Halaman

Kamis, 28 Februari 2013

MANAJEMEN BISNIS LANGITAN


MANAJEMEN BISNIS LANGITAN
       Menjelang tanggal 10 Muharam yang lalu, Mas Pramono Galduwur sowan Eyang Uti di Selokraman. Waktu itu Mas Pram bercerita bahwa baru saja Dik Ita (istrinya almarhum Dr Teguh) baru saja mengikuti seminar dengan judul Manajemen Bisnis Langitan. Secara ringkas di sebutkan bahwa MANAJEMEN BISNIS LANGITAN adalah :
  1. Aktivitas di awali dengan wudhu
  2. Baca Al Quran tiap hari
  3. Dhuha rutin
  4. Tahajud
    • Sebelum tidur minum air putih 3 gelas
  1. Shodaqoh sepagi mungkin (sebelum jam 9 pagi)
  2. Memaafkan kesalahan orang lain yang pernah menyakiti kita
  3. Restu sepasang bidadari (kedua Ibu : Kandung dan Mertua)
  4. Pikirkan orang lain.
  5. Aktion
Berpasangan lebih di lapangkan.
       Dengan pertimbangan bahwa anggota KBH banyak yang punya usaha bisnis, maka Eyang Uti menghendaki agar Manajemen Bisnis Langitan dari Mas Pramono di masukkan ke Buletin KBH. Silakan menafsirkan sendiri poin-poin dari Manajemen Bisnis Langitan tersebut diatas.
       Redaksi sedikit komentar tentang poin restu sepasang bidadari (Ibu kandung dan Ibu mertua). Restu Ibu sangat di butuhkan agar Alloh ridlo terhadap apa saja yang kita lakukan termasuk bisnis. Namun sepasang bidadari di sini sedikit berbeda dengan sepasang bidadari yang pernah di sampaikan oleh BdN (resepnya Mas Ippho). Menurut Mas Ippho, sepasang bidadari adalah : yang pertama orang tua yang melahirkan/mengasuh kita yaitu ayah dan Ibu baik kandung maupun mertua. Sedangkan bidadari yang kedua adalah pasangan kita (istri atau suami jika yang berbisnis istri).

TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN


TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN
(Teladan 1)

Di kegelapan malam yang mencengkeram dengan kehitamannya, tampak bayangan dua orang laki-laki tegap berlenggang menyusuri jalan di sela-sela rumah yang pintunya sudah tertutup rapat. Suasana sepi, menandakan para penghuni rumah itu sudah enggan meninggalkan peraduannya.

Keheningan itu tiba-tiba pecah ketika sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara tangisan anak-anak. Kedua orang itu berusaha mencari arah sumber suara itu. Bebarapa saat mereka mencari, akhirnya mereka berdua melihat di kejauhan ada sutu rumah yang masih terlihat terang karena ada api yang menyala.

Setelah yakin bahwa suara tangisan itu berasal dari rumah yang terlihat terang itu, keduanyapun bergegas menuju ke sana. Hati mereka cemas, jangan-jangan sesuatu telah terjadi dan anak-anak itu membutuhkan bantuan.

Ketika mereka telah sampai di depan rumah itu, salah seorang di antaranya segera mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, 'Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikum salaam", terdengar suara seorang wanita menjawab salam dari dalam rumah itu. "Siapa kalian?", sambung wanita itu.

"Kami dua orang yang kebetulan lewat dan mendengar suara tangis anak-anak. Bolehkah kami masuk?", jawab salah seorang laki-laki di luar.

Dengan nada agak kesal, wanita itu menjawab, "Mau apa kalian ke rumahku? Jika tidak ada keperluan, pulang saja. Aku sedang repot menghadapi anak-anakku"

"Perkenankan kami untuk masuk, barangkali kami bisa membantu", jawab salah seorang lelaki itu.

Setelah diam beberapa saat seolah-olah mempertimbangkan permintaan kedua laki-laki itu, akhirnya wanita itupun berdiri dan melangkahkan kakinya membukakan pintu lalu kembali duduk di dekat tungku menjaga agar api tetap menyala. Sementara itu, anak-anaknya yang tadi menangis sudah terlihat tidur walaupun tampak gelisah.

Salah seorang laki-laki itu bertanya kepadanya, "Apa yang sedang ibu kerjakan?"

Sambil bersungut-sungut wanita itu menjawab, "Aku sedang memasak air bercampur batu dalam periuk ini. Dengan cara ini aku beralasan kepada anak-anakku yang kelaparan untuk bersabar menunggu makanannya masak. Akhirnya anak-anakkupun kelelahan dan tertidur"

Mendengarkan penuturan wanita itu, salah seorang dari laki-laki itu tampak mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang dan badannya gemetar. Laki-laki itu tampak gelisah.

Wanita itu berhenti sejenak. Wajahnya tampak semakin muram. Kemudian ia melanjutkan, "Ini semua adalah kesalahan  Umar yang telah kalian angkat menjadi pemimpin itu. Dia terlalu sibuk memikirkan urusannya sendiri sehingga melupakan kami yang miskin dan butuh bantuan ini. Jika kalian menjumpainya, katakan padanya bahwa dia adalah orang yang tidak bertanggung jawab, membiarkan rakyatnya kelaparan."

Laki-laki yang gelisah itupun tampak semakin gelisah dan tegang, sedangkan yang seorang lagi tampak menjadi marah dan bersiap untuk menegur wanita yang sedang mengomel tadi. Tetapi, temannya yang gelisah itu menggamitnya dan memberi isyarat agar jangan berbuat apa-apa terhadap wanita itu.

Laki-laki yang semakin gelisah itu dengan suara yang gemetar berkata, "Baiklah, bu. Apa yang ibu katakan akan aku sampaikan kepada Umar, Dia memang pantas menerima omelan seperti itu. Sekarang ijinkan kami pergi"

Bergegas laki-laki yang sangat gelisah itu pergi diikuti oleh temannya. Wanita pemilik rumah itu memandang dengan heran, apa maunya kedua orang laki-laki yang aneh itu.

Sementara itu, laki-laki yang gelisah itu mempercepat langkahya. Dengan berlari-lari dia menuju gudang penyimpanan makanan diikuti temannya yang terheran-heran.

"Ya amirul mu'minin, mengapa engkau berlari-lari dan kelihatan sangat tergesa-gesa?" , tanyanya.

Orang yang tergesa-gesa itu ternyata adalah Umar bin Khathab. Beliau menjawab, "Aku akan mengambil sekantung gandum dari gudang dan akan aku antarkan kepada wanita dan anak-anaknya tadi"

"Kalau begitu, ijinkan aku yang mengambil dan memikulnya. Biarlah aku antarkan gandum itu kepada mereka", jawab laki-laki itu.

"Tidak!", kata Umar. "Biarkan aku sendiri yang memikul dan mengantarkannya. Ini adalah tanggung jawabku"

Tanpa dapat dicegah lagi, Umar memikul sendiri sekantung gandum itu diantarkan ke rumah wanita tadi. Sesampainya di rumah wanita itu, Umar segera memasakkan makanan. Setelah masak maka disajikannya hidangan itu untuk ibu dan anak-anaknya .

Betapa terharunya wanita tadi menerima kebaikan orang yang belum dikenalnya itu. "Siapakan sebetulnya laki-laki yang baik hati ini?". tanyanya dalam hati.

(Diceritakan berdasarkan Kitab al Bidayah wa al Nihayah li ibn Katsir)

Kisah di atas adalah sekelumit cerita dari sikap seorang pemimpin yang merasa bertanggung jawab mengurusi rakyatnya. Beliau merasa perlu untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya, sehingga pada suatu malam berjalan-jalan  ditemani oleh seorang pembantunya mengontrol kondisi rakyatnya..

Tercermin betapa seorang pemimpin betul-betul bertanggung jawab memperhatikan rakyatnya dan melayaninya dengan baik. Apalagi untuk urusan makanan, tidak boleh ada seorangpun rakyatnya yang kelaparan. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ * رواه البخارى
Tidaklah disebut seorang yang bermian, orang yang tidur di suatu malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar (karena tidak punya makanan)

Alangkah indahnya hidup ini jika pemimpin-peminpin kita betul-betul memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.

Semoga kita bisa meneladani kisah ini


Dugan SY, Oktober 2012

KISAH-KISAH ANEH KBH


KISAH-KISAH ANEH KBH

Pada jaman dahulu waktu tante masih kecil, beliau punya kebiasan unik yaitu senengnya selalu pake baju anak laki & nggak mau pake rok. Tante ini waktu kecil juga cantik lho walau nggak mau pake baju anak perempuan.
Kebetulan rumah tante sangat dekat dengan SD Priangan Bandung, yaitu SD dimana kedua kakaknya bersekolah. Karena jarak sekolah dengan rumah sangat dekat, teman-teman kedua kakak tante sering bermain ke rumah. Merekapun sering melihat tante yang cantik. Sampe tiba suatu hari salah seorang teman kakak tante bertanya "Yu, Wahyu adik kamu kok kaya perempuan?"..........
Rupanya cerita seperti ini terjadi juga pada keponakan tante. Keponakan tante ini masih balita, senangnya bermain bersama dik Nisa putrinya Lik Mimgki mungkin karena sama-sama balita perempuan kali ya.
Pada suatu hari mereka bermain gunting, mereka saling menggunting rambut saudaranya. Wal hasil, hasil cukuran mereka menjadi acak kadut. Singkat cerita Dik Nisa pun dicukur gundul oleh orang tuanya sedangkan keponakan tante dibawa ke salon oleh bundanya. Karena rambutnya sudah acak kadut ahirnya salonpun mencukur pendek rambut keponakan tante yang hasilnya gagah banget seperti cowok.
Eyang Uti membelikan anting-anting untuk keponakan tante supaya lebih cantik gitu kali
Pada suatu hari Eyang mengajak keponakan tante ke pasar, dan disana ada yang berkomentar "Anak laki kok pake anting!"........

by  pakne chera

RASA SYUKUR


RASA SYUKUR
Assalamualaikum warohmatullohi wa barokaatuh.t
Jumpa lagi di buletin kbh.
Alhamdulillah... redaksi masih mau menerbitkan buletin kbh, alhamdulillah kita masih boleh menulis apa saja, insyaAllah dimuat original, tidak ada editan.
Ini kesempatan untuk kita berkarya dan menyambung tali silaturrahim lewat tulisan.
Karena asli tidak ada editan, rasanya seperti ketemu dengan semua kbh yang menulisnya. Kalau membaca tulisan dari kbh seperti sedang mendengar penulisnya berbicara.
Saya senang menulis. Biarpun masih tergantung suasana hati. Belum bisa jadi penulis profesional. Alhamdulillah biar cuma sedikit tulisan saya ada yang pernah dimuat di media cetak.  Tapi tidak terhitung berapa yang tidak selesai, selesai tapi tidak dikirim ke media, atau selesai dan dikirim, tapi ditolak.
Karena itu saya ingin mengucapkan terimakasih kepada redaksi buletin kbh. Semua tulisan yang saya kirim dimuat di buletin, biarpun 'semua' itu ya baru 2 kali. 2 kali kirim dan 2 kali dimuat, terbitnya kan juga baru 2 kali hehe... Ini tulisan yang ke 3, semoga dimuat juga.
Kali ini saya ingin bercerita tentang rasa syukur saya kepada Allah.
Allah telah memberikan nikmatNya kepada saya. Banyak sekali sampai tidak mampu menghitungnya. Beruntunglah saya tidak harus menghitungnya.  Allah 'hanya' memerintahkan untuk mensyukurinya.
"Barangsiapa bersyukur kpd Allah, Allah akan menambah nikmatnya. Barangsiapa  kufur (tdk mau bersyukur) sesungguhnya siksa Allah itu menyakitkan."
Ibunda Sriati Hoedan, atau sekarang lebih sering disebut YangTi atau Eyang Uti, sering menasehati saya supaya saya bersyukur kepada Allah. Banyak2 nasehat Yanguti, dari mbak Nik dan mas Win dan kakak-kakak yang lain, dan juga nasehat2 yang saya dapat dari mengaji membuat saya merasa,
"Ewodene koyo ngene, aku ki kudu ngrumangsani nek sakjane awakku ki klebu wong sing bejo. Banget le bejo."
Bener nggak ya bahasanya? Mohon maaf, ngakunya orang jawa tapi bahasa jawanya payah...
Maksudnya mau bilang "Walaupun hanya seperti ini saya harus merasa/sadar diri bahwa sebenarnya saya termasuk orang yang beruntung. Sangat beruntung."
Bagaimana tdk beruntung?
Saya lahir dan dibesarkan oleh Ibu dan Bapak yang baik, yang taat menjalankan perintah Allah, yang membesarkan saya dengan limpahan kasih sayang.
Alhamdulillah saya anak bungsu, jadi punya banyak kakak yg menyayangi saya. (Hayo..ngaku aja kalau sayang.. :D hehe PD abis.. )
Alhamdulillah sekarang saya punya suami dan anak-anak yang baik. Yang bersama mereka hidup saya terasa lengkap. Empat kali sesar, dan sekali pengangkatan rahim, dan saya masih hidup, sehat dan dikelilingi orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya. Saya juga tidak kekurangan apa-apa. Alhamdulillahi rabbil 'alamiin..
Belum lama pas pengajian ibu-ibu, gurunya memberi nasehat, salah satu dari cara bersyukur kepada Allah adalah dengan cara menceritakan nikmat yang telah Allah berikan.
Mas Win pd saat acara wongsomirejan entah tahun kpn, mgkn skitar 2004an jg pernah memberi nasehat spt itu.
Hanya saja kalau kita menceritakan nikmat yg Allah berikan, sering takut dikira sombong. Sepertinya memang cuma beda tipis ya? Bedanya di niat dan cara menyampaikannya.
Mbah Darus pernah bilang, ngetokke dengan ngetok2ke itu beda. Bahasa indonesianya yg tepat gimana ya?
Yah... pokoknya pada intinya bersyukur kepada Allah dengan cara mengucap syukur "alhamdulillah", menceritakan kenikmatan yg tlh Allah berikan, dan mewujudkan dalam perbuatan. Caranya ya lbh baik dn  tertib dlm beribadah, memanfaatkan semua fasilitas yg tlh diberikan Allah sebaik2nya dn lebih baik dalam hubungannya dengan sesama makhluk Allah.
Segini aja ya tulisannya. Kalau banyak2 takut pd bosan bacanya...
Maturnuwun nggih, terimakasih, haturnuhun, arigato gozaimasu, thankyou, alhamdulillahi jaza kumullahu khoiro sudah mau membaca tulisanku.
Wassalamualaikum wr wb.
Ningrum.

KULLUNAFSIN DHAIKOTUL MAUT


KULLUNAFSIN DHAIKOTUL MAUT
(Senin Pon, 5-11-2012 by Eyang Uti)

       Semua yang bernyawa akan mengalami mati. Sekarang ini aku masih hidup, suatu ketika nanti aku akan mati seperti semua yang bernyawa. Dalam Al-Qur’an di terangkan, siapa yang beriman dan beramal soleh, tempatnya nanti di syurga. Siapa yang kafir tempatnya di neraka. Alloh mengajarkan ini lewat para Nabi dan Rasul. Rasul terakhir yaitu Muhamad SAW. Kita hidup di zaman akhir, jadi yang harus kita ikuti yaitu agama Islam yang di ajarkan oleh beliau. Kita boleh pinter setinggi langit atau kaya sampai menguasai dunia, tetapi akhirnya kita mati juga.
       Karena itu anak cucuku, keturunanku semua, jangan kalian termasuk orang-orang yang tersesat. Ya Alloh, selamatkanlah kami semua di dunia ini dan di akherat nanti. Aamiin.

MASA TUA BAHAGIA
       Alangkah menggiurkan judul tulisan diatas itu. Masa tua tidak sengsara, tidak sakit-sakitan, tidak harus kerja keras untuk mencukupi kebutuhan. Sekarang umurku telah 83 tahun, rambutku telah putih seperti kapas, gigiku sudah banyak yang tanggal, kekuatanku sudah banyak berkurang. Namun aku merasakan hidup di hari tuaku ini sangat bahagia. Aku masih di beri kesempatan oleh Alloh SWT tidak pakai kacamata, gigi bisa di bantu dengan gigi palsu, bisa jalan kemana-mana. Di rumahku yang sudah tua ini, tidak bisa lagi mengikuti pesatnya perkembangan teknologi; namun tidak mengapa. Asal masih tetap dalam hidayah Alloh, mendoakan anak cucu agar tetap dalam keimanan dan beramal saleh, bahagia di dunia dan di akherat.

Kekuatan Ucapan Terima Kasih dalam Bisnis


Kekuatan Ucapan Terima Kasih dalam Bisnis

       “Terima kasih”, ungkapan itu mungkin sering diucapkan. Tapi tahukah Anda, di balik kata sederhana itu ternyata tersimpan potensi untuk meraih profit yang lebih besar. Tak percaya?

       Menurut studi, ketika mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada konsumen, sebenarnya seorang pelaku bisnis telah berinventasi. Konsumen yang senang dengan pelayanan nan ramah itu biasanya akan menyimpan keinginan untuk kembali kepada Anda serta memberi tahu rekan atau orang-orang di sekelilingnya mengenai servis yang Anda terapkan tersebut. Secara otomatis, bisnis Anda telah terekomendasi dan profitpun akan datang dengan sendirinya.

       Lalu, bagaimana cara efektif dan efisien dalam mengekspresikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah membuat bisnis Anda sukses, termasuk pegawai,customer dan vendor? Laman Entrepreneur.com memaparkannya sebagai berikut.

Spesifik dalam mengucapkan terima kasih

“Saya sangat menghargai apa yang telah Anda lakukan hari ini. Terima kasih banyak.” Orang akan senang mendengarnya tapi hanya sekejab sebab terlalu umum dan tak jelas. Ketika Anda mengucap terima kasih, katakan dengan lebih spesifik. Sehingga orang yang menerima ucapan terima kasih itu akan terus mengenangnya.

Ucapkan rasa terima kasih kepada yang bersangkutan saat itu juga ketika ia sedang memberi kontribusi yang berarti bagi kesuksesan bisnis Anda. Misal, seorang karyawan telah berhasil mengatasi keluhan pelanggan melalui telepon dengan sangat baik. Berterimakasihlah padanya atas upaya yang telah dilakukannya.

Menghargai proses

       Ungkapan terima kasih ini untuk mereka yakni konsumen, karyawan dan vendor, bukan untuk kepentingan Anda sendiri. Demikianlah, mengucap terima kasih harus didasarkan pada apa yang telah dilakukan oleh orang lain, bukan untuk keuntungan diri sendiri.

       Ambil contoh karyawan yang berhasil atasi keluhan pelanggan seperti tersebut di atas. Jangan mengucapkan, “Terima kasih telah membantu saya mengatasi keluhan pelanggan.” Sebaiknya katakan, “Saya sangat senang dengan cara Anda menangani pelanggan yang mengalami kesulitan seperti tadi. Anda telah melayani dengan sabar dan penuh hormat.”
 
                                                                                     Intinya …………..
       Intinya adalah menunjukkan bahwa Anda mengetahui kinerja atau sumbangsih seseorang terhadap kelangsungan bisnis Anda dan menerapkan cara terbaik untuk mengapresiasikannya. Hal itu merupakan sesuatu yang sangat berharga.
 
Gunakan cara lama

       Saat ini adalah era digital. Era di mana surat elektronik, SMS, Facebook, Twitter mewabah hingga ke dunia bisnis. Praktis memang mengekspresikan rasa terima kasih melalui perangkat digital tersebut. Namun kelemahannya, efek yang dihasilkan akan terkesan biasa saja dan mudah dilupakan. Untuk memberi ekstra servis misal kepada konsumen, alih-alih menggunakan media sosial gunakanlah cara lama seperti kartu ucapan yang terbungkus rapi dengan amplop dan dikirim melalui pos, kurir atau jasa pengiriman.

       Alih-alih kata terima kasih saja, luangkan waktu Anda untuk merangkai kalimat yang bisa menambah tingkat kepercayaan konsumen akan bisnis Anda, misalnya “Kami memahami bila saja Anda menjaln bisnis (atau membeli barang/ jasa) dari perusahaan lain, tapi Anda memilih kami. Terima kasih. Kami akan menjaga hubungan bisnis ini sebaik-baiknya.”

       Nah, coba implementasikan tips ini dan lihatlah apakah berpengaruh terhadap kemajuan bisnis Anda? Selamat berbisnis. (*/ely)

Sumber:
Kiriman dari : Bp Bambang Jatmiko (2)

Ini Hanyalah Cerita


Ini Hanyalah Cerita

Paijo lagi mlaku2, ngerti2 ketemu karo simbah2 lagi angon wedhus
Paijo mandek, langsung takon

Paijo : “mbah… akeh men kui wedhus e, cacahe ono piro ?”
Simbah : “sing ndi le…. Sing putih opo sing ireng….? “
Paijo : “sing putih piro ?”
Simbah : “sing putih kui cacah e selawe”
Paijo : “lha sing ireng ?”
Simbah : “podho…”
Paijo : “lha nek wedhus koyo ngene pangan e sedino piro kilo ?”
Simbah : “sing ndi le…. Sing putih opo sing ireng…?”
Paijo : “yo sing ireng wae wis”
Simbah : “sing ireng kui pangan e sedino 5 kiloan”
Paijo : “lha sing putih ?”
Simbah : “podho…”
Paijo : “mbah… kok ndadak di beda2ke to? Lha mengko jawabane yo podho wae” ( takon e rodok mangkel )
Simbah : “ngeneki lho le…. Nek sing putih kui wedhusku….”
Paijo : “lha sing ireng ?”
Simbah : “podho…..”

TAMAT

OLEH : FAISAL ABDUL AZIZ

PERASAAN EYANG UTI


PERASAAN EYANG UTI
Kamis Kliwon, 12-1-2012
Bismillahirrokhmanirrohim
       Pada hari Senin 9-1-2012 – Aku menyuruh tukang untuk membersihkan kebun. Keadaanku sedang gelisah sehingga tidak bisa berfikir dengan baik. Tukang aku biarkan saja tidak ku tengok. Aku hanya tiduran. Sesudah sore aku bangun, Astaghfirulloh, bunga-bunga kesukaanku yang sudah mulai kuncup di babati semuanya. Aku kecewa sekali. Bukan tukangnya yang salah, tetapi aku tidak menyuruh dia supaya tidak memotong bunga-bungaku. Hatiku semakin kacau aku semakin bingung. Hari itu aku puasa dan membawa makanan ke masjid untuk takjil buat oran +/- 50. Pelajaran baca Al-Qur’an degan lagu dan panjang pendeknya membuat aku semakin bingung. Waktu berbuka aku makan tempe, karena gigiku ada yang palsu, aku tidak bisa mengunyah dengan lembut. Sesudah pulang gigi palsuku ingin ku lepas, karena sangat tidak nyaman. Tetapi susah lepasnya karena nyangkut di gusi. Sambil kesakitan gigi palsu bisa di lepas, tetapi aku tidak bisa makan, aku terus tiduran. Dalam hati aku merasa banyak berdosa.
       Sejak bulan Desmber tahun 2011, aku kena depressi lagi seperti tahun-tahun yang lalu. Rasanya gelisah sekali. Di mulai karena giginya banyak yang ompong. Pikir saya kalau di pasang gigi palsu, bisa makan sempurna dan penampilannya lebih bagus, karena akan menghadiri pernikahan Ikhsan tanggal 26 Desember 2011. Tetapi  sebelum di pasang gigi palsu, tunggak-tunggak gigi harus di cabuti dulu. Tetapi yang terjadi setelah di pasang gigi palsu tidak nyaman sama sekali. Tidak bisa mengunyah. Kata dokter memang semua orang begitu. Pertama kali tidak nyaman tetapi kalau sudah sebulan baru nyaman. Tetapi aku tidak betah, di Ponorogo malam-malam mencari dokter gigi untuk melepas. Keadaan semakin parah terus ke dokter Krisman karena tidak bisa tidur dan gelisah. Namun gelisahnya tidak bisa sembuh, terus ada ustad yang memberi tahu supaya zikir : Lailaha illalloh wahdahula syarikalah, lahulmulku walahul khamdu yuhyi wayumitu wahua’ala kulli syai’in kodir 100 kali lalu terus saja kulakukan. Alhamdulillah penyakitku sembuh.

KENANGAN WAKTU KECIL


KENANGAN WAKTU KECIL
Eyang Uti, Selokraman 29-09-2012

              Waktu aku masih kecil, di gendong Simbok (Ibunya Eyang Uti), sambil di nyanyikan :
  1. Eman-eman temen wong ayu ora sembahyang, ayu endi kelawan siro, dewi Jaleko ora lali sembahyange.
  2. Eman-eman temen wong bagus ora sembahyang, bagus endi kelawan siro, NABI Yusuf ora lali sembahyange.
  3. Eman-eman temen wong sugih ora sembahyang, sugih endi kelawan siro, nabi Sulaeman ora lali sembahyane.
       Sampai sekarang masih ingat terus, jadi aku solat terus seperti dewi Jaleko. Siapa Dewi Jaleko itu? Kata Simbok, Dewi Jaleko itu istri nabi Yusuf. Dia cantik sekali , tetapi tidak lupa solat. Begutu pula nabi Yusuf , dia gantheng sekali tetapi tidak lupa solat. Nabi Sulaiman kaya sekali tetapi tidak lupa solat.
       Sekarang aku sudah tua, sudah banyak mencari ilmu, banyak mengaji, baru tahu bahwa solat itu suatu kewajiban yang harus di kerjakan setiap muslim yang ingin mendapat ridho Alloh di dunia dan di akherat. Selamat di dunia dan selamat di akherat.  Dalam kitab suci Al-Qur’an Alloh berfirman, supaya manusia menyembah hanya kepada Alloh. Tidak boleh menyembah apapun atau siapapun, selain hanya kepada Alloh. Dosa besar orang yang mempersekutukan Alloh. Alloh itu Maha Esa, tidak berputera dan tidak di puterakan. Nabi Isa alias Yesus Kristus bersabda : Haram masuk syurga orang yang mempertuhan selain Alloh.
       Alloh menciptakan bumi langit, syurga neraka, segala makhluk tidak ada yang membantu. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Alloh mempunyai 99 Asma’ul Husna. Alloh mengutus para Rasul untuk mengajar kepada manusia apa yang harus di kerjakan dan apa yang harus ditinggalkan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendirikan solat, orang-orang yang di cintai Alloh, orang-orang yang mencintai Alloh.

YANGTI SUDAH SEPUH


YANGTI SUDAH SEPUH
Kapan dianggap mulai sepuh ?
Teori mengatakan bahwa kondisi sepuh itu terjadi bila :
  1. Anak-anak telah menjadi dewasa dan pergi untuk pindah.
  2. Kawan dan tetangga telah “pergi”.
  3. “Dikeluarkan” dari angkatan kerja.
  4. Rumah terlampau besar untuk diurus dan terlalu sepi untuk ditinggali.
  5. Organ tubuh akan mundur, melemah, layu dan lambat. Penyebab hal ini masih misteri.
Kondisi di atas, akan berpengaruh pada :
  1. Penyesuaian sosial.
  2. Penyesuaian psikologis.
  3. Penyesuaian keuangan.
Bagaimana dengan Yangti ?
Secara kalender, saat ini Yangti berusia 83 tahun.
Berdasar teori di atas, rasanya Yangti rasanya sudah masuk katagori sepuh. Walau di Selakraman masih ada keluarga Mas Hasta dan di kiri-kanan juga ada saudara lain.
Bila sepakat, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi kondisi Yangti yang sudah sepuh itu ?.
Menyikapi kondisi Yangti.
  1. Harus kita sadari bahwa Alloh-pun sudah mengatakan sebagaimana tersebut dalam QS Yaasiin 36 : 68

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya (kembali menjadi lemah dan kurang akal) . Maka apakah mereka tidak memikirkan ?”.
Kembali lemah baik secara fisik maupun psikis. Karena sudah lemah, tidak sepantasnya kita bebani dengan beban-beban yang memberatkan fisik dan psikisnya.

  1. Hendaklah kita selalu berusaha berbuat baik (sesuai Qur’an dan Hadits) kepada Yangti. QS Luqman 31 : 14. Al-Ahqaaf 46 : 15. Juga Hadits Nabi Riwayat Bukhori-Muslim :”Dari Abdulloh bin Mas’ud RA berkata, aku bertanya pada Rasululloh SAW :”Amal apa yang paling dicintai Alloh ?”. Beliau menjawab :”Sholat tepat pada waktunya”. Aku bertanya lagi :”Apa lagi Ya Rasululloh ?”. Beliau menjawab :”Berbakti pada Orangtua”.

  1. Dalam kitab Tantibul Ghofirin disebutkan, bentuk berbuat baik pada OT itu antara lain :

    1. Ngaturi dahar, walau OT mungkin masih bisa mencari sendiri. (2 : 215).
    2. Memenuhi panggilan OT (bahkan walau sedang sholat). H.R. Bukhori tentang Jurais.
    3. Berbicara lemah lembut. QS Al-Isra’ 17 : 23.

DESA MAWA CARA , NEGARA MAWA TATA


DESA MAWA CARA , NEGARA MAWA TATA
Ungkapan dalam Bahasa Jawa sebagai judul tulisan ini, kurang lebih berarti bahwa tiap-tiap daerah itu mempunyai ragam budaya masing-masing, termasuk tentu saja juga mempunyai aturan atau hukum sendiri-sendiri. Demikian yang ingin Pdw ungkapkan dalam tulisan ini mengenai ragam budaya masyarakat Sulawesi Selatan, setelah Pdw dan Bdn “nderek-ke” Yangti silaturahim ke Om Fauzi di Makassar tanggal 5 s/d 7 Oktober 2012.
Logat Bahasa
Saat antri untuk chek-in di Bandara Adisucipto Yogya guna tujuan penerbangan menuju Indonesia Timur (pesawat yang kami tumpangi tujuan akhir Papua dan Makassar adalah transit kedua setelah Juanda Surabaya), “aura” budaya Indonesia Timur mulai terasa. Intonasi dalam penggunaan bahasa, mulai sedikit berbeda dengan “style” Yogya.  Suku kata terakhir dari sebuah rangkaian kalimat, disuarakan dengan nada meninggi. Tentu ini agak berbeda dengan gaya Yogya yang suku kata terakhir hampir selalu diucapkan dengan nada menurun.
Juga pemanfaatan bagasi gratis (sesuai tiket) bagi seorang penumpang, rupanya banyak dimanfaatkan secara optimal. Saat ngobrol dengan sesama penumpang yang tujuan akhirnya Jayapura, Pdw tahu bahwa mereka memanfaatkan fasilitas bagasi gratis ini, mengingat bila harus me-maketkan barang dengan tujuan Papua adalah sangat mahal dan waktu perjalanan paket tersebut kadang susah di-prediksi. Sementara harga jual, hampir semua barang perdagangan di Papua, jauh di atas harga beli di Jawa (Yogya). Maka bila bisa membawa barang sebanyak-banyaknya dan di bawa sendiri dengan tanpa biaya, mengapa tidak ?.
Kembali masalah logat bahasa, gaya pengucapan kata (walau menggunakan Bahasa Indonesia) akan lebih terasa berbeda (dengan orang Yogya) ketika kita tiba di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar. Penyedia jasa angkutan dari bandara (taksi) akan menawarkan jasa taksinya dengan bahasa yang meninggi dan dengan ungkapan kata yang sedikit keras (untuk ukuran bahasa Yogya). Juga yang agak berbeda dengan bandara-bandara lain (sepengetahuan Pdw), penyedia jasa angkutan untuk keluar dari Bandara Hasanudin Makassar ini, sudah membawa daftar tarif untuk tujuan titik tertentu di sekitar kota Makassar. Tarif antara perusahaan yang satu dengan lainnya relatif sama, mungkin lantaran banyaknya persaingan di situ.
Secara umum budaya antri di Indonesia memang belum setertib negara tetangga kita, katakanlah Singapura. Kebiasaan “ndresel” masih banyak dijumpai, dan bahkan kadang dilakukan oleh orang “berdasi”. Budaya yang memalukan ini, terasa lebih banyak dijumpai untuk rute penerbangan menuju Indonesia Timur. Mengapa ? Mungkin Om Fauzi bisa menjawab.
Di bandara, kami dijemput Om Fauzi, Bulik Warih dan Bude Bir (kakaknya Om Fauzi) menggunakan Inova diesel matic. Persinggahan kami yang pertama adalah di rumah Bude Bir di Perumahan Dosen Universitas Hasanuddin, yang jaraknya tidak begitu jauh dari bandara.
Lalu Lintas Kota Makassar
Jalan yang mulus dengan marka jalan yang jelas serta penunjuk arah yang mencolok, kita dapati selama masih ada dalam komplek Bandara. Namun begitu keluar dari komplek bandara, yang kita dapati antara lain adalah jumlah penunjuk arah jalan yang minim, marka jalan yang tidak jelas, kualitas jalan yang , maaf, berbeda dengan provinsi DIY. Rasanya diperlukan pengemudi yang terampil, tahu jalan dan sedikit “berani” dalam berlalu lintas di kota Makassar.
Jalan relatif bagus, nampaknya hanya di dapati di jalan protokol dalam kota. Sedikit masuk ke jalan kelas II, rata-rata kualitasnya sudah jauh berbeda. Apalagi jalan menuju luar kota, masih perlu pembenahan yang serius. Saat rombongan kami diajak piknik melihat air terjun di Kabupaten Gowa, kami menyaksikan sendiri kondisi jalan yang jauh dari mulus. Bahkan jalan untuk menuju taman wisata air terjun (yang sangat indah dan alami), rasanya tidak cocok untuk mobil sedan.
Tidak kalah , maaf, kurang tertibnya, adalah pengguna jalan itu sendiri. Pemakaian helm bagi pengguna kendaraan motor roda dua belum maksimal. Motong jalan juga sering kita dapati dengan seenaknya. Ketaatan pada rambu lalu lintas (termasuk traffic light) belum maksimal.
Makanan
Pepatah yang mengatakan bahwa kalau orang gemuk, pikirannya tidak akan jauh dari soal makanan, tidaklah terlalu salah. Maka saat sampai di Makassar, pertanyaan pertama yang kami ajukan kepada Om Fauzi adalah apa makanan khas Makassar. Jawaban Om Fauzi makanan yang khas antara lain coto makassar, masakan kepala ikan, dan juga otak-otak. Masakan kepala ikan dan otak-otak sudah ditulis oleh Bdn di depan.
Beberapa kedai yang menyediakan menu coto makassar, menulis di spanduknya :”Coto Makassar dengan menu spesial jerohan (ati, babat dsbnya). Yang bukan jerohan ?  otak dan daging”. Mengingat postur tubuh dan usia, maka rombongan dari Yogya memutuskan untuk tidak mengkonsumsi coto makassar. Hal ini juga terkait dengan peristiwanya Yu Hazim beberapa waktu sebelumnya.
Saat itu Wiwik (anaknya Yu Hazim) masih bertugas di Makassar. Pak Gafur (suaminya Yu Hazim) mendapat tugas ke Makassar. Maka Yu Hazim dan Tifa (anaknya Wiwik), memutuskan untuk ikut ke Makassar, sekalian silaturahim ke Om Fauzi. Setibanya di sana, oleh panitia penyelenggara, Pak Gafur dijemput dan “dimuliakan” dengan diajak makan siang di restoran coto makassar. Entah karena memang sudah jam-nya makan siang, atau karena selera yang cocok, maka tamu dari Yogya ini sangat menikmati coto makassar. Apa yang terjadi ?. Pak Gafur malamnya harus dibawa ke RS karena kadar kolesterolnya meningkat, dan harus opname beberapa hari disitu. Tugas pokok ke Makassar, tidak bisa dilaksanakan karena malah harus bedrest di RS. Nampaknya gara-gara terlalu “semangat” makan coto makassar.
Oleh Om Fauzi, kami diinapkan di hotel berbintang di dalam kota Makassar, sehingga untuk makan pagi, kami menikmati fasilitas hidangan hotel. Makan sore/malam “selalu” kami nikmati di Ulu Juku Resto, dan menu favoritenya adalah gulai kepala ikan.
Alhamdulillah kami sempat dianterin Om Fauzi untuk silaturahim ke rumah Drh Subroto yang asli Jagalan Kotagede, murid Yangti di SMPN IX dan baru saja ditinggal oleh istrinya untuk menghadap Alloh SWT. Istri Mas Broto itu adalah Nok Am cucunya Pakde Sangidu (keluarga Tresna Wandawa) Gumuk Purbayan Kotagede. Disitu kami juga ketemu adiknya Mas Broto, Ir Zusriyatno teman SMP Pdw dan di Pemuda Muhammadiyah Kotagede sekitar tahun 1975, serta kami pernah di anter Dik Basith silaturahim ke rumahnya ketika masih tinggal di Jember.
Penutup
  1. Alhamdulillah dalam usia yang 83 th, Yangti masih kuat dan semangat silaturahim ke Makassar.
  2. Terima kasih Om Fauzi, Bulik Warih dan Bude Bir yang telah menyambut kami dengan luar biasa.
Gedongan awal Desember 2012
Pdw  

Selamat Hari Pahlawan


Selamat Hari Pahlawan
"Dengarlah wahai Inggris! Selama banteng2 Indonesia masih punya darah merah... selama itu pula rakyat Indonesia tidak akan menyerah. Lebih baik mati daipada tidak merdeka". Meskipun cuma rekaman yg diputar di radio2 di Surabaya, tapi mrinding juga denger pidatonya bung Tomo pahlawan dari Surabaya. Kebayang gimana perjuangan arek Surabaya tahun 45 dulu. Dengan senjata seadanya, arek2 Suroboyo melawan Inggris yang punya senjata lengkap. Korban ribuan orang. Orang2 panik lari ke sana sini kayak kalo liat film perang di tv. Tambah merinding bayanginnya.
Yangti pernah cerita juga jaman perang dulu harus ngungsi ke sana sini. Dengar suara bom, dengar suara tembakan. Salah satunya ngungsi ke rumah Selokraman. Tapi ada hikmahnya kan Yang, bisa ketemu Yang Kung, cieee.
Beberapa waktu lalu seperti biasa aku beli nasi bungkus buat sarapan. Kalo nggak tahan sih biasanya makan di mobil. Kalo lagi lampu merah, satu dua suap masuk mulut. Belum sampe kantor nasi satu bungkus udah habis. Tapi pagi ini beda, sarapan nasi bungkusnya di kantor. Nasi bungkus lezat seharga 4 ribu perak. Biar tambah enak tambahin bakwan 2 jadi 5 ribu. Biar tambah seru minta cengeknya yg agak banyak biar huh hah huh hah kepedesan tapi bikin pengen n ketagihan, hehe. Nasi bungkusnya enak. Apalagi laper banget. Biasanya sampe kantor udah kenyang sekarang lagi laper2nya. Nasi tambah tahu tambah mie gorang + sedikit sayuran pedes, mm lezat banget. Apalagi tambah bakwannya mm nyam nyam. Masih kurang puas, cengeknya sekalian dikletus, mak nyus n mak nyoas pedes2 enak. Hmmm....
Nggak kerasa air mata netes. Keenakan? Bukan. Kepedesan? bukan juga. Tapi karena liatin sepotong cengek yg udah aku makan separo. Sedikit sesenggukan air mata netes. Untung kantor masih sepi. Inget cerita Ibu tentang Bapak waktu di Kalimantan. Cengek bukan untuk tambahan extra biar makan jadi tambah lezat, tapi adanya ya cuma itu, nggak ada lauk lain. Jaman Jepang memang menderita banget kata ibu.
Kalo sekarang, meskipun cuma nasi bungkus 4 ribu an,tapi ini jauh lebih dari cukup dibanding jaman Bapak di Kalimantan.
Kalau dulu ibu mau makan soto juga harus hutang dibayar pake seledri. Terharu banget bayanginnya. Kalau sekarang, mau makan soto satu dandang pun bisa kalo perutnya kuat.
Mudah2an Yangti sekarang bisa menikmati masa tua dengan bahagia. Kami tidak mungkin bisa membalas semua pengorbanan Ibu. Ibu n Bapak adalah pahlawan2 kbh, juga kakak2, adik2, dan ponakan yang juga sudah jadi pahlawan kbh. Sekecil apapun pengorbanan itu adalah contoh dari para pahlawan.
Selamat hari pahlawan november 2012.
@9

EMPTYNESS SYNDROME


EMPTYNESS SYNDROME
(Sindrom Sangkar Kosong)


Assalamu’alaikuw Wr Wb
Bismillahirahmanirahiim..Sholawat dan salam kita tujukan pada Nabi Muhammad SAW..Robbisrohli sodri wayassirli amri... wahlul 'uqdatammillisaani yafkahul kauli
Maturnuwun atas kesempatan yang diberikan. Dalam kesempatan yang baik ini saya ingin mengungkapkan keprihatinan saya tentang sesuatu yang dalam dunia Psikologi disebut sindrom sangkar kosong (emptiness syndrome). Apa to sindrom sangkar kosong itu? Apa tanda-tandanya? Bahayanya? Dan bagaimana cara mencegahnya?

Sindrom Sangkar Kosong adalah keadaan di mana orang di suatu keluarga/anggota keluarga yang lain (yang disini maksudnya anak) mulai meninggalkan rumah satu persatu. Sindrom ini biasanya dirasakan orang tua setelah anak-anaknya sudah mulai atau akan berniat hidup mandiri. Orang tua kadang merasa sepi dan sedih karena hal yang biasa ada (anak-anak) mulai pudar seiring jalannya waktu. Walaupun tidak selalu begitu. Anak yang beranjak remaja dan lebih banyak kegiatan atau pergaulan dengan teman sebaya atau peer group-pun dapat mengakibatkan efek yang sama.

Efek dari sindrom sangkar kosong yang paling nyata adalah kesepian. Biasanya ada anak-anak yang diasuh sekarang semua sudah menikah dan tidak lagi tinggal serumah (kecuali pakdhe Bachrun..hehehe). Kesepian ini diperparah dengan post power syndrome atau sindrom pensiunan. Biasanya intensitas hubungan keluarga harus dibagi antara pekerjaan, anak, suami/istri, bahkan masih ingin punya ’me time’ (waktu yang digunakan untuk memanjakan diri sendiri seperti ke salon, internetan, atau bermain game). Setelah anak-anak tinggal terpisah, ditambah lagi hilangnya rutinitas pekerjaan. Teman satu-satunya mungkin tinggal suami/istri di rumah. Kalau pengantin baru mungkin menyenangkan, semoga pengantin lama juga demikian.

Semua masalah yang tadinya bisa ’keslamur’ dengan adanya anak atau lingkungan pekerjaan akan mulai tampak jelas. Bahkan sangat jelas saat tidak ada lagi tempat berbagi selain suami/istri. Kebosanan yang memuncak akibat tidak ada rutinitas (selain memang kodratnya kondisi fisik menurun seiring usia) dapat memicu berbagai penyakit. Ya, kadang-kadang mindset kita masih selama kebutuhan fisik tercukupi, berarti semua kebutuhan terpenuhi. Masalahnya manusia adalah mahluk sosial yang (menurut Abraham Maslow) butuh cinta, penghargaan sosial dan aktualisasi diri. Kebutuhan biologis dan keamanan itu merupakan kebutuhan dasar saja.

Melihat kebutuhan tersebut, kita sebagai generasi cucu yang rata-rata memiliki orang tua dalam fase sangkar kosong ini sebaiknya melakukan beberapa hal seperti:



                                                                                                             - Secara ....................
  • Secara rutin menengok.
Secanggih apapun fasilitas komunikasi (yang kadang-kadang malah sulit dimanfaatkan para kasepuhan), kehadiran fisik sangat diperlukan. Keberadaan fisik dalam suatu waktu dan tempat memungkinkan kita berkomunikasi dengan lebih baik, mengekspresikan emosi dan bahkan sentuhan fisik akan sangat menyenangkan hati orang tua. Apalagi bila disertai kehadiran cucu yang telah kita didik untuk dekat pula secara emosional. Ini juga merupakan investasi. Anak-anak kita akan melihat betapa kita sangat menghormati dan menyayangi orang tua/eyangnya, dan suatu saat (InsyaAlloh) mereka akan melakukan hal yang sama pada kita.
  • Menjaga komunikasi yang hangat.
Sebagian keluarga dibatasi oleh jarak dan waktu. Menjaga komunikasi yang hangat serta intens. Telfon secara rutin ternyata sangat diharapkan oleh orang tua. Menanyakan kabar dan memberi kabar secara rutin dan hangat penuh kasih sayang. Mendengarkan keluh-kesah serta cerita yang ’diulang-ulang’ mungkin membosankan. Tapi yakinlah kita akan melakukan hal yang sama nantinya pada anak-anak kita. Curhat atau katarsis sendiri menurut beberapa penelitian telah mengurangi 50% beban.
  • Piknik
Mungkin pantai Indrayanti, gua Cerme, apalagi Ancol dan Taman Safari bukan tujuan yang menarik bagi piyayi sepuh. Tapi kebersaman selama perjalanan dengan anak-cucu (sekali-sekali) akan menjadi pengalaman baru yang menyenangkan untuk mereka, juga anak-anak kita. Tujuan piknik yang lebih rasional tentunya silaturahmi. Akan sangat menyenangkan buat para pini sepuh dapat mengunjungi keluarga di kota lain, atau minimal di kampung sebelah. Silaturahmi juga memperpanjang usia dan melapangkan rizki.
  • Mencukupi Kebutuhan Fisik dan Sosial
Alhamdulillah secara fisik sepertinya kebutuhan dasar para pini sepuh seperti sandang-pangan-papan serta kesehatan relatif terpenuhi dengan baik. Akan lebih baik lagi bila kebutuhan sosial mereka dapat kita dukung juga. Misalnya dengan mendukung (mengantar/mengikutsertakan) orang tua dalam berbagai pengajian, kegiatan kampung, reuni, ataupun pertemuan-pertemuan trah.
  • Mendoakan.
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ
صَغِيْرَا.
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
Alloh SWT itu maha adil. Sehingga dalam do’a yang kita panjatkanpun, Alloh berlaku adil. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita. Bukan berarti kita lalu menghitung-hitung apakah mereka dulu cukup sayang pada kita karena paling tidak rahim dan ASI itu sangat priceless dan tidak mungkin kita melunasinya. Ini hanya sebagai pengilon bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita agar mereka juga ikhlas menyayangi dan merawat kita nantinya.

Kepada Pakdhe-Budhe, kalo boleh saya menyarankan, emptyness syndrome ini tidak perlu selalu disikapi negatif. Kalo istilah ibu-ibu muda itu ’me time’ (waktu untuk diri sendiri) justru tersedia banyak. Pola hidup sehat lahir-batin lebih memungkinkan untuk dilakukan.
  1. Rutin Olah Raga
Olah raga itu penting. Mungkin memang bukan budaya kita seperti opa-oma londo yang kadang-kadang terlihat berjalan-jalan berdua, main tenis atau renang. Tapi kalau positif kenapa tidak? Secara fisik sehat, mentalpun lebih ceria. Waktu senggang kita juga tersita sebagian.
  1. Rutin Pengajian/kegiatan kampung/kegiatan sosial
Sebenarnya ini sudah menjadi budaya di Bani Nawawi, tapi kadang-kadang perlu usaha ekstra untuk yang sudah sepuh dan punya keterbatasan fisik. Tapi dengan menarik diri dari kehidupan sosial, efek sindrom sangkar kosong akan lebih terasa. Sebisa mungkin mengikuti perkembangan jaman dan informasi. Hal ini sangat berguna dalam kehidupan sosial. Tentu maksudnya bukan ghibah atau menggunjing, tapi lebih ke perkembangan teknologi, trend, dan berita terkini. Dengan memahami facebook misalnya, kita dapat mengontrol pergaulan anak-anak atau menyambung tali silaturahmi, cepat mendapat kabar keluarga. Atau paling tidak sebagai orang tua juga mau belajar memahami apa yang sedang dialami putra-putrinya dan berkomunikasi secara dua arah.
  1. Berlaku adil dan hangat terhadap semua anak
Tanpa sedikitpun bermaksud menggurui, tapi lumrah dan manusiawi bila seseorang lebih memperhatikan orang yang terlihat berbakti dan berkecukupan. Tapi kesenjangan ini akan berdampak buruk bagi hubungan dengan sebagian anak maupun hubungan antar anak-anak kita. Kita tidak tau sampai kapan umur anak kita dan berapa rizki yang akan Alloh curahkan di kemudian hari.
  1. Mendo’akan



                                                                                  Oleh : Ahmad Immaduddin

Eyang Uyut Sampun Sepuh


Eyang Uyut Sampun Sepuh

Assalamu’alaikuw Wr Wb
Bismillah..Syahadat..Sholawat.. Robbisrohli sodri wayassirli amri... wahlul 'uqdatammillisaani yafkahul kauli
Maturnuwun atas kesempatan yang diberikan, sore ini saya ingin sedikit berbagi cerita tentang kasepuhan dan marilah kita awali dengan Surat Yasin ayat 68:

       Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (yasin 68) Ayat ini sebenernya memancing kita untuk memikirkan apa arti panjang umur itu. Ketika Alloh SWT mengkaruniai kita usia yang panjang, maka kita akan dikembalikan kepada kejadian awal. Maksudnya seperti ketika masih kecil. Secara fisik, kemampuan panca indra mulai menurun, otot-otot mulai kendor, kulit berkeriput, dan rambut mulai beruban. Ini mudah terdeteksi dan mudah pula memanipulasinya. Rambur bisa disemir, perawatan spa-salon-bahkan operasi plastik bisa membuat mbah Titik Puspa terlihat cantik (mungkin ya memang cantik).

Masalahnya kembali ke kejadian asal ini juga termasuk masalah mental alias psikis. Mungkin yang saat ini memiliki balita lebih mudah merasakan, dan yang ’pernah punya balita’ bisa mengingat-ingat. Ada balita yang pinginnya ’sing mau’. Ada balita yang gampang ngambek. Ada balita yang secara tegas suka memerintah. Kebanyakan balita juga belum bisa mengungkapkan perasaan sakit dan sedih, jadi dia rewel dan menangis. (mohon koreksinya kalo memang ada balita penurut dan selalu ceria).

Pengembalian kondisi psikis orang tua menjadi seperti anak-anak inilah yang relatif sulit disadari, dan paling sulit dimanipulasi. Seperti anak kecil, perasaannya cenderung sensi dan mudah galau. Apalagi yang mengalami post power syndrome plus emptiness syndrome. Sekedar tambahan, post power syndrome banyak dialami pensiunan pegawai formal terutama yang pernah memiliki posisi cukup penting. Sedangkan emptiness syndrome adalah orang tua yang cenderung kesepian ketika semua anaknya beranjak dewasa dan meninggalkan rumah.

Bagaimana dengan kondisi Ibu/Yangti/Eyang Uyut saat ini? (saya akan menggunakan Eyang Uyut)

Sebagian besar umat Muslim mengacu pada usia Nabi Muhammad SAW saat wafat (63 tahun) standar usia manusia ummat Rasulullah. Maksudnya, kalo lebih berarti bonus, termasuk dipanjangkan usianya. Jadi, kalau Yangti saat ini berusia 83 tahun, berarti bonusnya sudah 20 tahun dan insyaAlloh stock bonus-nya masih banyak.

                                                                                                                  Hal ................
Hal pertama yang perlu kita (anak-cucu dan lingkungan) Eyang Uyut sadari adalah Eyang Uyut Sampu Sepuh. Beliau bukan lagi Eyang-nya Imad 33 tahun yang lalu (lha wong le dadi Eyang sudah 33 tahun je), tempat bermanja-manja, merengek, mengadukan sesuatu, atau bahkan meminta sesuatu. Cukuplah Eyang kita minta do’a-nya. Itu dulu. Kita harus sadar bahwa kita sedang menghadapi Eyang yang sudah sepuh. Caranya?

Dalam cabang ilmu psikologi yang disebut gerontologi (ilmu tentang lanjut usia, juga ditemukan dalam kedokteran dan sosial), disebutkan bahwa menua merupakan proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994). Proses ini sebenarnya berlanjut secara alamiah, dimulai sejak lahir dan umum dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho, 1992). Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.

Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu :
1. Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia
2. Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif
3. Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila :
a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain),
b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
4. Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dsb.

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut:

1. Penurunan Kondisi Fisik
 2. Perubahan Aspek Psikososial
3. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
4. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat

Berdasarkan teori-teori tersebut, maka sikap kita pada Eyang sebaiknya:


                                                                                                         1. Eyang ...................

  1. Eyang Uyut sebaiknya tetap aktif secara fisik, tapi kita arahkan ke pekerjaan-pekerjaan ringan dan sesuai kehendak beliau saja. Bila tidak beaktivitas fisik sama sekali kurang tepat dan akan terlalu banyak waktu untuk melamun. Tapi terlalu berat dalam aktivitas fisik, apalagi yang ”terpaksa”, justru akan memperberat kondisi psikis. Seperti apa sih pekerjaan ringan yang menyenangkan buat Eyang? Ternyata Eyang Uyut pernah ngendikan bahwa pekerjaan paling berat itu momong, jadi marilah kita minimalkan. Eyang Uyut ternyata juga senang kebersihan dan memasak, jadi marilah kita menemani Eyang bersih-bersih rumah, belanja, dan memasak agar pekerjaan yang menyenangkan ini tidak terlalu berat untuk beliau.
  2. Alhamdulillah Eyang Uyut sebenarnya masih aktif dalam kehidupan sosial, terutama untuk pengajian, menghadiri walimahan, reunian, maupun kegiatan sosial di kampung. Perlu kita sadari juga bahwa Eyang Uyut memiliki kesempatan yang semakin terbatas untuk mengembangkan aspek psikososial. Kondisi kesehatan (fisik dan psikis), jumlah teman reuni sudah banyak yang tutup usia, juga fasilitas untuk Eyang bersosial. Marilah kita (terutama saya) berbakti dengan menjaga kesehatan Eyang Uyut dan memfasilitasi kehidupan sosial beliau. Kita ajak keluarga kita untuk sering silaturahmi ke Selokraman.
  3. Last but not least, marilah kita do’akan Eyang Uyut agar selalu sehat lahir-batin dan dunia-akhirat. Dalam teori tidak ada hal instant (kenyataannya juga begitu). Tidak ada istilah ‘nanti kalau sudah besar juga ngerti sendiri’. Kita anak-cucu Eyang Uyut yang sudah dewasa harus bisa memberi teladan pentingnya berbakti pada Eyang Uyut, bersilaturahmi, dan peka terhadap lingkungan sosial.


Oleh : A. Imadduddin

Ass wb


Ass wb
Hallo kbh..masih ingat perjalanan kita ke Jember beberapa waktu yang lalu ? Sambil buka buka foto rasanya masih terbayang semua peristiwa perjalanan kita. Diawali dari lde pakde Win sekalian yang sering berkumpul dengan kbh Yogya yang sudah menyewakan bis untuk kita semua. Sampai sampai mas Imad bilang " Lho...bapak ki serius mau ke Jember to ? "
Alhamdullah dengan izin Alloh... terlaksanalah perjalanan yang menyenangkan.
Kbh Yogya, Surabaya, Bandung, Tambun, Jember bertemu di rumah dinas mas Basith dan bermalam di sana. Ada yang sempat bermalam dua malam, satu malam bahkan separuh malam. Mengingat keterbatasan waktu masing2 yang berbeda beda.
Sebelum hari H terbayang kesibukan masing masing mempersiapkan segala sesuatunya. Yang bagian mencari bis tentu sdh berjibaku karena masa liburan sekolah kendaraan tdk mudah didapat. Yang mempersiapkan perbekalan spt minuman dan makanan ringan sampai pop mie segala sdh dipersiapkan sama kbh Yogya. Ternyata pop mie pada disukai anak2. Yanguti bahkan masih sempat mencari kacang dan kerupuk tahu untuk dibungkus kecil2. Yang di Jember  mulai survai tempat rekreasi dan meminjam kasur dan mempersiapkan segala sesuatu. Tambun, Bandung sibuk pesan tiket untuk berangkat dan pulangnya ketika sdh tidak bersama rombongan bis lagi. Yang di Surabaya sibuk menerima kehadiran keponakan2....smg semuanya menjadi amal sholeh.Amin. Sungguh indah kerukunan dan kebersamaan.
Ini kan baru belajar mengarang jadi segini dulu saja nanti dilanjudkan lagi


Dari : Warih WFR

MENGISI WAKTU


MENGISI WAKTU
       Saat ini jam dinding menunjukkan jam 23.45. Biasanya jam segitu aku sudah hilang dari peredaran alias sdh terlelap. Malam ini entah kenapa kok belum bisa tidur. Barangkali karena tadi siang tidur agak lama dan memang cuaca mendung dan hujanpun akhirnya turun rintik2. Ya sudah saya syukuri saja. Waktunya saya pakai untuk beraktifitas yang menurutku bermanfaat.
       Menulis sajalah untuk menambah nambah mengisi buletin kbh, begitu pikirku. Kususuri kegiatanku sehari tadi. Sehabis sholat subuh kusetel tv yang menyiarkan acara yang dibawakan Yusuf Mansur di An tv dan mamah Dede di Indosiar sambil senam2 kecil di depan tv. Mau jalan pagi kok aras arasen karena situasi di luar mendung. Ya sudah masak saja deh kebetulan punya krecek. Sms bulik Endar nanya resep bikin sambel krecek.Alhamdulillahbulik Endar kerso maringi resepnya.  Jadilah membuat sambel krecek dan hasilnyalumayan enak walau tidak seenak buatan bulik Endar....he.hee..
       Selesai masak kulihat di luar ada mobil berhenti. Ee...jebulane Ichsan datang mengembalikan mobil karena kemarin pinjam mobil untuk menjemput Sari.
Alhmdlh deh sambel krecekku bakalan laku, ada yang bantuin makan. Ee...tidak berapa lama lagi Addin datang...mampir mau ngantor...wah rumah jadi gayeng seperti zaman masih bersatu dulu. Dua anak kembar ini sering saling meledek dan bikin senyum senyum ibunya.
      " Hei ndut...ngapain lu ke sini ? " begitu sapa Ichsan kepada Addin..padahal dua duanya juga sama2 gendut....he..he...pissss
Kata Addin " Lha lu ngapain juga ke rumah ibu ? " jawab Ichsan " Mau minta makan..."....hi...hi..hi...sayangnya Basith kok jauh ya..kalau dekat lebih ramai lagi kali.
       Beberapa saat kemudian suasana sudah sepi lagi karena keduanya sudah pada pergi bekerja. Ayu sudah pergi bekerja lebih pagi karena tempat kerjanya lebih jauh. Sari kalau mau mengajar perginya bareng Ichsan.
      Jam 9.00 pergi nengok Balqis. E..taunya Balqis sedang tidur...ya sudah ngobrol ngobrol sama pengasuh Balqis.
      Habis duhur  janjian sama yang punya rumah di Arcamanik yang akan disewa rumahnya untuk kbh yang akan datang di resepsi pernikahan Nia&Sandy tgl 5 Januari 2013 nanti. Alhamdulillah insyaAlloh rumahnya cukup besar untuk menampung kbh. Jepret sana jepret sini di setiap ruangan untuk mengirim foto di WS.
       Sampai rumah kok ngantuk ya...?...tidur dulu ah...begitu merdikonya ya di rumah sendirian. E..Bangun bangun sudah asar. Sholat asar dan nyapu nyapu mumpung lagi mau..sambil buka buka fb dan WA.
Menjelang maghrib mas Bambang dan mbak Aam datang nganterin seragam untuk among tamu dam bawa oleh2....alhmdlh dapat rizki..he..he..
Alhamdulillah bisa sholat berjama'ah bertiga. Alhamdulillah juga pkd bd Bambang kerso bantuin makan sambel krecek. Mbak Aam memang berbakat jadi desainer nih sepertinya..milih warna baju dan modelnya bagus....siiip pokoknya.
        Jam sudah menunjukkan 24.45...sudah dulu ah nulisnya khawatit besuk pagi kesiangan.
Semoga kbh semua sll dalam lindungan Alloh swt..
Sampun ru.iyin nggih....

Oleh : Warih WFR

JALAN KELUAR


JALAN KELUAR
       Kali ini kok tumben ya mau nulis belum dapat ide. Ya sdh cerita cerita saja ya kbh. Hari ini Sabtu tgl 1 Desember 2012 acara kami agak bingung karena mau membagi waktu antara kepentingan saudara dan tetangga. Saudara mengundang pernikahan putrinya tgl 1 Desember 2012 di Malang. Tetangga minta tolong agar kami mau jadi penerima tamu di pernikahan putrinya tanggal 2 Desember 2012 di Bandung. Wah..piye iki…. Berhubung sdh terlanjur menyanggupi tetangga yang jauh jauh hari sdh meminta, akhirnya kami memutuskan mendatangi pernikahan tetangga dan yang di Malang diwakili Basith sekeluarga. Alhamdulillah Alloh SWT memberi jalan keluar terbaik. Saudara memaklumi dan tetangga senang.
       Dalam hidup memang manusia bisanya hanya merencanakan sedangkan semuanya Alloh SWT yang menentukan. Setiap persoalan dalam hidup kalau diserahkan kepada Alloh SWT memang Alloh SWT akan memberi jalan keluar.
       Ini cerita lagi dari pengalaman tetangga yang lain yang mau menikahkan anaknya. Ada sebuah keluarga yang punya anak perempuan sudah cukup umur namun belum mendapatkan jodohnya. Ayah ibunya selalu berdoa kepada Alloh SWT agar anaknya diberi jodoh yang terbaik. Dengan segala upaya kedua orang tua si anak berusaha selalu mengamalkan perintah Alloh dan menjauhi laranganNya. Dalam kehidupan bermasyarakat beliau2 selalu ringan langkah kakinya untuk menolong kepentingan orang lain. Alhamdulillah Alloh SWT mendengar doanya. Suatu hari si anak dipertemukan dengan teman waktu SD nya dulu dan ternyata sama2 belum berjodoh.
       Ada lagi pengalaman tetangga yang mau menikahkan anaknya tapi biaya tidak ada. Bisa dibayangkan seberapa bingungnya orang tua yang akan menikahkan anaknya tapi biaya belum tersedia. Namun pertolongan Alloh memang selalu ada untuk orang2 yang sholeh. Subhanalloh...dengan izin Alloh  ada tetangga lain yang bersedia menanggung biayanya. Allohuakbar...hilanglah kebingungan si tetangga tadi. Saya perhatikan si tetangga tadi ternyata punya amalan yang tersembunyi yaitu sering mengajar ngaji anak2 tetangga tanpa meminta bayaran. 
       Mari kbh semua...kita selalu berusaha mendekat kepada Alloh SWT agar Alloh SWT selalu menolong dalam kehidupan kita. Sampun rumiyin nggih...sampai jumpa di resepsi mbak Nia dan mas Sandy nanti tgl 5 Januari 2012 di Bandung. Semoga semua ASLB. Aamiin YRA. Terima kasih untuk redaksi yang tidak bosan2nya selalu menghimbau adik2nya untuk selalu berada dijalan kebaikan ...

Oleh : Warih Fauzi

SENYUM MATAHARIKU


SENYUM MATAHARIKU 
       Kadangkala kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Kadang juga kita mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Kita tidak dapat memilih situasi yang sedang terjadi, namun kita dapat memilih sikap dalam menghadapi apa yang sedang terjadi.
Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak. Yang sulung Sekar, kelas 6, perempuan. Yang kedua dan ketiga, Yudha kelas 4 dan Bagus kelas 3, laki-laki. Yang bungsu, Alya, 3 tahun, perempuan. Pagi itu, seperti biasa aku bermaksud mengantarkan Sekar ke sekolah. Inginku jam 6.30 sudah mengantar Sekar ke sekolah. Jam 7.00 gantian mengantar Yudha dan Bagus. Karena Sekar masuk jam 7.00, sekolahnya agak jauh. Yudha-Bagus masuk jam 7.15 dan tempatnya lebih dekat. Tapi keinginan tinggallah keinginan. Anak-anak bukan mesin terprogram yang bisa selalu tepat waktu.
       Pagi itu adalah pagi yang berantakan, begitulah menurutku. Harinya hari Sabtu, tanggalnya lupa (konon orang sanguinis tidak punya kalender di kepala). Anak-anak lelaki tidak mau bangun pagi. Alasannya karena hari itu Sabtu, hanya ekskul jadi malas ke sekolah. Sekar sudah bangun dan bersiap-siap, karena hari Sabtu KBM seperti biasa, tapi dia lupa kalau hari itu harus memakai baju pramuka, jadi kemarin baju pramukanya dimasukkan tempat cucian dan pagi itu masih basah kuyup. Ha, aku pontang-panting mencari pinjaman baju pramuka. Alhamdulillah, dapat bajunya. Roknya terpaksa beli karena tidak ada yang bisa meminjami. Alhamdulillah ada toko kelontong dekat rumah yang menjual ‘segala macam’ barang dan buka pagi-pagi. Berangkat ke sekolah sudah mendekati pukul 7.00. Sepertinya sepanjang jalan di kepalaku akan selalu menggantung awan mendung…. Sekar terlambat, anak-anak laki-laki belum bangun. Belum lagi Alya menangis waktu ditinggal mengantar sekolah. Sepulang mengantar Sekar masih harus membangunkan Yudha-Bagus dan mengantar mereka. Terus mau masak apa hari ini ya? Belanja apa? Belum mencuci, belum ini dan belum itu dll… Beginilah setelah aku tidak punya pembantu. Mungkin karena tidak biasa mengerjakan pekerjaan rumah, jadinya terasa sekali repotnya. Jalanan agak padat. Aku tidak bisa tarik gas (kalau mobil tancap gas ya.. ). Lalu sambil jalan pelan-pelan aku mulai memperhatikan wajah orang-orang yang berpapasan denganku. Waw! Ternyata banyak ragam ekspresi yang kutangkap. Ada yang terlihat penuh semangat (mungkin hari itu gajian). Ada yang serius (yang ini sepertinya mau presentasi –he, emang seperti suamiku yang serius banget kalau mau presentasi??), ada yang melamun (mungkin terkenang mimpinya semalam). Ada yang masih ngantuk (barangkali semalam kebagian ronda). Ada juga yang cemberut jelek sekali (seperti aku kali ya?). Ada juga yang ketawa-ketiwi mengobrol dengan temannya (yang ini anak sekolahan dan pegawai pabrikan sepertinya). Lalu kulihat dia. Seorang siswi SMP Putradarma. Hampir setiap pagi aku berpapasan dengannya kalau sedang mengantar Sekar. Wajahnya lembut, imut-imut, teduh, polos… apa lagi ya? cantik. Seingatku setiap pagi yang kulihat sama. Dia naik sepeda, mengayuhnya dengan santai. Wajah lembutnya tidak menunjukkan ekspresi tertentu. Hanya terlihat polos dan damai, tenang tanpa masalah. Enjoy aja… Melihatnya walau sekilas membuatku berpikir. Sebenarnya… apa masalahku, sampai mengundang mendung di atas kepalaku? Padahal hari ini matahari masih bersinar walau sedikit tertutup mendung tipis. Padahal aku sehat dan motor juga tidak ada masalah jadi bisa mengantar Sekar ke sekolah. Padahal begitu banyak nikmat Allah melingkupiku, sementara banyak orang tidak seberuntung aku.
                                                                                                        Sampai ……………………
       Sampai di sekolah, Sekar terlambat. Tapi Alhamdulillah tidak apa-apa. Gurunya maklum.. Pulangnya aku mampir beli Koran untuk suamiku, di agen Koran dekat sekolah Sekar. Di sana aku dulu mengambil Koran untuk dijual, bertahun-tahun yang lalu waktu kami buka kios buku. Si Mpok penjual Koran habis mandi. Bersih dan wangi. Ketika melihatku masuk, dia mengenaliku, tersenyum lebar dengan bibir dan matanya –mungkin tepatnya seluruh dirinya. Sumringah. Aku terheran-heran ketika seperti gelembung sabun yang tiba-tiba pecah, mendung di atas kepalaku benar2 sirna. Setelah membeli Koran dan basa-basi sebentar, aku pulang dengan senyum dan matahari di atas kepalaku. Ternyata dengan senyum, hidup terasa lebih indah. Aku bisa berpikir, memang kenapa kalau Yudha dan Bagus belum bangun? Kalaupun tidak sekolah hari ini, bukan berarti itu akhir dari dunia. Alya mungkin sekarang sudah asyik bermain dengan ayahnya sementara aku sibuk menghawatirkan tangisnya tadi saat kutinggal. Tetek bengek yang lainnya pun bisa dikerjakan pelan-pelan. Jadi… So what gitu loh…!! Just keep on smile. Life must go on.
Masalah tetap ada. Tinggal aku mau tersenyum dan bersyukur atau cemberut dan mengeluh.
Alhamdulillah, hari itupun berlangsung dengan baik. Walau perlu perjuangan dan terlambat, Yudha-Bagus akhirnya berangkat sekolah juga. Masakan yang enak dan bergizi juga tersedia. Lain-lainnya juga berjalan cukup baik. Memang sih malam harinya kedua kaki terasa panas dan berdenyut-denyut karena lelah. Tapi aku percaya semua itu tidak sia-sia.
Ketika semua telah terlelap, kupandangi suami dan anak-anakku. Tanpa terasa aku tersenyum, yang anehnya bersamaan dengan itu, air mataku mengalir di pipi. Senyum dan air mata bahagia. Tiba-tiba saja aku menyadarinya: Aku bahagia! Bahagia itu bukannya tidak pernah mengeluh sama sekali. Bahagia itu bukannya tidak pernah merasa susah atau kekurangan. Kusadari bahagia itu adalah ketika aku menikmati kekinian. Menikmati apa yang tengah terjadi dengan penuh rasa syukur. Begitu banyak karunia Allah yang bisa dan wajib kusyukuri. Itu bisa kumulai dengan bersyukur pada Allah atas pemberianNya yang melekat pada ruhku, mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu kebersamaanku dengan orang-orang yang aku cintai, yang kusadari sungguh bila Allah menghendaki, salah satu dari mereka bisa jadi hanya tinggal kenangan yang hidup dalam hati. Akupun harus mensyukuri fasilitas yang kumiliki saat hidup di dunia ini. Dan yang lebih-lebih aku syukuri adalah hidayah Allah yang menjadikan aku sebagai orang yang beriman. Karena dengan keimanan, hidupku yang hanya sekali ini punya harapan untuk bahagia di akhirat nanti. 
       Alhamdulillah, sekarang bila hati tergoda untuk bersedih, aku berusaha memikirkan semua nikmat Allah yang telah diberikanNya padaku, dan mensyukurinya. Kufokuskan perhatianku kepada apa yang telah kumiliki, bukan pada apa-apa yang belum kumiliki. Misalnya saat rumahku bocor, bila kulihat orang-orang dengan rumah kokoh dan megah, tentu membuat hatiku lebih merana. Tetapi bila yang kulihat adalah orang-orang yang rumahnya kebanjiran, aku bisa bersyukur karena, apalah artinya rumah bocor bila dibandingkan mereka yang rumahnya tenggelam oleh banjir? Alhamdulillahirabbil’alamiin, bersyukurlah orang-orang yang bisa bersyukur, karena banyak orang lupa untuk bersyukur dari hati, untuk kemudian diungkapkan dengan ucapan dan perbuatannya.
Bekasi, 10 februari 2010
By : Deroem

DISIPLINNYA AYAHKU


DISIPLINNYA AYAHKU
(Teladan 2)

       Dale Carnegie menulis dalam salah satu bukunya bahwa seseorang itu setidak-tidaknya mempunyai satu kelebihan dibandingkan orang lain sehingga pantas untuk dihargai. Beranjak dari sini, aku teringat akan almarhum ayahku, yang tidak hanya dianugerahi satu kelebihan oleh Allah dibanding orang lain, tetapi banyak kelebihan, walapun tentu ada juga kekurangannya. Dari sekian banyak kelebihan itu, salah satu yang sangat berkesan bagiku adalah kedisiplinan ayah dalam mentaati peraturan  lalu lintas dan aturan yang terkait dengan itu (kelebihan yang lain, aku mohon saudara-saudaraku yang menceritakannya) . Beberapa contoh kedisiplinan ayah:

  • Suatu ketika ada seorang tetangga ingin pinjam motor ayah. Ketika ditanya apakah dia punya SIM, tetangga itu menyatakan belum punya. Ayahpun tidak memperkenankan motornya dikendarai oleh orang yang belum punya SIM. Tetangga itu tampak mendongkol, tetapi ayah tetap tidak mengijinkan motornya dipinjam

  • Di saat yang lain, dalam perjalanan Bandung-Jogja, di daerah Batang, mobil ayah yang dikendarai oleh salah satu saudara, terkena tilang karena lampu di plat nomer belakang tidak menyala di malam hari (dalam surat tilang tertulis lampu rem mati). Sebetulnya, bisa saja saat itu diurus secara damai dengan membayar sekian rupiah. Tetapi ayahku tetap memilih sidang di hari yang telah ditentukan di kota itu, walaupun memerlukan biaya dan waktu yang lebih banyak dibanding diurus secara damai.

  • Ayah tidak pernah mau melanggar lampu lalu-lintas. Saat merah harus berhenti dan baru jalan kalau sudah hijau.

Mengenang begitu disiplinnya beliau dalam berlalu-lintas, membuat aku malu jika tidak bisa meneladaninya. Aku malu terhadap diriku sendiri. Malu terhadap ayah-ibuku yang telah mendidik dan membiayaiku sehingga aku bisa membaca dan tahu aturan lalu-lintas. Apalagi jika aku bandingkan dengan ketertiban lalu lintas di negeri kecil, tetangga kita. Mengapa meraka bisa begitu disiplin, sedangkan kita warga dari sebuah negara yang besar ini justru mengabaikannya? Maka aku  berusaha (mudah-mudahan Allah mengijinkan):

                    
  • Ketika
  • Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku harus mengenakan helm, walaupun untuk tujuan yang dekat di sekitar tempat tinggalku. Alasan hanya jarak dekat saja kok harus pakai helm, aku bantah sendiri, mengapa jarak dekat saja harus pakai motor.

  • Ketika lampu merah menyala, aku harus berhenti. Biarlah orang-orang di sekitarku tetap melaju dengan alasan tidak ada polisi. Bagiku melanggar lampu merah, disamping suatu kesalahan, juga menganiaya orang lain yang seharusnya berhak dan bisa terus berjalan, tetapi terhalang karena hak jalannya aku langgar.

  • Ketika aku berkendara harus membawa SIM yang sesuai beserta STNK-nya

  • Aku tidak mengijinkan anak-anakku mengendarai kendaraan bermotor sendiri sebelum mereka mempunyai SIM yang sesuai.

Saudaraku, inilah ceritaku…, apa ceritamu?


Dugan SY, Oktober 2012