Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

KELUARGA MUSLIM


KELUARGA MUSLIM
       Akhir-akhir ini jika kita melihat televisi banyak di suguhi berita tentang tawuran antar warga, tawuran antar pelajar, demo, korupsi, pembunuhan dan sebagainya. Sehingga sering timbul pertanyaan, apakah yang menyebabkan orang-orang itu menjadi kejam, seolah-olah tidak punya perasaan, tega terhadap sesama? Ke mana hati nurani mereka? Nampaknya nilai-nilai luhur kepribadian manusia mulai luntur. Kemudian dari mana kita harus mulai memperbaikinya? Salah satu cara memperbaiki kondisi masyarakat yang sedang galau ini, bisa di mulai dari keluarga. Alhamdulillah, tadi pagi (Ahad, 4 November 2012) bisa ikut pengajian bar subuh (selesai jama’ah sholat subuh) di Masjid Perak. Ustadnya Bp Sukriyanto AR (putra Bapak AR Fachrudin alm, mantan Ketua Umum Muhammadiyah). Judulnya adalah Keluarga Muslim. Isi pengajian tersebut tentang pembinaan keluarga yang di harapkan dari keluarga yang baik, akan membentuk masyarakat yang baik pula. Mengingat KBH semuanya muslim, alhamdulillah, maka saya coba tuangkan untuk buletin KBH, mudah-mudahan ada manfaatnya.
       Menurut Pak Sukri, yang di maksud dengan keluarga muslim, idealnya adalah :
  1. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Di Indonesia, sering kita jumpai dalam keluarga ada orang lain selain ayah, ibu dan anak, seperti kakek, nenek, keponakan, serta pembantu rumah tangga. Semua anggota keluarga tersebut beriman.
  2. Anggota keluarga satu sama lain mempunyai rasa saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi. Dengan demikian, apabila ada anggota keluarga yang sedang bermasalah, maka yang lainpun ikut merasakannya dan tergugah untuk ikut serta mengatasi permasalahannya.
  3. Semua anggota keluarga mempunyai etos kerja yang tinggi, jangan sampai ada yang bermalas-malasan. Yang di maksud kerja di sini termasuk pekerjaan rumah tangga, membersihkan rumah, halaman, perabotan rumah tangga, dan sebagainya. Jadi semua melakukan pekerjaan sesuai kemampuannya dengan hati senang dan saling bantu membantu.
  4. Semua anggota keluarga mempunyai etos ilmu yang tinggi, baik dalam menuntut ilmu maupun dalam mengamalkannya. Yang namanya belajar tidak hanya di bangku sekolah saja, tetapi bisa belajar di manapun berada. Belajar bisa dengan membaca, mengikuti pengajian, kursus-kursus, aktif dalam kegiatan masyarakat, dan sebagainya.
  5. Mempunyai semangat dakwah, yakni selalu mengajak, menyeru untuk beriman dan taat kepada Alloh. Yang namanya dakwah juga tidak harus di mimbar, bisa dengan menjadi contoh berbuat baik, bisa dengan bergaul yang baik, bisa dengan menulis, bisa dengan mengajak berbuat baik, dan sebagainya.
Faktor utama dalam membina keluarga muslim adalah Bapak dan Ibu sebagai penggerak suasana keluarga, sehingga tercipta kondisi yang menumbuhkan berkembangnya keluarga muslim yang ideal. Dalam membesarkan anak, juga membentuk anak menjadi manusia dewasa. Orang tua dalam mendidik tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mentransfer nilai-nilai luhur, mentransfer iman dan perilaku. Memperhatikan bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani, maka kedua hal tersebut harus sama-sama mendapat perhatian. Dari sisi jasmani, manusia membutuhkan makan, kegiatan olah raga, dan lingkungan yang mendukung, seperti rumah, pakaian, peralatan dan sebagainya. Sedangkan dari sisi rohani, perlu spiritual, iman, islam, ikhsan. Dalam prakteknya, pembinaan jasmani dan rohani bisa di lakukan secara bersama-sama. Seperti misalnya, kebutuhan akan makanan, hendaknya di berikan kepada anak makanan yang halal dan toyib. Halal berarti makanan yang bukan dari jenis makanan haram serta diperoleh dengan cara yang halal juga. Toyib berarti makanan yang baik, sesuai dengan kebutuhan badan. Di dalam perut manusia hendaknya diisi 1/3 makanan padat, 1/3 makanan cair, dan 1/3 gas. Cara makan pun hendaknya dibiasakan yang baik pula, yakni makan/minum menggunakan tangan kanan, di lakukan dengan duduk, di dahului dengan berdoa.
Untuk menumbuhkan keluarga muslim, perlu membangun komunikasi secara terus menerus. Salah satu cara yang di sarankan adalah adanya waktu-waktu tertentu untuk keluarga, misalnya antara Maghrib sampai Isya’ anggota keluarga berkumpul. Kalau saran dari PdW, usahakan waktu makan dilakukan bersama keluarga, paling tidak sehari sekali, apakah waktu makan malam, waktu sarapan, atau waktu makan siang. Ciptakan suasana kegembiraan, jangan mudah khawatir. Tanamkan karakter anak pemberani namun tidak pemarah dan mudah memberi maaf. Hal ini sesuai Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 126, yang artinya kurang lebih : “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang di timpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”. Mendidik hendaknya dengan perasaan cinta, keteladanan (orang tua bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya), dan memberikan nasehat agar anak menjadi faham. Manajemen yang sesuai yakni dengan cara “kelonan” atau memberikan perasaan hangat di lingkungan keluarga.
Dengan terbentuknya keluarga muslim yang ideal, akan memberikan bekal kepada anggota keluarga terutama anak-anak, sehingga mampu bersikap dan bertindak secara baik di lingkungannya. Dengan demikian jika masing-masing keluarga menjadi baik, masyarakatkan menjadi baik. Yang pada akhirnya akan terhindar dari kemaksiatan yang tidak kita inginkan. Semoga Alloh membimbing kita dalam membentuk keluarga muslim yang ideal.

      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame