Eyang Uyut Sampun Sepuh
Assalamu’alaikuw Wr Wb
Bismillah..Syahadat..Sholawat.
Maturnuwun atas kesempatan yang diberikan, sore ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang kasepuhan dan marilah kita awali dengan Surat Yasin ayat 68:
Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (yasin 68) Ayat ini sebenernya memancing kita untuk memikirkan apa arti panjang umur itu. Ketika Alloh SWT mengkaruniai kita usia yang panjang, maka kita akan dikembalikan kepada kejadian awal. Maksudnya seperti ketika masih kecil. Secara fisik, kemampuan panca indra mulai menurun, otot-otot mulai kendor, kulit berkeriput, dan rambut mulai beruban. Ini mudah terdeteksi dan mudah pula memanipulasinya. Rambur bisa disemir, perawatan spa-salon-bahkan operasi plastik bisa membuat mbah Titik Puspa terlihat cantik (mungkin ya memang cantik).
Masalahnya kembali ke kejadian asal ini juga termasuk masalah mental alias psikis. Mungkin yang saat ini memiliki balita lebih mudah merasakan, dan yang ’pernah punya balita’ bisa mengingat-ingat. Ada balita yang pinginnya ’sing mau’. Ada balita yang gampang ngambek. Ada balita yang secara tegas suka memerintah. Kebanyakan balita juga belum bisa mengungkapkan perasaan sakit dan sedih, jadi dia rewel dan menangis. (mohon koreksinya kalo memang ada balita penurut dan selalu ceria).
Pengembalian kondisi psikis orang tua menjadi seperti anak-anak inilah yang relatif sulit disadari, dan paling sulit dimanipulasi. Seperti anak kecil, perasaannya cenderung sensi dan mudah galau. Apalagi yang mengalami post power syndrome plus emptiness syndrome. Sekedar tambahan, post power syndrome banyak dialami pensiunan pegawai formal terutama yang pernah memiliki posisi cukup penting. Sedangkan emptiness syndrome adalah orang tua yang cenderung kesepian ketika semua anaknya beranjak dewasa dan meninggalkan rumah.
Bagaimana dengan kondisi Ibu/Yangti/Eyang Uyut saat ini? (saya akan menggunakan Eyang Uyut)
Sebagian besar umat Muslim mengacu pada usia Nabi Muhammad SAW saat wafat (63 tahun) standar usia manusia ummat Rasulullah. Maksudnya, kalo lebih berarti bonus, termasuk dipanjangkan usianya. Jadi, kalau Yangti saat ini berusia 83 tahun, berarti bonusnya sudah 20 tahun dan insyaAlloh stock bonus-nya masih banyak.
Hal pertama yang perlu kita (anak-cucu dan lingkungan) Eyang Uyut sadari adalah Eyang Uyut Sampu Sepuh. Beliau bukan lagi Eyang-nya Imad 33 tahun yang lalu (lha wong le dadi Eyang sudah 33 tahun je), tempat bermanja-manja, merengek, mengadukan sesuatu, atau bahkan meminta sesuatu. Cukuplah Eyang kita minta do’a-nya. Itu dulu. Kita harus sadar bahwa kita sedang menghadapi Eyang yang sudah sepuh. Caranya?
Dalam cabang ilmu psikologi yang disebut gerontologi (ilmu tentang lanjut usia, juga ditemukan dalam kedokteran dan sosial), disebutkan bahwa menua merupakan proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994). Proses ini sebenarnya berlanjut secara alamiah, dimulai sejak lahir dan umum dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho, 1992). Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu :
1. Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia
2. Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif
3. Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila :
a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain),
b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
4. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dsb.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut:
1. Penurunan Kondisi Fisik
2. Perubahan Aspek Psikososial
3. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
4. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Berdasarkan teori-teori tersebut, maka sikap kita pada Eyang sebaiknya:
- Eyang Uyut sebaiknya tetap aktif secara fisik, tapi kita arahkan ke pekerjaan-pekerjaan ringan dan sesuai kehendak beliau saja. Bila tidak beaktivitas fisik sama sekali kurang tepat dan akan terlalu banyak waktu untuk melamun. Tapi terlalu berat dalam aktivitas fisik, apalagi yang ”terpaksa”, justru akan memperberat kondisi psikis. Seperti apa sih pekerjaan ringan yang menyenangkan buat Eyang? Ternyata Eyang Uyut pernah ngendikan bahwa pekerjaan paling berat itu momong, jadi marilah kita minimalkan. Eyang Uyut ternyata juga senang kebersihan dan memasak, jadi marilah kita menemani Eyang bersih-bersih rumah, belanja, dan memasak agar pekerjaan yang menyenangkan ini tidak terlalu berat untuk beliau.
- Alhamdulillah Eyang Uyut sebenarnya masih aktif dalam kehidupan sosial, terutama untuk pengajian, menghadiri walimahan, reunian, maupun kegiatan sosial di kampung. Perlu kita sadari juga bahwa Eyang Uyut memiliki kesempatan yang semakin terbatas untuk mengembangkan aspek psikososial. Kondisi kesehatan (fisik dan psikis), jumlah teman reuni sudah banyak yang tutup usia, juga fasilitas untuk Eyang bersosial. Marilah kita (terutama saya) berbakti dengan menjaga kesehatan Eyang Uyut dan memfasilitasi kehidupan sosial beliau. Kita ajak keluarga kita untuk sering silaturahmi ke Selokraman.
- Last but not least, marilah kita do’akan Eyang Uyut agar selalu sehat lahir-batin dan dunia-akhirat. Dalam teori tidak ada hal instant (kenyataannya juga begitu). Tidak ada istilah ‘nanti kalau sudah besar juga ngerti sendiri’. Kita anak-cucu Eyang Uyut yang sudah dewasa harus bisa memberi teladan pentingnya berbakti pada Eyang Uyut, bersilaturahmi, dan peka terhadap lingkungan sosial.
Oleh : A. Imadduddin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame