Halaman

Kamis, 21 Maret 2013

PERCAKAPAN BUDE DAN PRUNANNYA


PERCAKAPAN BUDE DAN PRUNANNYA
Oleh : Ninik Darwinto
       Bude sedang berbincang-bincang dengan dua orang prunannya, sebut saja prunan besar dan prunan kecil.
Bude (Bd) bertanya : “Apa yang paling tidak kamu sukai ketika kamu di rumah?”
Jawab Prunan Besar (PB) : “Di marahi”. 
Bd : “ Memangnya siapa yang suka marah?”
PB : “Ibu”. Jawabnya singkat.
Eeee Prunan Kecil (PK) ikut nyambung : “Sama, ibuku juga suka marah”. 
Bd nyambung lagi : “Coba kamu tanya sama anaknya Bude, kira-kira ibunya suka marah gak ya?” Paling-paling jawabnya sama, Ibuku juga suka marah…. 
Hahahahaha, kami bertiga tertawa ngakak.
       Lain lagi ceritanya, cucu Bude lapor ke Papinya, katanya Eyang marah, jadi cucu tidak mau lagi ke rumah Eyang. Ketika Bude ngobrol sama tetangga cucu, dapat info bahwa Kakak tidak mau ke rumah Eyang karena Eyang hanya mengurus Adik terus, Kakak di suruh mengalah. Padahal Adik sebenarnya usil juga…. Hehehehe… Yang ada di benak Eyang, yang besar harus momong yang kecil. Ternyata yang besar sebenarnya masih kecil juga. Maklum baru 6 (enam) tahun.
       Dari cerita di atas, nampaknya orang tua marah itu tidak di sukai oleh anak ataupun cucu. Pantesan Eyang Uyut yang tidak pernah marah menjadi favorit dan di sukai oleh cucu-cucunya. Pernah terjadi, si Ibu yang sedang memarahi anaknya, di komentari oleh anaknya : “Bu, mbok seperti Eyang itu lho, tidak pernah marah”.
       Mengapa orang tua suka marah kepada anaknya? Keberadaan orang tua bersama anak-anaknya pada umumnya dalam waktu yang relatif panjang. Posisi orang tua yang merasa telah bersusah payah mengasuh anak/cucu, harus mencukupi kebutuhan anak, tanpa di sadari menuntut agar anaknya patuh kepada orang tua. Anak di tuntut untuk menjadi seseorang sesuai keinginan orang tua. Terkadang anak di tuntut untuk menjadi seseorang yang sebenarnya hal tersebut adalah ambisi orang tuanya yang tidak kesampaian. Sehingga ketika melihat anaknya kurang tekun belajar, ketika anaknya bermain terus, maka orang tua cenderung memarahinya. Sebenarnya maksudnya baik, agar supaya anaknya kelak menjadi orang “besar”, atau paling tidak hidupnya tidak kesulitan di kemudian hari, atau kehidupan anaknya kelak lebih baik dari orang tuanya saat ini.
                                                                                                        Beberapa ………………………..      
       Beberapa orang besar di Indonesia bercerita bahwa dulu orang tuanya keras dalam mendidik anaknya, seperti Dahlan Iskan, misalnya. Tetapi apabila cara memarahi anak menjadikan anak tidak nyaman, maka anak akan mencari tempat lain yang bisa membuat nyaman. Jika tempat lain tersebut adalah tempat yang benar, misal di sekolah bersama guru yang baik dan benar, atau di masjid bersama ustad yang baik dan benar, tentu akan menjadikan anak lebih baik. Tetapi bagaimana jika lari kepada temannya yang kebetulan tidak baik? Pecandu narkoba? Atau di rekrut oleh orang yang berkedok ibadah namun ajarannya menjerumuskan? Anak akan terjerumus pula kepada hal-hal yang tidak baik, bisa kecanduan narkoba, bisa jadi teroris, naudzubillahi min dzalik. Semakin anak tidak baik, semakin orang tuanya sering marah. Maka kehancuran yang akan di temui. Siapa yang merugi?
       Berbeda situasi dan kondisi, ketika Bude masih bekerja di kantor, atasan Bude pernah bilang : “Kamu saya usulkan menjadi Kepala Bagian, jika kamu sudah bisa marah kepada anak buah”. Lho… kok begitu ya? Apakah seorang pimpinan di tuntut untuk bisa marah? Setelah di renungkan, yang di maksud oleh atasan adalah bersikap tegas, jangan lembek. Karena ketegasan tersebut perlu di tunjukkan shingga dalam waktu singkat anak buah mengerti maksudnya, maka perlu di aktualisasikan dengan cara marah. Barangkali sifatnya situasional, tergantung kondisi saat itu. Namun kenyataannya bersikap tegas dengan marah masih di perlukan, di lingkungan kantor. Konon Dahlan Iskan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN pernah membagi-bagikan uang kepada anak buahnya yang dulu sering kena marah. Semakin sering kena marah maka uang yang di terima semakin besar. Sehingga anak buahnya ada yang berkomentar : “Kalau tahu begini, aku ingin sering di marahi Pak Dahlan Iskan”. Dan fakta membuktikan, bahwa Pak Dahlan Iskan sukses dalam memimpin Jawa Pos Group dan memimpin PLN. Bagaimana dengan menjabat sebagai Menteri Negara BUMN? Mari kita amati bersama.
       Ternyata, marah juga diperlukan untuk menggapai tujuan. Apakah itu dalam keluarga ataupun organisasi. Hanya saja perlu strategi dalam melepas kemarahan agar hasilnya sesuai harapan. Apabila penyaluran marah dengan emosi yang tidak terkendali, bisa menjadikan renggangnya hubungan anak dengan orang tua, ataupun atasan dengan bawahan. Jika sudah tahu demikian, terutama dalam rumah tangga, mengapa orang tua tidak mengendalikan kemarahannya demi masa depan keluarga yang lebih baik? Ibarat bermain layang-layang, ada saatnya benang kita tarik, ada saatnya benang kita lepas, jadi harus ada kendali. Namun dalam suatu riwayat, ada seorang sahabat yang meminta nasehat kepada Nabi SAW, yang di jawab oleh Rasul : “Jangan marah”. Untuk itu, marilah kita sama-sama mengendalikan diri untuk tidak mudah marah, terutama kepada anak-anak dan keluarga kita.
Catatan :
  • Prunan : anaknya adik
  • Ponakan : anaknya kakak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame