Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

Jember.... I am comiing....!!!


Assalamualaikum. Mbak ini aku kirim ceritaku waktu ke jember. Mhn maaf bila ada kata2 yg tdk berkenan, atau ceritanya tdk seperti yg dibayangkan. Mhn maaf bila terlalu terus terang, atau terlalu jelek, atau terlalu membosankan. Bisanya hanya seperti itu....
----------------------
Jember.... I am comiing....!!!
Alhamdulillah... tiket sdh di tangan, packing sdh hampir kelar.
Lalala... senangnya hatiku mau bertemu dn berkumpul dg KBH lagi!
Kebersamaan dengan KBH adalah sesuatu yg menyenangkan dan takkan terlupakan. Sesuatu yg ditunggu2 dan diharapkan.
KBH adalah Keluarga Bani Hoedan, keluargaku. Ada ibu dn kakak2ku. Ada keponakan2 dn cucu2. Mereka semua lucu2... :D
Terbayang olehku seandainya bapak Hoedan Pradjasubrata masih ada, insyaAllah akan senang sekali berada di tengah2 kami. Melihat kerukunan dan kekompakan kami dan kesuksesan kami masing2. Ada yang sukses berkarier, ada yang sukses bakulan, ada yang sukses beranak...hihi... piiiss ah, jangan terlalu serius... kita semua punya anak kan? Alhamdulillah berarti sukses punya anak.
Kembali ke acara kumpul2.
Biasanya kami kumpul kalau lebaran. Itu juga susah ngumpulnya. Ada aja yg membuat g bs kumpul semua. Ada yg ke rumah mertua, ada yg punya acara, ada juga yg berhalangan.
Kalau bukan begitu, pas acara nikahan. Yang paling seru dan rame waktu menghadiri pernikahan Afiena, keponakanku dr kakak kedua. Soalnya KBH bisa ngumpul di wisma citra, dlm suasana gembira penuh tawa.
Di luar kebiasaan kali ini KBH yg dipelopori kakak tertua mau bersama2 tour ke jember!
Jarang2 nih kami ke arah timur apalagi bareng2 begini. Sekalinya ke timur pas mantenan salah 1 keponakan. Ichsan, putra bungsu kakak ke 4ku yg mempersunting gadis ponorogo.
Rame, seru dn menyenangkan karena bareng2 naik bis ke sana. Macet krn ada kirab aparat daerah ga mengurangi kegembiraan kami. Allah yg Maha Baik menempatkan bis yg kami tumpangi berada paling depan. Sehingga bisa menikmati pemandangan arak2 kereta kuda dll.
Hei...hei...ceritanya kok jadi ngalor ngidul. Kita mau ngomongin Jember nih...
Ohya perkenalkan dulu ya, tokoh utama dari kisah ini.
Tokoh utamanya tentu saja aku, ningrum, putri ke 10 dari ibunda Srijati Hoedan, sesepuh KBH.
Lalu suamiku, Wijayanto, atau yg biasa kupanggil mas Wit.
Kemudian Sekar, anak pertamaku.
Yudha, anak kedua.
Bagus Seno, anak ke 3, dan
Alya, anak bungsuku.
Nah, sekarang lanjut ya ceritanya....
Akhirnya hari yg dinanti pun tiba. Hari itu hari kamis tgl 5 juli 2012.
Dari rumah, kami naik antonov (our special isuzu phanter), ke stasiun bekasi. Disambung KRL ke Gambir.
Alhamdulillah semuanya lancar barokah. Walau kadang diselingi perdebatan kecil antara anak2.
Sebenarnya kami berusaha seminimal mungkin membawa barang. Ternyata masih banyak juga. 1 kopor max cabin plus 3 ransel...eh masih ditambah lagi bantal dn boneka kesayangan Alya. Jadilah kami rombongan kecil yg penuh bawaan...
Di kereta Sembrani duduk kami terpisah. Aku dn sby (sekar bagus yudha) di seat nmr 2abcd. Mas Wit dn si bungsu Alya di seat 12 ab (kalau ga salah). Makanan dan minuman di kereta enak2 tp juga muahal2... yah... kpn lagi bisa jajan begini? Dinikmati sajalah sambil disyukuri, alhamdulillah Allah paring rezeki, bisa buat beli makanan di kereta....
Sampai di Surabaya matahari sdh terlihat. Cukup lama juga menanti kakakku nomor 9 yg tinggal di surabaya menjemput.
Alhamdulillah ada kakak Yoga yg berbaik hati sampai dibela2in cuti biar bisa menjemput dn menemani kami selama di surabaya. Untuk daerah sini kami blank g ada bayangan kota ini spt apa.
Karena baru bisa masuk hotel jam 14.00, stlah sarapan, kakak Yo mengajak kami berkeliling kota surabaya. Melihat2 jembatan merah (yg g sesuai dg bayanganku... oh.. ternyata begitu saja, g segagah yg dinyanyikan para biduan/nita). Melihat banyak gedung2 tua buatan belanda dan mengunjungi museum kapal selam.
Melihat film ttg TNI AL yng diputar di teater museum membuatku mengantuk.. maaf bukan bermaksud g menghargai yg membelikan tiket, tapi duduk diam di tempat gelap sehabis perjalanan panjang adalah alasan yg bagus utk liyer2.. apalagi sambil diceritani.
Setelah melihat film kami masuk ke dalam kapal selam pasopati 410. Takjub melihat ruang di kapal selam. Torpedonya yang segede gajah, peralatannya yang begitu banyak, ruang tidur dan tempat tidur yg sempit (sptnya msh bagusan tempat tidur di penjara-menurut film2). Kok bisa ya mereka para pejuang itu hidup di tempat seperti ini dan mengoperasikan begitu banyak instrumen dalam waktu yg demikian lama.
Bgmn mereka makan, buang air dan mandi...? salut buat mereka.
Kami mengintip periskop dn melihat mobil2 berlalu lalang melalui kacanya yang kotor. Kami melihat ruang kapten yg kecil mungil cm cukup utk 1 tmpat tidur seukuran sofa, 1 meja tulis kecil dn sebuah lemari kecil yg diletakkan berdesakan. Melihat ruang mesin dan lain2.
Setelah melihat kapal selam (-dan bernarsis ria di dalamnya- tentu saja), kami ke hotel Singgasana. Hotel yg megah dn mewah yg disediakan kakak Yo utk kami.
Kamar kami terletak di bagian belakang -nyaris di pojokan. Kakak Yo yang baik hati mengantarkan makan malam sesuai pesanan. Nasi goreng dan sate ayam. Nyam..nyam..
Esok paginya kembali kakak Yoga mengantarkan sarapan bubur ayam. Karena jatah sarapan dr hotel cuma utk 2 orang. Kalau tambah orang bayar lagi.
Habis sarapan alya berenang. Yg lain nonton tv dan tidur...
Ohya malam harinya ada kabar bhwa bis rombongan dari jogja tdk siap besok paginya spt yg direncanakan. Bisnya kena macet. Diperkirakan baru bisa berangkat jam 4 sore...
Sedianya kami akan nyegat bis di pinggir surabaya. Tp krn perubahan jadwal ini, diputuskn bahwa rombongan tambun dan sby berangkat duluan ke jember dengan vios pd Yo. Wuih mantap deh.. sedan diisi 7 orang... sayangnya Fahrizal putra pakde Yo tdk bisa ikut krn baru saja disunat. Lukanya blm sembuh betul..
Berangkat ke jember habis dhuhur, mampir ke daerah yg terendam lumpur lapindo... subhanallah... luas sekali area yg tertutup lumpur. Luas dan tinggi, tanggul yg menahan lumpurnya. Berapa banyak lumpur yg keluar dari dalam bumi? Berapa luas ruang yg ditinggalkannya? Akankah ruang lowong tersebut terisi sesuatu? Atau akan ambles pd suatu saat? Wallahu a'lam... sungguh kekuasaan Allah tdk tertandingi....
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
Naik ojek kami mendekati arah sumber keluarnya lumpur. Mas Wit dan Bagus bonceng ojek warga setempat yg rumahnya terendam lumpur dn belum mendapatkan ganti rugi. Sekar dan Yudha naik ojek satu lagi. Ojekku dn alya istimewa, karena yg jd sopir kakak Yo. Tukang ojeknya nunggu di pangkalan.
Rasanya jauh sekali mencapai sumber letupan keluarnya lumpur. Akhirnya sampai juga ke satu titik polnya ojek. Utk mendekati sumber semburan, kami harus jalan kaki.
Lumpurnya sudah mengeras. Pecah2 spt tanah kering gersang berwarna kelabu. Ada sebuah aliran lumpur membelah lumpur yg sdh kering. Itu lumpur dr sumber semburan (yg sdh tidak menyembur tp masih terus mengalir) yg dialirkan ke sungai porong. Ada pipa besar yng menggelontorkan air sungai agar lumpur bisa terus mengalir dan tidk mengeras.
Konon kata warga yg mendampingi kami, lumpur tsb mengandung minyak. Air sungai sengaja diambil utk melancarkan aliran lumpur sampai di suatu pangkalan utk diolah, diambil minyaknya. Entah benar entah tidak....
Setelah melihat lumpur, kami melanjutkan perjalanan ke jember. Mampir makan malam di warung kencoer, warung menunya biasa tapi suasananya istimewa. Mejanya besar2 sptnya terbuat dari kayu pohon yg dibelah, mengikuti bentuk pohonnya. Kursinya juga besar2. Di halamannya suasana romantis. Karena berada di antara pohon2 dan lampu yang temaram...
Sampai di jember, di rumah Basith, keponakanku dr kakak ke 4, hari sudah malam. Kak Basith ini adlh sinder di sebuah perusahaan gula. Rumahnya sangat besar. Jendelanya sebesar pintu. Pintunya? Lebih besar lagi!
Kak Basith dan mbak Siti menyambut kami dg hangat. Sehangat minuman yg disuguhkan utk kami.
Banyak kasur dihamparkan di hampir setiap ruangan. Nyenyak betul tidur kami malam itu. Selain capek, kenyang, juga tdk ada suara berisik dari lalu lalangnya kendaraan.  Sunyi sepi dan damai.
Pagi hari barulah kulihat kebesaran rumah kak Basith. Rumah kumpeni zaman doeloe... melihatnya jadi ingat film hitam putih dengan orang belanda tinggi besar berhidung mancung berpakaian serba putih dengan topi bundar dan menghisap cangklong..
Besar rumah besar pula halamannya. Halaman depan, halaman belakang. Luas sekali! Di bagian samping kiri rumah ada garasi. Di belakang garasi ada kamar2 dan dapur. Mungkin tadinya kamar2 pembantu. Hmm.. ada berapa ya pembantunya? Ada kamar yg katanya sejak ditempati kak Basith sampai sekarang tdk pernah dibuka2. Wah... ada apa ya di dalamnya...?
Pagi itu mas Wit dan anak2 jalan2 di sekitar rumah kak basith. Di sana waktu serasa berhenti berputar. Jauh dari lalu lalang kendaraan dan keramaian. Banyak pohon2 besar dan udaranya bersih sejuk.
Setelah mencuci pakaian dan menjemurnya, dan kejatuhan besi jemuran pas dikepala -oleh2 rasa sakitnya masih samar2 terasa sekarang- Aku ngobrol dengan Siti di teras depan. Melihat suasananya, aku kok jadi kangen alm bapak. Mungin wktu kecil dulu pernah diajak ke suatu tempat yg mirip dengan tempat ini.
Kami sarapan soto. Lalu bermalas2an menunggu rombongan dari jogja datang. Kapan ya... kok nggak datang2. Habis berangkatnya juga telat sih...
Akhirnya tengah hari bis rombongan dari jogja datang juga...
Ada ibuku yg lbh sering dipanggil eyanguti, ada kakak2ku dn juga keponakan serta cucu2. Hampir lengkap semua KBH, seandainya saja kakak ke 2 ku dn keluarganya bisa hadir, juga kak Ihsan, adik kak Basith dan istrinya, dan mas Fauzi, suami kakak ke 4 ku karena sdg di makasar.
Absen dulu ya!
Eyanguti, pakde Win dan budhe Ninik (kakak tertuaku dan suaminya), dan putra mereka Imad, bersama istrinya Ita dan kedua putri mereka, Hani dan Aina.
Mbak Warih, kakak ke 4 ku bersama putera dn mantunya, Adien dan Ayu dan puteri kecil mereka, Balqis.
Mas Sapto, kakak ke 7 ku dan keluarganya, mbak Fat, Salma, Opang, Fikri dan Rara.
Mas Hasto, kakak ke 8 ku dan keluarganya, mbak Tri, Faisal dan Chera.
Fyi kakak ke 3, 5 dan 6 ku sdh mendahului kami semua meninggalkan dunia ini.
Jadi tak kurang dari 32 orang trmasuk kami dan kak Basith serta mbak Siti dan kedua putra/i mrk Nazwa dan Farzan, serta kakak Yo berkumpul.
Wah heboh deh...! Suasana jadi riuh dan meriah. Anak2 cepat berbaur. Tubuh2 lelah segera bergelimpangan di kasur2 yg telah disediakan. Tas dan koper berserakan.
Yang jadi favorit dan rela ngantri adlah... kamar mandi. Semua ingin menyegarkan diri dan sholat dhuhur. Setelah semua sholat, menjelang asar kami semua naik bis ke pantai papuma. Terbayang capeknya rombongan jogja karena baru saja sampai. Tapi sepertinya karena gembira rasa capek terlupakan, juga tentang terlambatnya bis yg merusak jadwal semula sepertinya bukan masalah lagi.
Ohya, kakak Yo tidak ikut. Kakak Yo malah pulang ke surabaya karena mau menyiapkan bahan2 MOSnya Rizal.
Jalan menuju pantai kecil, berliku dan naik turun.. wiih.. serem... ngeri bisnya ngguling. Tp alhamdulillah kami semua selamat sampai 7an.
Pantai papuma sungguh indah. Bersih. Banyak kapal nelayan di sana. Di kejauhan ada batu2 berbentuk aneh yg besar2.
Sayangnya udara sangat dingin. Membuat enggan turun ke air. Tapi anak2 sih tetep saja main pasir dan air. -sebagian. De Nazwa, menggigil kedinginan. De Balqis,  memakai pakaian berlapis2, kaos kaki dn tudung kepala. Enak banget meluk de Balqis. Hangat...
Kak Basith dn mbak Siti menyiapkan segala sesuatunya dg baik. Mereka sdh memesan tempat dan ikan bakar + minuman sebelumnya. Jadi kami tidak menunggu terlalu lama sampai waktu makan tiba. Nasi sudah bawa dari rumah.
Alhamdulillah... rasanya nikmat sekali bisa makan bersama2 di pantai. Ibu juga terlihat senang melihat anak cucu bisa berkumpul spt ini. Ya walaupun tdk bisa semua.
Ketika hari mulai gelap, entah dari mana datangnya tiba2 di atas pohon2 besar di sekeliling kami banyak monyet! Hanya terlihat sebagai siluet yg bergerak2. Untungnya mereka tetap di atas dan tidak turun.
Usai acara makan2 dan minum air kelapa langsung dari buahnya, kami pulang. Naik bis lagi. Melalui jalan seram yg tadi lagi...
Sampai rumah kak Basith langsung pada tidur -yg tidur. Kebanyakan malah sdh tidur duluan di bis. Jadi pindah tempat saja.
Aku g bisa tidur. Soalnya jam 12 malam nanti mbak Warih akan pulang duluan ke bandng dg kereta, bersama mas Adin, mb Ayu dn de Balqis. Kalau aku tidur takut ga melihat mereka pergi.
Melihat keluarga bani hoedan berkumpul dan tidur semua -mungkin lbh tepatnya mapan di kasur krn kulihat Ayu msh sms an, kecuali aku, Faisal dan Opang (mereka masih asik nonton tv), ada rasa haru di hati.
Bersyukur krn diberikan keluarga yang baik, yang rukun dan bisa berkumpul bersama.
Saudara2ku itu kufoto selagi mereka tidur. Sayang kamera dr hpku ga ada blitznya, jd gambarnya kebanyakan gelap.
"Bulik iseng banget sih?" Tiba2 terdengar suara Ayu.
Hehe.. ketahuan deh...
"Tenang Yu, ini ga diupload kok..."
Jadi... foto2 tidur msh aman kok...
Pukul setengah sebelas mas Hasto terbangun dan kaget melihat jam dinding yg kecepetan hampir sejam menunjuk pukul 23.30. Langsung dibangunkannya mbak Warih.
Cuma aku, mbak Nik, Siti dan Basith yg bangun. Eyanguti bangun sebentar tapi terus tidur lagi waktu melihat mbak warih msh berkemas.
Rombongan mba Warih diantar kak Basith ke stasiun. Setelah mrk pergi mbak Nik tidur lagi. Aku berkemas, menyetrika pakaian yg msh anyep. Siti sibuk di dapur.
Jam 01.30 aku pamit tidur. Siti masih sibuk di dapur. Entah sampai jam berapa. Kak Basith pulang ja berapa aku juga ga tau...
Aku bangun jam 4. Langsung mandi mumpung belum antri. Lalu satu2 yg lain juga bangun dan bersiap utk pulang...
Ah... rasanya cepat sekali sudah harus pulang lagi. Kami ikut rombongan bis sampai di surabaya. Nanti di surabaya dijemput lagi oleh kakak Yo. Malam harinya kami akan kembali ke jakarta dengan kereta argoanggrek dr st ps turi.
Alhamdulillah... walau cuma sebentar, kami bisa bertemu dan berkumpul bersama. Masih kangen sih... masih blm sempat ngobrol dengan leluasa.. tapi harus disyukuri dan dinikmati..
Mudah2an suatu saat nanti bisa bertemu dan berkumpul lagi dalam suasana yg menyenangkan...
Begitulah kisahku. Sudah macet nih ga bisa nulis lebih panjang lagi. Sudah kebayang pada menguap membaca ceritaku. Soalnya kepanjangan dan membosankan.....
Terimakasih buat redaksi KBH, mhn maaf bila gaya tulisan dan gaya bahasa jauh dari harapan...
Bekasi, 23 juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame