RASA SYUKUR
Assalamualaikum warohmatullohi wa barokaatuh.tJumpa lagi di buletin kbh.
Alhamdulillah... redaksi masih mau menerbitkan buletin kbh, alhamdulillah kita masih boleh menulis apa saja, insyaAllah dimuat original, tidak ada editan.
Ini kesempatan untuk kita berkarya dan menyambung tali silaturrahim lewat tulisan.
Karena asli tidak ada editan, rasanya seperti ketemu dengan semua kbh yang menulisnya. Kalau membaca tulisan dari kbh seperti sedang mendengar penulisnya berbicara.
Saya senang menulis. Biarpun masih tergantung suasana hati. Belum bisa jadi penulis profesional. Alhamdulillah biar cuma sedikit tulisan saya ada yang pernah dimuat di media cetak. Tapi tidak terhitung berapa yang tidak selesai, selesai tapi tidak dikirim ke media, atau selesai dan dikirim, tapi ditolak.
Karena itu saya ingin mengucapkan terimakasih kepada redaksi buletin kbh. Semua tulisan yang saya kirim dimuat di buletin, biarpun 'semua' itu ya baru 2 kali. 2 kali kirim dan 2 kali dimuat, terbitnya kan juga baru 2 kali hehe... Ini tulisan yang ke 3, semoga dimuat juga.
Kali ini saya ingin bercerita tentang rasa syukur saya kepada Allah.
Allah telah memberikan nikmatNya kepada saya. Banyak sekali sampai tidak mampu menghitungnya. Beruntunglah saya tidak harus menghitungnya. Allah 'hanya' memerintahkan untuk mensyukurinya.
"Barangsiapa bersyukur kpd Allah, Allah akan menambah nikmatnya. Barangsiapa kufur (tdk mau bersyukur) sesungguhnya siksa Allah itu menyakitkan."
Ibunda Sriati Hoedan, atau sekarang lebih sering disebut YangTi atau Eyang Uti, sering menasehati saya supaya saya bersyukur kepada Allah. Banyak2 nasehat Yanguti, dari mbak Nik dan mas Win dan kakak-kakak yang lain, dan juga nasehat2 yang saya dapat dari mengaji membuat saya merasa,
"Ewodene koyo ngene, aku ki kudu ngrumangsani nek sakjane awakku ki klebu wong sing bejo. Banget le bejo."
Bener nggak ya bahasanya? Mohon maaf, ngakunya orang jawa tapi bahasa jawanya payah...
Maksudnya mau bilang "Walaupun hanya seperti ini saya harus merasa/sadar diri bahwa sebenarnya saya termasuk orang yang beruntung. Sangat beruntung."
Bagaimana tdk beruntung?
Saya lahir dan dibesarkan oleh Ibu dan Bapak yang baik, yang taat menjalankan perintah Allah, yang membesarkan saya dengan limpahan kasih sayang.
Alhamdulillah saya anak bungsu, jadi punya banyak kakak yg menyayangi saya. (Hayo..ngaku aja kalau sayang.. :D hehe PD abis.. )
Alhamdulillah sekarang saya punya suami dan anak-anak yang baik. Yang bersama mereka hidup saya terasa lengkap. Empat kali sesar, dan sekali pengangkatan rahim, dan saya masih hidup, sehat dan dikelilingi orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya. Saya juga tidak kekurangan apa-apa. Alhamdulillahi rabbil 'alamiin..
Belum lama pas pengajian ibu-ibu, gurunya memberi nasehat, salah satu dari cara bersyukur kepada Allah adalah dengan cara menceritakan nikmat yang telah Allah berikan.
Mas Win pd saat acara wongsomirejan entah tahun kpn, mgkn skitar 2004an jg pernah memberi nasehat spt itu.
Hanya saja kalau kita menceritakan nikmat yg Allah berikan, sering takut dikira sombong. Sepertinya memang cuma beda tipis ya? Bedanya di niat dan cara menyampaikannya.
Mbah Darus pernah bilang, ngetokke dengan ngetok2ke itu beda. Bahasa indonesianya yg tepat gimana ya?
Yah... pokoknya pada intinya bersyukur kepada Allah dengan cara mengucap syukur "alhamdulillah", menceritakan kenikmatan yg tlh Allah berikan, dan mewujudkan dalam perbuatan. Caranya ya lbh baik dn tertib dlm beribadah, memanfaatkan semua fasilitas yg tlh diberikan Allah sebaik2nya dn lebih baik dalam hubungannya dengan sesama makhluk Allah.
Segini aja ya tulisannya. Kalau banyak2 takut pd bosan bacanya...
Maturnuwun nggih, terimakasih, haturnuhun, arigato gozaimasu, thankyou, alhamdulillahi jaza kumullahu khoiro sudah mau membaca tulisanku.
Wassalamualaikum wr wb.
Ningrum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame