PAK HOEDAN DAN PENULISAN BUKU SILSILAH TRESNA WANDAWA
Oleh : Darwinto Nawawi
Tresna Wandawa (dan kita menjadi anggotanya) seperti sudah kita ketahui bersama adalah perkumpulan trah yang antara lain mempunyai ciri khas :
- Mempunyai dua pancer utama sejak berdirinya (Kyai Syarifuddin dan Tumenggung Wirarejo)
- Usia Tresna Wandawa lebih tua dari Republik Indonesia, TW didirikan sekitar tahun 1935.
Karena dari awal sudah mempunyai dua sumber utama (pancer), maka tentu saja sangat diperlukan keuletan, ketelatenan dan semangat tinggi untuk “nggathuk-nggathuk-ke” persaudaraan antar anggota. Ditambah juga, generasi pendiri Tresna Wandawa sendiri (antara lain Pakdhe Djarojan, Pakdhe Marwan, Pakdhe Syabrowi dan Pakdhe Wawi) sudah ada di urutan (grade) ke 6 di bawah pancer Tresna Wandawa I (Kyai Syarifuddin).
Sampai sekitar tahun 1970, pertemuan syawalan Tresna Wandawa salah satu acara pentingnya adalah memperkenalkan anggota yang hadir diikuti keterangan tentang urut-urutannya kenapa terdaftar menjadi anggota Tresna Wandawa. Acara perkenalan ini hampir selalu dipandu oleh Pakdhe Wawi. Beliau oleh Alloh dikaruniai pengetahuan untuk hafal silsilah Tresna Wandawa dan kemahiran berbicara di depan publik, sehingga acara ini selalu dinanti-nantikan saat syawalan.
Pengetahuan yang dimiliki Pakdhe Wawi tersebut, sekitar tahun 1975 terpikir untuk didokumentasikan. Alasan utama tentu saja agar bisa diwariskan kepada generasi muda Tresna Wandawa dan juga semakin sepuhnya Pakdhe Wawi. Untuk pendokumentasian ini diperlukan tenaga yang antara lain mempunyai kriteria berwawasan luas tentang silsilah Tresna Wandawa sebagaimana Pakdhe Wawi, dan teknik tulis menulis.
Teknik tulis menulis ini juga memerlukan kesabaran dan ketelatenan tersendiri, karena saat itu belum didukung oleh sarana komputer. Jadi masih menggunakan kertas stensil, mesin ketik manual dan tentu saja tip-ex “ngawekani” kalau salah ketik (cara pengetikan seperti ini masih dilakukan oleh Bdn ketika membuat skripsi S1 Fak. Peternakan UGM).
Tokoh yang masuk kriteria memenuhi syarat untuk pendokumentasian silsilah Tresna Wandawa ini adalah Bp. Haji Raden Muhammad Hoedan Projosubroto, yang tak lain orangtua kita yang nama beliau kita abadikan dalam kita berkomunikasi, KBH. Dari diri Bapak kita ini (Pak Hoedan) bahkan muncul ide penomoran anggota Tresna Wandawa. Seperti nomor anggota untuk Pak Hoedan sendiri adalah K*6ABD, artinya Pak Hoedan adalah :
- Seorang laki-laki ditunjukkan dengan huruf K di awal nomor anggotanya.
- Ada di grade ke 6 urutan “awu” Tresna Wandawa, ditunjukkan dengan angka 6.
- Beliau adalah putra pertama, ditunjukkan dengan huruf A di abjad paling depan nomornya.
- Orang tua beliau (Eyang RS Condrokartiko) adalah putera ke 2, ada huruf B di nomornya.
- Eyang beliau (Eyang Tomokarso) adalah putera ke 4 (huruf D).
- Dari Eyang Tomokarso, ke atas adalah Eyang Amatkariyo, Kyai Ismail, Kyai A.Rifai dan TW 1 (Kyai Syarifuddin)
Pengumpulan data anggota Tresna Wandawa, yang saat itu belum didukung alat komunikasi canggih seperti sekarang, dan diteruskan dengan penyusunan buku Silsilah Tresna Wandawa yang juga belum dibantu sarana komputer, memerlukan tenaga pembantu pelaksana (tebak siapa yang dipilih Pak Hoedan ?). Dan juga tentu saja waktu yang cukup lama.
“Karya” Pak Hoedan yang begitu monumantal ini, semoga menjadi amal jariah beliau yang Insya Alloh pahalanya terus mengalir, aammiin. Juga bersyukurlah kita mempunyai Ayah, kakek, kakek buyut jenius, sehingga ketika Mas Imad, Dik Inun (alm), Dik Basith, Dik Adin dan Dik Ikhsan sekolah di satu “kampus” SD Islam Yakmi Kunciran dan semuanya juara di kelasnya masing-masing, pertanyaan dari salah seorang teman Dik Basith adalah :”Siapa sih Sit kakek lu ?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame