapun resikonya. Pertimbangan so’al anak yang (terlanjur) banyak juga tidak meluluhkan hati Eyang untuk mengalah. Eyang juga secara gagah-berani menyatakan harus keluar dari rumah mbah Tajab ketika pola asuh pada anak tidak sesuai prinsip-prinsip Eyang. Dalam skala yang tidak terlalu ekstrim, Eyang juga pernah naik kereta api (Bandung-Jogja) sendiri. Padahal pada saat yang sama, Eyang Hoedan melakukan perjalanan yang sama naik bis. Ya, ada saat tertentu Eyang begitu tegas untuk menunjukkan eksistensinya bahkan dengan mengorbankan sesuatu yang di luar perkiraan kita. Melayani bukan berarti selalu siap mengalah. Ketegasan Eyang inilah justru yang menyelamatkan Keluarga Bani Hoedan dan membuat Eyang selalu dihargai oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun.
- Saran
Di usia 83 tahun ini, Eyang sudah sepuh. Angka 83 itu sangat banyak. Dan tidak banyak yang mencapai usia ini. Sebuah kesempatan besar untuk anak-cucu-buyut bisa berbakti pada Eyang. Eyang sangat pantas untuk mendapatkan bakti kita semua setelah semua yang Eyang lakukan untuk kita #semoga nggak jarkoni#. Semoga KBH bisa meneladani Eyang yang tegas menjalankan syari’at Islam, penuh kasih-sayang, tegas, dan senang bersilaturahmi.
Maturnuwun Eyang. Semoga Alloh SWT mengkaruniai usia panjang yang barokah, kesehatan serta kebahagiaan lahir-batin bersama kami semua..aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame