Halaman

Kamis, 21 Maret 2013

JUMAWA ITU APA SIH?


JUMAWA ITU APA SIH?

Oleh : Sapto Yoga

Anak-anak di Gedongan 1 C sering bertanya arti dari kata-kata dalam Bahasa Sunda. Kalimat berbahasa Sunda itu didapatkan dari teman kuliah/sekolahnya, buku bacaan atau dari acara-acara televisi. Ada yang bermakna baik, namun ada pula yang artinya kurang baik untuk ditiru.

Meski cukup lama – sekitar 8 tahun -  penulis ndherek bapak dan ibu tinggal di daerah Pasundan, yaitu di kota Bandung, tetapi penguasaan penulis terhadap Bahasa Sunda ternyata masih sangat kurang. Ada beberapa kata dalam Bahasa Sunda yang ditanyakan oleh anak-anak terasa agak sulit menterjemahkan dan menjelaskannya, misalnya kata "si barokokok" yang sering diucapkan dalam sinetron yang cukup digemari anak-anak. Sepertinya "si barokokok" ini adalah semacam kata-kata kasar atau umpatan/makian terhadap orang yang tidak disenangi. Jadi, mestinya tidak pantas untuk ditiru. Untuk memperjelas artinya, tentu kita bisa bertanya kepada urang Bandung : Dupi  "si barokokok" teh naon artosna?

Ada lagi sebuah kata yang sering terucap dalam sinetron itu, "jumawa". Anak-anak bertanya, "Pak, jumawa itu apa sih?"

Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, Jumawa sama dengan sombong, artinya merasa lebih baik, lebih pandai, lebih tinggi, atau lebih hebat sehingga meremehkan orang lain. (Betulkah begitu artinya, teh?).

Pertanyaan anak-anak itu menimbulkan hasrat bagi penulis untuk menasehati diri sendiri, anak-istri dan mudah-mudahan juga bermanfaat bagi warga KBH semuanya.

Definisi sombong (kibir) dari Rasulullah SAW adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Diceritakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Mas'ud bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun hanya seberat biji sawi". Seseorang bertanya: "Seseorang suka bahwa pakaian dan sandalnya itu bagus (apakah termasuk sombong?)". Rasulullah SAW menjawab: "Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia".

Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong dan mengancam orang-orang itu dengan siksa, sebagaimana firman-Nya:
... إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ * النحل: 23

                                                                                  Sesungguhnya……………...

Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS 16:23)
فَادْخُلُواْ أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ * النحل: 29
                                                                                                      
Maka masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam sebagai orang-orang yang kekal di dalamnya. Maka (neraka jahannam itu) adalah tempat yang sejelek-jeleknya bagi orang-orang yang sombong. (QS 16:29)

Poin pertama dari kesombongan adalah menolak kebenaran.

Kita benar-benar yakin bahwa semua firman Allah pasti benar adanya dan semua sabda Rasul-Nya juga tidak bisa disangkal kebenarannya karena semua ucapan beliau selalu dalam bimbingan-Nya. Jadi tidak ada satupun yang boleh kita tolak kebenarannya. Memang ada kalanya bertentangan dengan hati (nafsu) kita atau terasa berat bagi kita dalam mengamalkannya, namun semuanya harus kita terima karena Allah tahu apa yang baik untuk kita sedangkan kita belum tentu mengetahuinya. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 216:

... عَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ * البقرة: 216
Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai seseuatu padahal itu jelek bagi kalian. Dan sesungguhnya Allah itu mengetahui dan kalian tidak mengetahui. (QS 2:216)

Perbuatan yang mungkin tidak kita sukai, misalnya:
  • Kita harus bangun pagi untuk melaksanakan shalat shubuh, padahal sedang enak-enaknya tidur.
  • Sebagai muslimah harus berpakaian yang menutup aurat dan tidak ketat, padahal trend pakaian wanita saat ini adalah menampakkan aurat,.
  • Pakaian bawah laki-laki muslim harus di atas mata kaki, sementara trend-nya justru menutup mata kaki.
  • Seorang anak harus hormat dan patuh kepada orang tuanya, sementara orang tua tidak sejalan dengan pendapat anak.
  • Seorang istri berkewajiban patuh dan hormat kepada suaminya selama suami tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat, padahal si istri merasa lebih pintar.
  • Dll

Jadi, kalau kita tidak mau bangun pagi untuk shalat shubuh, sebagai muslimah tidak mau menutup aurat dengan cara yang benar, sebagai laki-laki muslim pakaian bawahnya di bawah mata kaki, sebagai anak tidak hormat dan patuh kepada orang tuanya, seorang istri tidak patuh dan hormat kepada suaminya, berarti kita telah berbuat kibir. Na'udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari hal-hal seperti itu.

                                                                                      Kabar …………………

Kabar gembira dari Allah adalah jika bisa melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan kemampuan kita, bisa menjauhi semua larangan sejauh-jauhnya, percaya terhadap semua yang diceritakan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka Allah pasti akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. 

Sebaliknya, Allah Yang Maha Bijaksana juga memberikan ancaman siksa agar kita lebih berhati-hati sehingga tidak menentang perintah-Nya, tidak melanggar larangan-Nya dan tidak mendustakan firman-Nya.

Poin kedua dari kesombongan adalah meremehkan manusia.

Tinggi rendahnya derajat setiap manusia menurut Allah tidak diukur dari nilai keduniaannya, akan tetapi dari ketaqwaan seseorang. Dalam penggalan surat al-Chujurat ayat 13 Allah SWT berfirman:

... إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ... الآية * الحجرات: 13
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. (QS 49:13)

Ketaqwaan seseorang itu berada dalam hatinya, meskipun akan tercermin pula pada tingkah lakunya dan setiap manusia diciptakan oleh tentu ada fungsinya. Dale Carnegie mengatakan bahwa setiap orang itu paling tidak mempunyai satu kelebihan dibanding orang lainnya sehingga tidak pada tempatnya kalau kita menganggap remeh kepada orang lain. Bahkan Allah yang Maha Tahu pun memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ ... الآية * الحجرات: 11
Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum meremeh kaum yang lain. Boleh jadi yang diremehkan itu lebih baik daripada yang meremehkan. Dan janganlah para wanita meremehkan wanita lain. Boleh jadi yang diremehkan itu lebih baik dari yang meremehkan. (QS 49:11)

Seseorang mungkin menganggap remeh kepada orang lain karena melihat kondisi fisiknya, ekonominya atau derajat sosiajnya. Dalam bentuk lain, bisa jadi seseorang meremehkan orang lain karena merasa karena orang itu banyak berbuat dosa. Padahal Allah SWT selalu memberi kesempatan bagi orang yang berdosa untuk bertobat kepada-Nya seraya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Rasulullah SAW pernah  bercerita dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud  dari Abu Hurairah bahwasanya pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil ada dua laki-laki bersaudara. Salah satu dari keduanya (katakanlah  A) adalah orang yang sering berbuat dosa sedangkan yang lain (B) selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah. Setiap kali  B melihat A berbuat dosa, B selalu menasehati agar A menghentikan pebuatannya. Karena selalu ditegur, akhirnya A berkata: "Demi Tuhanku, apakah kamu memang diutus untuk selalu mencari-cari kesalahanku?".
                                                                                         B menjawab…………
B menjawab: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke surga". Ketika keduanya telah meninggal dunia, maka Allah mengumpulkan arwah keduanya, lalu Allah berfirman kepada B: "Adakah engkau lebih tahu dari pada Aku atau lebih kuasa dari Aku?"

Dan Allah berfirman kepada A: "Masuklah engkau ke dalam surga karena kasih sayang-Ku". Kepada para malaikat Allah memerintahkan: "Masukkanlah dia (B) ke neraka!".

Kisah ini tidak berarti membolehkan seseorang untuk berbuat dosa lalu berharap Allah akan mengasihinya, akan tetapi maksudnya adlah melarang seseorang agar tidak menganggap rendah kepada orang lain walaupun dirinya mempunyai kelebihan.

Seseorang dimasukkan ke surga atau neraka itu pasti ada sebabnya, karena dalam Hadits yang lain (riwayat Imam Bukhary) dikatakan bahwa calon ahli surga pasti akan beramal seperti amalannya ahli surga. Demikian pula sebaliknya, ahli nerakapun akan beramal seperti amalannya ahli neraka. Bisa jadi menjelang ajalnya, A bertobat kepada Allah sedangkan B justru berbuat dosa karena seseorang yang meremehkan orang lain karena perbuatan dosanya padahal yang diremehkan itu sudah bertobat, maka yang meremehkan itu akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang diremehkannya itu (menurut riwayat Imam Tirmidzi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ayo komen biar rame