Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

MENUJU PROVINSI


MENUJU PROVINSI

PORSENITAS (Pekan Olahraga Seni dan Kreativitas) khususnya bagi guru dan siswa Taman Kanak-kanak sepertinya setiap tahun diadakan. Mulai dari tingkat Gugus sampai ke tingkat Provinsi bahkan Nasional, tapi mungkin karena keterbatasan tenaga, dana dll, (yang penulis ketahui kegiatan tsb khususnya di tingkat Gugus diadakan sesuai kemampuan masing-masing Gugus. Mungkin ada juga lho Gugus yang tidak mengadakan PORSENITAS. Semisal di Gugus kami, namanya Gugus 2, bila PORSENITAS tiba kadang diadakan lomba untuk guru dan siswa, kadang hanya untuk siswa, dan kadang hanya untuk gurunya. Paling sering hanya untuk siswa. Nah tahun 2011 gugus kami mengadakan lomba hanya untuk guru, saat itu ada 4 macam lomba, yaitu : cipta dan baca puisi, cipta dan baca cerita, APE (Alat Pembelajaran Edukatif), dan Administrasi sekolah. Pada saat itu gugus 2 terdiri dari 8 TK (Tanam Kanak-kanak), tiap TK diwajibkan mengikuti semua lomba. Bahkan untuk 1 macam lomba boleh diikuti oleh lebih dari 1 guru dari tiap-tiap TK. Berhubung TK tempatku mengajar gurunya ada 5 maka tugaspun dibagi. Saat itu penulis mengikuti 2 lomba (Wah gayaaa) eit bukan gaya ini terpaksa. Ceritanya begini………….
Lima guru yang ada, saat itu ibu Kepala Sekolah baru Umroh, 2 guru lainnya sedang cuti melahirkan pada waktu yang nyaris bersamaan. Beberapa hari jelang lomba, Alhamdulillah….teman yang satu sudah aktif mengajar, karena masa cutinya habis. Akhirnya teman tersebut kebagian lomba bagian APE, teman yang lain bagian Administrasi kelas, sedangkan penulis bagian puisi dan cerita. Disamping konsentrasi pada puisi dan cerita, penulis juga membantu APE (karena kami membuat 2 APE) Wah kerja borong nih.
Tibalah saatnya perlombaan di mulai, rasanya betul-betul berlomba saat itu. Semua hasil lomba dikumpulkan. Tim juri siap di posnya masing-masing. Semua peserta nyaris 99% lebih, menjadi kaget, tegang, bingung, pasrah dll (gado-gado pokoknya), karena yang tadinya hanya dikira mengumpulkan hasil lomba saja, ternyata harus di presentasikan. Begitulah permintaan tim juri. Akhirnya satu per satu kami dipanggil sesuai posnya masing-masing berdasarkan nomor undian. Yang ikut puisi ternyata tidak hanya 8 orang (sesuai jumlah TK yang ada), begitu juga dengan cerita, dan APE, karena tiap-tiap TK ada yang mengikuti lebih dari 1utusan, hal itu memang dibolehkan bahkan dianjurkan. Kecuali Administrasi sekolah, cukup dengan mengumpulkan buku-bukunya saja.
Hari itu juga hasil lomba diumumkan, jujur sekolah penulis betul-betul KO untuk lomba administrasi. Kami terpaksa tidak ngumpulin, dan satu-satunya sekolah yang tidak mengumpulkan uhuk…uhuk….. dan semuapun tahu, otomatis kamipun dibuat malu dll, apalagi juri untuk lomba tsb ibu Pengawas TK. Teman yang diberi amanat tak sanggup, entah kenapa? Padahal kami sudah mengatakan “kumpulkan saja apa adanya”. Yang jelas kalaupun teman ngumpulin, Insya Alloh masih banyak juga yang kosong, karena ya itu tadi ada cuti masal he…he…., tapi daripada nggak ngumpulin, jelas malu-maluin dong.
Lomba administrasi jelas KO, lanjut ke APE sekolah kamipun belum beruntung. Cipta dan baca puisi pun diumumkan mulai dari juara 3,2 dan 1, Alhamdulillah…puisi juara 1 woou senangnya bukan main, bayangkan saja kami sudah malu habis-habisan karena KO. Nggak ngira deh mau dapat juara ,apalagi juara 1. Oya setiap juri yang mengumumkan kejuaraan, beliau memberikan uraiannya, bahkan ada yang memberikan contoh, sehingga menambah panjang rasa dag dig dug saat menunggu kejuaraan. Misal uraian tentang puisi. Puisi untuk anak yang baik adalah bahasanya sederhana, mudah dimengerti anak dll. Membaca puisi yang baik yaitu bla bla bla dll. Lanjut pengumuman yang terakhir yaitu cipta dan baca cerita., Uraian pada lomba cerita cukup lumayan panjang, skor nilaipun ikut dibacakan. Dimulai dari juara 3,2 dan 1, Saat itu nilai untuk juara 2 = 450, juara 3 = 440 terpaut 10, dan juara 1 mendapat nilai yang cukup tinggi yaitu 500, (komentar juri saat itu) mengapa nilainya cukup tinggi? 1. karena kebanyakan hampir semua peserta mengambil cerita dengan judul atau tema  binatang, yang juara 1 ini tidak, 2. pencerita menguasai panggung, ia kesana kemari jadi tidak hanya diam di tempat, 3. alur ceritanya jelas, 4. tokoh-tokoh dan peranannya jelas, 5. diawali dan diakhiri dengan ending yang sangat bagus, dan Insya Alloh andai cerita tsb betul-betul karangannya sendiri otomatis lebih menguasai/menjiwai. Pokoknya untuk yang juara 1 ini betul-betul bagus ( kata juri lho…saat itu) dan Alhamdulillah… namaku pun disebut, Ya Allah…aku juara 1. Rasa senangpun bertambah, seolah kamipun dilupakan pada hal KO administrasi he…he…
Tahun itu juga 2011 PORSENITAS diadakan di tingkat Kabupaten, tapi penulis tidak ikut, karena dari berbagai cabang lomba dan orang-orang yang dipilih oleh ketua IGTK (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak) saat itu tidak termasuk aku. Anggota IGTK ada sekitar 250an. Untuk lomba cerita, kalau tidak salah terpilih temanku yang kemarin di gugus juara 2, karena walaupun beliau juara 2 tapi beliau tahun sebelumnya pernah juara di tingkat apa, (maaf aku lupa). Semantara itu, aku hanya kebetulan aja kemarin juara 1 dan bisa mengalahkan beliau yang sudah juara sebelumnya, beliau Kepala Sekolah juga ketua gugus 2. Tentulah pengalaman dll sudah banyak. Aku masih pemula, masih anak bawang.
Nah di tahun ini, 2012, di saat PORSENITAS mengadakan lomba untuk guru dan siswa di tingkat Kecamatan, barulah dari gugus menunjuk aku untuk mewakilinya dalam lomba cerita. Saat aku terpilih, rasanya dag dig dug, masa aku harus lomba tingkat Kecamatan? Padahal pernah menang di guguspun sudah setahun yang lalu, itupun cerita bebas, dan aku memilih cerita tanpa alat peraga. Nah sekarang aku harus mengikuti lomba cerita dengan alat peraga (karena memang itu yang dilombakan). Sampai rumah aku mulai berpikir apa saja yang harus dipersiapakan. Bukan ceritanya, tapi alat peraganya. Alhamdulillah punya banyak teman di TPA, mereka antusias membantu saat aku membutuhkan beberapa potongan bambu dll, sebagai bahan membuat alat peraga.
Woouu rasanya hari cepat banget berlalu, lombapun dimulai. Di tingkat Kecamatan hanya ada 7 peserta, karena hanya ada 7 gugus seKecamatan Banguntapan. Beberapa hari kemudian saat pertemuan IGTK kejuaraan 1, 2, dan 3 diumumkan, yang juara 1 maju ke tingkat Kabupaten. Alhamdulillah aku juara 1, tapi rasanya senang campur stres he..he…lha bayangin aja aku harus berlomba lagi, rasanya dag dig dug yang kemarin belum sembuh ee harus maju lagi, sudah gitu dari gugus 2, baik guru maupun siswanya nggak ada yang maju ke tingkat Kabupaten. Mereka juara tapi bukan juara 1.  Padahal aku berharap ada yang juara 1, jadi bisa untuk teman di Kabupaten dll.
Di tingkat Kabupaten, rasanya seperti asing, nggak ada teman. Teman dari gugus lain banyak tapi aku belum kenal, lagian mereka semua sibuk dengan lombanya masing-masing . SeKabupaten Bantul ada 17 kecamatan, maka ada 17 peserta “Wah sainganku tambah banyak, mereka orang-orang jago cerita yang diutus dari  Kecamatannya masing-masing” pikirku dalam hati. Saat itu nggak ada pikiran untuk juara, pokoknya berusaha tampil sebagus-bagusnya. Kejuaraan diumumkan saat itu juga, tapi aku trus pulang. Dalam perjalanan aku di SMS peserta lomba dari kecamatan Kasihan. “ bu kamu juara 2 maju tingkat Provinsi, aku nggak juara je” Alhamdulillah ternyata aku juara 2, yang juara 1, 2, dan 3 maju tingkat Provinsi. Ya Alloh….lagi-lagi aku harus berlomba, karena lomba otomatis mempersiapkan diri, ya fisik dan mental. Sampai yang mau flu jadi nggak jadi, akupun sampai lupa kalau fisikku tak senormal mereka.
Di tingkat Provinsi ada 15 peserta, karena se DIY ada 4 Kabupaten dan 1 Kotamadya. Woouu….asyik deh, konsumsinya uenak tenan, sudah gitu tanda tangan terus dan tiap tanda tangan dikasih amplop yang ada isinya he…he…, e bisa ada di tingkat Provinsi, rasanya tambah PD aja lho, bisa sampai di tingkat tertinggi, karena lomba kali ini nggak sampai ke tingkat Nasional (kata teman yang juara 1, yaitu Bapak Kepala Sekolah dari Gunung Kidul). Di tingkat ini, kami sesama peserta lebih akrab, saling kenal, belajar dll. Juri disini juga nggak mau kalah dengan juri-juri di TV seperti Indonesia mencari bakat. Semua peserta dikomentari, wah mental kami betul-betul diuji. Alhamdulillah aku belum juara, mereka memang pintar, alat peraganyapun bagus. Bisa di bilang akulah alat peraga yang paling minim.
Oya ceritaku waktu lomba di gugus judulnya Ajeng jadi penulis baru (dulu pernah dimuat di majalah anak Taman Melati), di Kecamatan dan di Kabupaten judulnya Pasukan bergajah, dan di Provinsi judulnya Ulah si Nando. Semua karangan sendiri, khusus pasukan bergajah tentunya mengacu pada Alquran surat al fiil, lalu di kemas sehingga asyik untuk di dongengkan. Mau dengar dongengku??? He..he… (kata SULE) wani piro???

By guru tk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame