EYANG HOEDAN
Sebagai cucu pertama, mungkin saya yang paling lama ketemu beliau disbanding adik-adik (tingkat cucu). Semua kenangan tentang Eyang Hoedan adalah baik. Beliau telah menurunkan gen kecerdasan yang luar biasa sehingga anak-cucu menikmati potensi kecerdasan yang baik pula. Terbukti dari 7 cucu-nya yang telah atau sedang kuliah, hampir semua diterima di universitas negeri, bahkan beberapa termasuk cucu mantu sampai ke strata post graduate..hehehe. Semoga tradisi ini berlanjut sampai cucu terakhir dan buyut-buyut kelak.
Kecerdasan Eyang Hoedan juga terwujud dalam bentuk penyusunan sistem kalender ’Tahun Doremif’. Sebenernya sistem penanggalan ini sangat unik karena kita dapat mengetahui ’weton’ (hari yang dikombinasikan dengan pasaran Jawa) dengan cepat. Sayang sekali anak-cucu Eyang Hoedan tidak ada yang mewarisi ilmu ini dan malah jatuh ke tangan mas Isnawan (kakak sepupu saya dari Bapak Darwinto). Alhamdulillah masih ada yang mewarisi dari keluarga sendiri sih..hehehe. Selain itu Eyang Hoedan juga menyusun teori bermain rubik/kubus, apit-balik, dan permainan-permainan lain yang sangat rumit. Pada zaman computer masih merupakan barang langka dan pengoperasiannya sangat njlimet, Eyang Hoedan sudah punya dua computer di rumah Selokraman dan menjadi suhu bagi generasi pertama pemakai computer se-Kotagede. Banyak teman-teman saya yang lebih tua di Kotagede yang selalu mengenang jasa Eyang Hoedan dalam mendidik mereka hingga mereka punya kehidupan yang lebih baik sekarang. Jadi, kecerdasan Eyang Hoedan sebenernya tidak hanya kecerdasan intelegensi, tapi juga kecerdasan sosial dengan berbagi ilmu, bahkan pernah aktif di masyarakat sebagai ketua RT. Semoga kecerdasan sosial ini juga bisa kita lestarikan agar anak-cucu Bani Hoedan juga dikenal dapat bermasyarakat dengan baik, bermanfaat bagi tetangga dan ummat.
Eyang Hoedan juga mewariskan kita budaya kejujuran dan keteguhan memegang amanah. Beliau sangat tertib dan amanah dalam masalah keuangan. Eyang selalu mengembalikan kelebihan uang BBM dari Telkom bila tersisa di akhir bulan. Semoga kejujuran ini juga menurun ke kita semua.
Secara pribadi, kenangan saya bersama Eyang Hoedan sih suka bercanda dan tidak mudah marah sama saya. Waktu kecil suka disikep dan menggosokkan jenggotnya ke pipi saya..hahahaiyy,geli sekali. Maaf ya anakku Raihani dan Aina kalo sekarang saya melakukan hal yang sama pada kalian. Eyang Hoedan juga pernah aku siram air karena aku kira lik Mingki. Waktu itu saya sedang mandi di kamar mandi Barat Pendapa Selokraman (dua kamar mandi satu bangunan yang sekatnya nggak sampai atap). Sebelum mandi memang abis bercanda sama lik Mingki. Tau-tau ada yang masuk di kamar mandi sebelah dan pas aku tanya: ”Siapa di sebelah?”.
Kamar mandi sebelah manjawab: ”Akuuuu” (dengan suara dibuat-buat yang menurutku pasti lik Mingki). Langsung deh aku siram air segayung. Masalahnya kok nggak mbales ya? Nah, pas keluar kamar mandi kebetulan sebelah juga pas keluar. Saya langsung lari tunggang langgang begitu lihat Eyang Hoedan basah kuyup (ternyata beliau cuma pipis). Konyolnya aku sembunyi di kamar lik Mingki..hihihi..Ternyata Eyang Hoedan nggak marah dan hanya menasehati agar nggak suka nyiram orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame