Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

DISIPLINNYA AYAHKU


DISIPLINNYA AYAHKU
(Teladan 2)

       Dale Carnegie menulis dalam salah satu bukunya bahwa seseorang itu setidak-tidaknya mempunyai satu kelebihan dibandingkan orang lain sehingga pantas untuk dihargai. Beranjak dari sini, aku teringat akan almarhum ayahku, yang tidak hanya dianugerahi satu kelebihan oleh Allah dibanding orang lain, tetapi banyak kelebihan, walapun tentu ada juga kekurangannya. Dari sekian banyak kelebihan itu, salah satu yang sangat berkesan bagiku adalah kedisiplinan ayah dalam mentaati peraturan  lalu lintas dan aturan yang terkait dengan itu (kelebihan yang lain, aku mohon saudara-saudaraku yang menceritakannya) . Beberapa contoh kedisiplinan ayah:

  • Suatu ketika ada seorang tetangga ingin pinjam motor ayah. Ketika ditanya apakah dia punya SIM, tetangga itu menyatakan belum punya. Ayahpun tidak memperkenankan motornya dikendarai oleh orang yang belum punya SIM. Tetangga itu tampak mendongkol, tetapi ayah tetap tidak mengijinkan motornya dipinjam

  • Di saat yang lain, dalam perjalanan Bandung-Jogja, di daerah Batang, mobil ayah yang dikendarai oleh salah satu saudara, terkena tilang karena lampu di plat nomer belakang tidak menyala di malam hari (dalam surat tilang tertulis lampu rem mati). Sebetulnya, bisa saja saat itu diurus secara damai dengan membayar sekian rupiah. Tetapi ayahku tetap memilih sidang di hari yang telah ditentukan di kota itu, walaupun memerlukan biaya dan waktu yang lebih banyak dibanding diurus secara damai.

  • Ayah tidak pernah mau melanggar lampu lalu-lintas. Saat merah harus berhenti dan baru jalan kalau sudah hijau.

Mengenang begitu disiplinnya beliau dalam berlalu-lintas, membuat aku malu jika tidak bisa meneladaninya. Aku malu terhadap diriku sendiri. Malu terhadap ayah-ibuku yang telah mendidik dan membiayaiku sehingga aku bisa membaca dan tahu aturan lalu-lintas. Apalagi jika aku bandingkan dengan ketertiban lalu lintas di negeri kecil, tetangga kita. Mengapa meraka bisa begitu disiplin, sedangkan kita warga dari sebuah negara yang besar ini justru mengabaikannya? Maka aku  berusaha (mudah-mudahan Allah mengijinkan):

                    
  • Ketika
  • Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku harus mengenakan helm, walaupun untuk tujuan yang dekat di sekitar tempat tinggalku. Alasan hanya jarak dekat saja kok harus pakai helm, aku bantah sendiri, mengapa jarak dekat saja harus pakai motor.

  • Ketika lampu merah menyala, aku harus berhenti. Biarlah orang-orang di sekitarku tetap melaju dengan alasan tidak ada polisi. Bagiku melanggar lampu merah, disamping suatu kesalahan, juga menganiaya orang lain yang seharusnya berhak dan bisa terus berjalan, tetapi terhalang karena hak jalannya aku langgar.

  • Ketika aku berkendara harus membawa SIM yang sesuai beserta STNK-nya

  • Aku tidak mengijinkan anak-anakku mengendarai kendaraan bermotor sendiri sebelum mereka mempunyai SIM yang sesuai.

Saudaraku, inilah ceritaku…, apa ceritamu?


Dugan SY, Oktober 2012








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame