Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

DESA MAWA CARA , NEGARA MAWA TATA


DESA MAWA CARA , NEGARA MAWA TATA
Ungkapan dalam Bahasa Jawa sebagai judul tulisan ini, kurang lebih berarti bahwa tiap-tiap daerah itu mempunyai ragam budaya masing-masing, termasuk tentu saja juga mempunyai aturan atau hukum sendiri-sendiri. Demikian yang ingin Pdw ungkapkan dalam tulisan ini mengenai ragam budaya masyarakat Sulawesi Selatan, setelah Pdw dan Bdn “nderek-ke” Yangti silaturahim ke Om Fauzi di Makassar tanggal 5 s/d 7 Oktober 2012.
Logat Bahasa
Saat antri untuk chek-in di Bandara Adisucipto Yogya guna tujuan penerbangan menuju Indonesia Timur (pesawat yang kami tumpangi tujuan akhir Papua dan Makassar adalah transit kedua setelah Juanda Surabaya), “aura” budaya Indonesia Timur mulai terasa. Intonasi dalam penggunaan bahasa, mulai sedikit berbeda dengan “style” Yogya.  Suku kata terakhir dari sebuah rangkaian kalimat, disuarakan dengan nada meninggi. Tentu ini agak berbeda dengan gaya Yogya yang suku kata terakhir hampir selalu diucapkan dengan nada menurun.
Juga pemanfaatan bagasi gratis (sesuai tiket) bagi seorang penumpang, rupanya banyak dimanfaatkan secara optimal. Saat ngobrol dengan sesama penumpang yang tujuan akhirnya Jayapura, Pdw tahu bahwa mereka memanfaatkan fasilitas bagasi gratis ini, mengingat bila harus me-maketkan barang dengan tujuan Papua adalah sangat mahal dan waktu perjalanan paket tersebut kadang susah di-prediksi. Sementara harga jual, hampir semua barang perdagangan di Papua, jauh di atas harga beli di Jawa (Yogya). Maka bila bisa membawa barang sebanyak-banyaknya dan di bawa sendiri dengan tanpa biaya, mengapa tidak ?.
Kembali masalah logat bahasa, gaya pengucapan kata (walau menggunakan Bahasa Indonesia) akan lebih terasa berbeda (dengan orang Yogya) ketika kita tiba di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar. Penyedia jasa angkutan dari bandara (taksi) akan menawarkan jasa taksinya dengan bahasa yang meninggi dan dengan ungkapan kata yang sedikit keras (untuk ukuran bahasa Yogya). Juga yang agak berbeda dengan bandara-bandara lain (sepengetahuan Pdw), penyedia jasa angkutan untuk keluar dari Bandara Hasanudin Makassar ini, sudah membawa daftar tarif untuk tujuan titik tertentu di sekitar kota Makassar. Tarif antara perusahaan yang satu dengan lainnya relatif sama, mungkin lantaran banyaknya persaingan di situ.
Secara umum budaya antri di Indonesia memang belum setertib negara tetangga kita, katakanlah Singapura. Kebiasaan “ndresel” masih banyak dijumpai, dan bahkan kadang dilakukan oleh orang “berdasi”. Budaya yang memalukan ini, terasa lebih banyak dijumpai untuk rute penerbangan menuju Indonesia Timur. Mengapa ? Mungkin Om Fauzi bisa menjawab.
Di bandara, kami dijemput Om Fauzi, Bulik Warih dan Bude Bir (kakaknya Om Fauzi) menggunakan Inova diesel matic. Persinggahan kami yang pertama adalah di rumah Bude Bir di Perumahan Dosen Universitas Hasanuddin, yang jaraknya tidak begitu jauh dari bandara.
Lalu Lintas Kota Makassar
Jalan yang mulus dengan marka jalan yang jelas serta penunjuk arah yang mencolok, kita dapati selama masih ada dalam komplek Bandara. Namun begitu keluar dari komplek bandara, yang kita dapati antara lain adalah jumlah penunjuk arah jalan yang minim, marka jalan yang tidak jelas, kualitas jalan yang , maaf, berbeda dengan provinsi DIY. Rasanya diperlukan pengemudi yang terampil, tahu jalan dan sedikit “berani” dalam berlalu lintas di kota Makassar.
Jalan relatif bagus, nampaknya hanya di dapati di jalan protokol dalam kota. Sedikit masuk ke jalan kelas II, rata-rata kualitasnya sudah jauh berbeda. Apalagi jalan menuju luar kota, masih perlu pembenahan yang serius. Saat rombongan kami diajak piknik melihat air terjun di Kabupaten Gowa, kami menyaksikan sendiri kondisi jalan yang jauh dari mulus. Bahkan jalan untuk menuju taman wisata air terjun (yang sangat indah dan alami), rasanya tidak cocok untuk mobil sedan.
Tidak kalah , maaf, kurang tertibnya, adalah pengguna jalan itu sendiri. Pemakaian helm bagi pengguna kendaraan motor roda dua belum maksimal. Motong jalan juga sering kita dapati dengan seenaknya. Ketaatan pada rambu lalu lintas (termasuk traffic light) belum maksimal.
Makanan
Pepatah yang mengatakan bahwa kalau orang gemuk, pikirannya tidak akan jauh dari soal makanan, tidaklah terlalu salah. Maka saat sampai di Makassar, pertanyaan pertama yang kami ajukan kepada Om Fauzi adalah apa makanan khas Makassar. Jawaban Om Fauzi makanan yang khas antara lain coto makassar, masakan kepala ikan, dan juga otak-otak. Masakan kepala ikan dan otak-otak sudah ditulis oleh Bdn di depan.
Beberapa kedai yang menyediakan menu coto makassar, menulis di spanduknya :”Coto Makassar dengan menu spesial jerohan (ati, babat dsbnya). Yang bukan jerohan ?  otak dan daging”. Mengingat postur tubuh dan usia, maka rombongan dari Yogya memutuskan untuk tidak mengkonsumsi coto makassar. Hal ini juga terkait dengan peristiwanya Yu Hazim beberapa waktu sebelumnya.
Saat itu Wiwik (anaknya Yu Hazim) masih bertugas di Makassar. Pak Gafur (suaminya Yu Hazim) mendapat tugas ke Makassar. Maka Yu Hazim dan Tifa (anaknya Wiwik), memutuskan untuk ikut ke Makassar, sekalian silaturahim ke Om Fauzi. Setibanya di sana, oleh panitia penyelenggara, Pak Gafur dijemput dan “dimuliakan” dengan diajak makan siang di restoran coto makassar. Entah karena memang sudah jam-nya makan siang, atau karena selera yang cocok, maka tamu dari Yogya ini sangat menikmati coto makassar. Apa yang terjadi ?. Pak Gafur malamnya harus dibawa ke RS karena kadar kolesterolnya meningkat, dan harus opname beberapa hari disitu. Tugas pokok ke Makassar, tidak bisa dilaksanakan karena malah harus bedrest di RS. Nampaknya gara-gara terlalu “semangat” makan coto makassar.
Oleh Om Fauzi, kami diinapkan di hotel berbintang di dalam kota Makassar, sehingga untuk makan pagi, kami menikmati fasilitas hidangan hotel. Makan sore/malam “selalu” kami nikmati di Ulu Juku Resto, dan menu favoritenya adalah gulai kepala ikan.
Alhamdulillah kami sempat dianterin Om Fauzi untuk silaturahim ke rumah Drh Subroto yang asli Jagalan Kotagede, murid Yangti di SMPN IX dan baru saja ditinggal oleh istrinya untuk menghadap Alloh SWT. Istri Mas Broto itu adalah Nok Am cucunya Pakde Sangidu (keluarga Tresna Wandawa) Gumuk Purbayan Kotagede. Disitu kami juga ketemu adiknya Mas Broto, Ir Zusriyatno teman SMP Pdw dan di Pemuda Muhammadiyah Kotagede sekitar tahun 1975, serta kami pernah di anter Dik Basith silaturahim ke rumahnya ketika masih tinggal di Jember.
Penutup
  1. Alhamdulillah dalam usia yang 83 th, Yangti masih kuat dan semangat silaturahim ke Makassar.
  2. Terima kasih Om Fauzi, Bulik Warih dan Bude Bir yang telah menyambut kami dengan luar biasa.
Gedongan awal Desember 2012
Pdw  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame