EMPTYNESS SYNDROME
(Sindrom Sangkar Kosong)
Assalamu’alaikuw Wr Wb
Bismillahirahmanirahiim.. Sholawat dan salam kita tujukan pada Nabi Muhammad SAW..Robbisrohli sodri wayassirli amri... wahlul 'uqdatammillisaani yafkahul kauli
Maturnuwun atas kesempatan yang diberikan. Dalam kesempatan yang baik ini saya ingin mengungkapkan keprihatinan saya tentang sesuatu yang dalam dunia Psikologi disebut sindrom sangkar kosong (emptiness syndrome). Apa to sindrom sangkar kosong itu? Apa tanda-tandanya? Bahayanya? Dan bagaimana cara mencegahnya?
Sindrom Sangkar Kosong adalah keadaan di mana orang di suatu keluarga/anggota keluarga yang lain (yang disini maksudnya anak) mulai meninggalkan rumah satu persatu. Sindrom ini biasanya dirasakan orang tua setelah anak-anaknya sudah mulai atau akan berniat hidup mandiri. Orang tua kadang merasa sepi dan sedih karena hal yang biasa ada (anak-anak) mulai pudar seiring jalannya waktu. Walaupun tidak selalu begitu. Anak yang beranjak remaja dan lebih banyak kegiatan atau pergaulan dengan teman sebaya atau peer group-pun dapat mengakibatkan efek yang sama.
Efek dari sindrom sangkar kosong yang paling nyata adalah kesepian. Biasanya ada anak-anak yang diasuh sekarang semua sudah menikah dan tidak lagi tinggal serumah (kecuali pakdhe Bachrun..hehehe). Kesepian ini diperparah dengan post power syndrome atau sindrom pensiunan. Biasanya intensitas hubungan keluarga harus dibagi antara pekerjaan, anak, suami/istri, bahkan masih ingin punya ’me time’ (waktu yang digunakan untuk memanjakan diri sendiri seperti ke salon, internetan, atau bermain game). Setelah anak-anak tinggal terpisah, ditambah lagi hilangnya rutinitas pekerjaan. Teman satu-satunya mungkin tinggal suami/istri di rumah. Kalau pengantin baru mungkin menyenangkan, semoga pengantin lama juga demikian.
Semua masalah yang tadinya bisa ’keslamur’ dengan adanya anak atau lingkungan pekerjaan akan mulai tampak jelas. Bahkan sangat jelas saat tidak ada lagi tempat berbagi selain suami/istri. Kebosanan yang memuncak akibat tidak ada rutinitas (selain memang kodratnya kondisi fisik menurun seiring usia) dapat memicu berbagai penyakit. Ya, kadang-kadang mindset kita masih selama kebutuhan fisik tercukupi, berarti semua kebutuhan terpenuhi. Masalahnya manusia adalah mahluk sosial yang (menurut Abraham Maslow) butuh cinta, penghargaan sosial dan aktualisasi diri. Kebutuhan biologis dan keamanan itu merupakan kebutuhan dasar saja.
Melihat kebutuhan tersebut, kita sebagai generasi cucu yang rata-rata memiliki orang tua dalam fase sangkar kosong ini sebaiknya melakukan beberapa hal seperti:
- Secara rutin menengok.
Secanggih apapun fasilitas komunikasi (yang kadang-kadang malah sulit dimanfaatkan para kasepuhan), kehadiran fisik sangat diperlukan. Keberadaan fisik dalam suatu waktu dan tempat memungkinkan kita berkomunikasi dengan lebih baik, mengekspresikan emosi dan bahkan sentuhan fisik akan sangat menyenangkan hati orang tua. Apalagi bila disertai kehadiran cucu yang telah kita didik untuk dekat pula secara emosional. Ini juga merupakan investasi. Anak-anak kita akan melihat betapa kita sangat menghormati dan menyayangi orang tua/eyangnya, dan suatu saat (InsyaAlloh) mereka akan melakukan hal yang sama pada kita.
- Menjaga komunikasi yang hangat.
Sebagian keluarga dibatasi oleh jarak dan waktu. Menjaga komunikasi yang hangat serta intens. Telfon secara rutin ternyata sangat diharapkan oleh orang tua. Menanyakan kabar dan memberi kabar secara rutin dan hangat penuh kasih sayang. Mendengarkan keluh-kesah serta cerita yang ’diulang-ulang’ mungkin membosankan. Tapi yakinlah kita akan melakukan hal yang sama nantinya pada anak-anak kita. Curhat atau katarsis sendiri menurut beberapa penelitian telah mengurangi 50% beban.
- Piknik
Mungkin pantai Indrayanti, gua Cerme, apalagi Ancol dan Taman Safari bukan tujuan yang menarik bagi piyayi sepuh. Tapi kebersaman selama perjalanan dengan anak-cucu (sekali-sekali) akan menjadi pengalaman baru yang menyenangkan untuk mereka, juga anak-anak kita. Tujuan piknik yang lebih rasional tentunya silaturahmi. Akan sangat menyenangkan buat para pini sepuh dapat mengunjungi keluarga di kota lain, atau minimal di kampung sebelah. Silaturahmi juga memperpanjang usia dan melapangkan rizki.
- Mencukupi Kebutuhan Fisik dan Sosial
Alhamdulillah secara fisik sepertinya kebutuhan dasar para pini sepuh seperti sandang-pangan-papan serta kesehatan relatif terpenuhi dengan baik. Akan lebih baik lagi bila kebutuhan sosial mereka dapat kita dukung juga. Misalnya dengan mendukung (mengantar/mengikutsertakan) orang tua dalam berbagai pengajian, kegiatan kampung, reuni, ataupun pertemuan-pertemuan trah.
- Mendo’akan.
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِ يْ
صَغِيْرَا.
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
Alloh SWT itu maha adil. Sehingga dalam do’a yang kita panjatkanpun, Alloh berlaku adil. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita. Bukan berarti kita lalu menghitung-hitung apakah mereka dulu cukup sayang pada kita karena paling tidak rahim dan ASI itu sangat priceless dan tidak mungkin kita melunasinya. Ini hanya sebagai pengilon bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita agar mereka juga ikhlas menyayangi dan merawat kita nantinya.
Kepada Pakdhe-Budhe, kalo boleh saya menyarankan, emptyness syndrome ini tidak perlu selalu disikapi negatif. Kalo istilah ibu-ibu muda itu ’me time’ (waktu untuk diri sendiri) justru tersedia banyak. Pola hidup sehat lahir-batin lebih memungkinkan untuk dilakukan.
- Rutin Olah Raga
Olah raga itu penting. Mungkin memang bukan budaya kita seperti opa-oma londo yang kadang-kadang terlihat berjalan-jalan berdua, main tenis atau renang. Tapi kalau positif kenapa tidak? Secara fisik sehat, mentalpun lebih ceria. Waktu senggang kita juga tersita sebagian.
- Rutin Pengajian/kegiatan kampung/kegiatan sosial
Sebenarnya ini sudah menjadi budaya di Bani Nawawi, tapi kadang-kadang perlu usaha ekstra untuk yang sudah sepuh dan punya keterbatasan fisik. Tapi dengan menarik diri dari kehidupan sosial, efek sindrom sangkar kosong akan lebih terasa. Sebisa mungkin mengikuti perkembangan jaman dan informasi. Hal ini sangat berguna dalam kehidupan sosial. Tentu maksudnya bukan ghibah atau menggunjing, tapi lebih ke perkembangan teknologi, trend, dan berita terkini. Dengan memahami facebook misalnya, kita dapat mengontrol pergaulan anak-anak atau menyambung tali silaturahmi, cepat mendapat kabar keluarga. Atau paling tidak sebagai orang tua juga mau belajar memahami apa yang sedang dialami putra-putrinya dan berkomunikasi secara dua arah.
- Berlaku adil dan hangat terhadap semua anak
Tanpa sedikitpun bermaksud menggurui, tapi lumrah dan manusiawi bila seseorang lebih memperhatikan orang yang terlihat berbakti dan berkecukupan. Tapi kesenjangan ini akan berdampak buruk bagi hubungan dengan sebagian anak maupun hubungan antar anak-anak kita. Kita tidak tau sampai kapan umur anak kita dan berapa rizki yang akan Alloh curahkan di kemudian hari.
- Mendo’akan
Mohon maaf kalo tulisan ini (IMAD) agak janggal. Ini sebenernya naskah pidato (haiyah..atur-atur ding) pas kopdit Bani Nawawi dimana saya adalah cucu terkecil, jadi le ngaturi Pakdhe-Budhe.
BalasHapus