LAHAT
Oleh : Ninik Darwinto
RENCANA PERJALANAN
Pernikahan Nur dan Yuda, sesuai undangan akan di laksanakan pada tanggal 2 Februari 2013 di Palembang. Dalam rangka menghadiri pernikahan Nur (temannya Adik almarhum), PdW dan BdN sekaligus ingin berjalan-jalan di Sumatera. Kebetulan Dimas bekerja di Perkebunan Kelapa Sawit yang lokasinya di Lahat. Selanjutnya BdN mencari info perjalanan dari Palembang ke Lahat. Ternyata ada travel dari Palembang ke Lahat yang di tempuh kira-kira 6 jam, sedangkan untuk mencapai kebun London Sumatera di mana Dimas bekerja, masih 30 km lagi. Tetapi karena jalanan rusak, maka perlu waktu 1 sampai 1,5 jam. Waduh, ternyata perlu waktu yang relatif lama.
Persiapan selanjutnya, tanya Bu Ndarti, apakah bisa menjaga Aina hari Jum’at sore dan Senin pagi? Jawabnya : Siiiip. Oh ya, Bu Ndarti adalah tetangga Imad yang biasanya dititipi cucu jika kami ada keperluan. Kebetulan orangnya enthengan (suka menolong) dan para cucu lengket sama keluarganya. Kami merencanakan perjalanan ke Palembang dengan Lion Air berangkat Jum’at menjelang siang, transit di Jakarta terus ke Palembang. Pulangnya Senin pagi dari Palembang, dengan harapan, sore hari masih bisa menjemput sekolah Aina. Sedangkan Hani bisa di jemput Papinya, dan biasanya terus ikut membantu di warung. Tetapi perlu menghubungi Dimas dulu, ada di tempat apa tidak pada tanggal 2 dan 3 Februari 2013. Ha? Ternyata Dimas mau tugas ke Medan? Dan Pak Darus yang sedang berada di Lahat (nengok Dimas) mau pulang ke Yogya? Setelah menghitung waktu, diadakan kompromi. Ternyata Dimas Sabtu (2 Februari) sudah kembali ke Lahat, dan Pak Rus yang semula sudah mau pulang ke Yogya (karena di tinggal Dimas ke Medan), bersedia menunggu kami dengan catatan pulangnya ke Yogya bareng kami. Alhamdulillah..
Karena jadwal yang ketat, acara padat, Dimas tidak di tempat, maka perlu mencari informasi adanya mobil sewaan untuk sampai ke kebun. BdN tanya ke teman di BRI Palembang, kemungkinan menyewa mobil, apakah dari Lahat ke kebun atau dari Palembang langsung ke kebun? Eeee buntutnya malah di pinjami mobil BRI Palembang sekalian sopirnya, bahkan ada yang ingin mengawal perjalanan dari Palembang ke kebun, pergi pulang, Mas Nanang Catur namanya. Alhamdulillah.
ACARA HARI PERTAMA DI PALEMBANG.
Perjalanan dari Yogya ke Palembang perlu transit di Jakarta, kira-kira 2 jam. Dari Yogya dengan pesawat jam 10.50 sampai Jakarta jam 12.05 disambung dengan pesawat ke Palembang jam 14.20 mendarat di Palembang jam 15.20 Kebetulan ada teman pensiunan BRI yang pernah bekerja di PKSS Yogya, Pak Mustafa Effendi namanya. Ketika di kabari kalau kami mau ke Palembang, spontan Pak Mus menawarkan akan menjemput di bandara Palembang dan mencarikan penginapan yang dekat dengan acara pernikahan Nur-Yuda. Alhamdulillah. Teman dari Kanwil BRI (Mas Budi Santoso dan Mas Nanang Catur, keduanya di rekrut BRI ketika BdN bertugas di Kantor Pusat BRI, 23 tahun lalu, dalam program yang bernama AO KBP), juga menjemput di bandara. Setelah bertemu di bandara Palembang (Bandara Sultan Mahmud Badarudin II), di sepakati kami beserta rekan dari BRI ke rumah Pak Mus dulu. Ternyata Bu Mus sudah menyiapkan empek-empek, tekwan, kerupuk ikan, duku dan rambutan khas Palembang. Hemmm nyam nyam nyam, nikmatnya makanan khas Palembang ini, semua kami cicipi, kenyang deh.
Dari rumah Pak Mus, PdW dan BdN diantar teman BRI ke rumah Mas Burhan Suwardi (famili dekat, anggota Tresno Wandowo yang ber mukim di Palembang). Lagi-lagi di suguhi empek-empek, kali ini di temani risoles dan teh hangat. Makan lagi deh, demi menghormati tuan dan nyonya rumah, dan juga demi memanjakan lidah dengan makanan enak. Hehehe.. Ternyata hari Jum’at sore, Palembang macet juga, seperti di Jakarta saja. Perjalanan menuju hotel makan waktu relatif lama. Tawaran makan malam dari teman BRI terpaksa kami tolak, di samping sudah kenyang, juga badan capai. Ke bayang besok akan perjalanan jauh ke Lahat, perlu istirahat jaga stamina. Malam itu PdW dan BdN menginap di hotel Swarna Dwipa, Jln Dr Wahidin Palembang.
MENGHADIRI ACARA PERNIKAHAN NUR-YUDA.
Akad Nikah Nur-Yuda di jadwalkan jam 9 pagi, di masjid Baitul Atiq yang lokasinya dekat dengan hotel. Kami jalan kaki menuju masjid tersebut. Acara sedikit mundur, menjadi di mulai jam 9.30. Kami sempat berbincang dengan orang tua Nur, mereka sudah tahu kami akan hadir, mereka tahu juga bahwa kami orang tuanya Ainul Arif almarhum. Rupanya Nur banyak cerita tentang kami kepada orang tuanya. Alhamdulillah acara akad nikah berjalan lancar, jam 10.30 sudah selesai. Ketika acara di lanjutkan dengan makan-makan, kami menyelinap kembali ke hotel. Ingin rasanya segera melakukan perjalanan ke Lahat.
PERTEMUAN DENGAN TEMAN LAMA.
Sampai di hotel, Mas Nanang dan Mas Aidil (Pengemudi mobil BRI), telah siap. Kami ganti kostum menyesuaikan dengan acara perjalanan santai dan cek out dari hotel. Jam 11.00 siap berangkat ke Lahat menggunakan mobil kijang inova. Setelah melewati jembatan ampera, kami lewat jalan yang di kiri kanannya semak belukar, daerah rawa-rawa. Di beberapa tempat ada warung, juga ada rumah-rumah penduduk walau tidak banyak. Baru berjalan satu jam, kami sudah berhenti untuk makan di rumah makan Padang, daerah Indra Laya. Selesai makan, sholat dulu di masjid sebelah rumah makan. Perjalanan berlanjut, namun baru berjalan kira-kira 1 jam, Mas Nanang sudah telpon-telponan, janjian mau ketemu di Prabumulih. Di BRI Cabang Prabumulih ada 3 orang AO KBP yang ingin bertemu kami. Mereka adalah Mas Kiswo, Mas Jono dan Mas Joni. Kami di ajak ke Rumah Makan Candy empek-empek. Makan lagiiiii dengan menu khas Palembang. BdN mencoba Mi Chelor (mi dan toge di beri kuah seperti pasta encer di buat dari ikan dan di tabri udang). Di sediain juga empek-empek. Senang sekali bertemu teman-teman lama. Sejujurnya BdN sudah tidak mengenali mereka lagi, karena bertemu mereka pada waktu mereka pendidikan di Kantor Pusat BRI kira-kira 23 tahun yang lalu. Namun setelah berbincang-bincang, jadi ingat kembali ketika mereka baru masuk di BRI. Subhanalloh, mereka masih mengenal BdN, masih ingin bertemu, ingin berbagi cerita kesuksesan masing-masing. Dulu ketika penempatan di BRI, hampir semua AO KBP di tempatkan di BRI Luar Jawa untuk menangani Kredit Perkebunan Rakyat. Sebagian besar akhirnya menikah dengan wanita setempat di tempat kerjanya. Hal tersebut menjadikan mereka betah bertempat tinggal di kampung orang, jauh dari kampung halaman sendiri. Dan ternyata berkarir di luar Jawa memberikan banyak kesempatan mengaktualisasikan diri. Sebagai perantau, umumnya di tuntut untuk bekerja keras, mencari kesempatan untuk menambah penghasilan. Diantaranya dengan berkebun, memanfaatkan ilmu yang di peroleh sebagai bekal menangani Kredit Perkebunan Rakyat. Ada juga yang beternak, karena lahan di luar Jawa mendukung untuk usaha tersebut. Untuk bisa betah di kampung orang, katanya juga dengan cara bergaul di kampung, aktif di masjid, ikut olah raga bersama warga, aktif di kegiatan masyarakat, dsb. Dengan kesuksesan hidup mereka, rata-rata setiap tahun pulang kampung, ada yang ke Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, bahkan dalam setahun sering lebih dari satu kali.
Perjalanan Palembang – Lahat, melalui kota-kota : Indra Laya, Prabumulih, Muara Enim, baru kemudian Lahat. Perjalanan di tempuh dalam 6 jam, termasuk mampir-mampirnya. Sesampai di kota Lahat, ada juga AO KBP yang namanya Suharjanto. Kami di minta mampir ke kantor BRI Lahat. Ternyata Kepala Cabang BRI Lahat, Bp Sudarno, ada di kantor juga. Bahkan akhirnya beliau ikut mengantarkan kami ke kebun Lonsum, yang sebenarnya tidak terlalu jauh, namun banyak ruas jalan yang hancur sehingga mobil harus jalan extra hati-hati. Kami merasakan indahnya punya banyak teman baik, walau perjalanan jauh dan melewati pula jalanan rusak, rasa nikmat bercanda dan bernostalgia menambah semangat kami bersilaturahim.
TEMPAT KERJA DIMAS
Perjuangan untuk mencapai rumah dinas Dimas banyak di bantu oleh teman BRI Lahat. Berbekal alamat : Perkebunan London Sumatra, Emplasemen 63, dan ancer-ancer yang di berikan Dimas, yakni melewati SP (Satuan Pemukiman) 6, SP 3, dan rumah-rumah hutan (rumah panggung tak berpenghuni, karena biasanya hanya untuk singgah sementara pemilik kebun yang sedang mengerjakan kebunnya). Ternyata kampung tetangga Dimas adalah para transmigran. Untuk lebih meyakinkan tidak salah jalan, juga bertanya kepada penduduk yang kebetulan nasabah BRI, akhirnya ketemu juga rumah Dimas. Ternyata, perusahaan di mana Dimas bekerja adalah nasabah BRI Lahat. Setiap bulan BRI Lahat membayarkan gaji para karyawan di lokasi kerja Dimas. Mobil Rocky (double gardan, cocok untuk perjalanan off road) yang di gunakan Bapak Kepala Cabang BRI Lahat mengantar kami ke kebun, sangat di kenal oleh penduduk setempat dengan sebutan “mobil gajian”.
Komplek perumahan dimana Dimas bekerja dan bertempat tinggal berada di tengah-tengah perkebunan seluas kurang lebih 2.000 ha. Sekitar kebun masih banyak hutan, dan juga perkebunan rakyat. Dari kota Lahat ke kebun melalui beberapa perkampungan, hutan-hutan, kebun rakyat, dan tentu saja kebun milik perusahaan (London Sumatra) di mana Dimas bekerja. Komplek perumahan tersebut merupakan perumahan yang relatif baru di dirikan, belum banyak pohon-pohon besar sehingga tarasa perampang (panas). Karena di luar perumahan ada area perkebunan, maka udara yang terbawa angin menerpa menyejukkan. Untuk keperluan listrik menggunakan genset, akan tetapi tersedia tidak sepanjang hari. Sedangkan keperluan air di sediakan perusahaan menggunakan air waduk yang keruh kemudian di proses sehingga layak untuk keperluan rumah tangga, namun belum layak untuk di konsumsi. Air mineral menjadi andalan untuk minum dan masak. Untuk keperluan makan, ada beberapa warung makan, yang kata Dimas bisa ngutang di bayar saat gajian. Lumayan. Jika mau masak sendiri, ada tukang sayur yang datang setiap pagi kira-kira jam 8, akan tetapi jika hari hujan tidak jualan, karena jalanan licin sulit untuk di lewati. Kami lihat, jarang ada tanaman hias atau tanaman sayur mayur dan obat-obatan di halaman rumah. Ternyata, karena sapi bebas berkeliaran, bahkan ketika Bdn n PdW jalan pagi, ada sapi berkeliaran di rumah kosong bagaikan penghuninya saja. Perusahaan menyediakan rumah sederhana untuk pekerjanya, seperti rumah Dimas terdiri dari 2 kamar, ruang keluarga/tamu, dapur dan kamar mandi. Jadi ingat rumah BTN di Kunciran ketika belum di pugar, namun halamannya lebih luas. Rumah para pejabat tentu jauh lebih besar, halamannya juga lebih luas dan banyak tanamannya. Mungkin sapi-sapi tahu kalau itu rumah pejabat sehingga tidak di hampiri… hehehe. Karena ada yang jaga kali. Di dalam komplek terdapat surau/mushola, ada juga sekolah taman kanak-kanak. Di dinding sekolah tersebut penuh gambar-gambar pemandangan, hewan, tanaman, dsb. Dimas ikut andil menggambarnya. Memperhatikan komplek perumahan yang masih baru, dengan fasilitas dari perusahaan yang sangat terbatas, maka hiburan pun juga terbatas. Para penghuni harus pandai-pandai mengisi waktu, dan perlu kekompakan agar tidak kesepian. Kalau Mbah Darus, jelas hiburannya mancing. Di dalam dan sekitar kebun ada sungai. Barangkali kondisi tersebut yang menyebabkan FB Dimas kadang terpasang status : bosan.
Kegiatan Dimas sehari-hari, dengan jabatan sebagai Krani (pengelola administrasi kebun), banyak berhadapan dengan komputer. Namun untuk mengumpulkan data mengharuskan Dimas mendatangi lokasi-lokasi kebun lain guna mengambil datanya. Keahlian Dimas mengendarai mobil juga merupakan peluang mendapat tugas sebagai pengemudi. Bahkan, ketika kami datang, Dimas sedang ke Medan menjemput keluarga atasannya. Dilanjutkan dengan mengantarkan keluarga tersebut jalan-jalan sampai Denpasar. Berarti Dimas mengendarai mobil dari Medan sampai Denpasar pergi pulang. Jalan yang di tempuh berpedoman kepada penunjuk jalan yang ada dan tanya sana-sini termasuk melalui BBM. Subhanalloh. Itulah perjuangan hidup Dimas. Semoga selalu dalam lindungan Alloh.
PENUTUP
Alhamdulillah kami bisa jalan-jalan ke Lahat. Sebagai pensiunan, kami mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum. Namun ternyata kami masih menikmati fasilitas BRI, dengan mendapat pinjaman kendaraan berikut pengemudinya. Bahkan tidak hanya itu, sambutan teman-teman sejak turun dari pesawat di Palembang sampai kembali ke lapangan terbang lagi, sungguh luar biasa dan tidak terkirakan sebelumnya. Subhanalloh. Semoga Alloh memberikan balasan kepada mereka atas pengorbanannya menyambut kehadiran kami.
Banyak pelajaran yang kami dapatkan. Diantaranya, adalah indahnya persahabatan, manfaat silaturahim, dan juga perjuangan hidup teman-teman, termasuk Dimas. Dengan merantau, jauh dari kampung halaman, menumbuhkan semangat hidup dan kesempatan mengaktualisasikan diri.
Semoga kami dan juga sidang pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita perjalanan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame