KENANGAN BERSAMA BAPAK
Biasanya jauh sebelum buletin KBH terbit, aku sudah nyicil nulis walau hanya sekedar, sehingga ketika buletin hampir tiba (saat redaksi mulai menyapa), aku tinggal lanjutin, itu kulakukan disela-sela waktu. Baru deh kalau sudah kepepet terpaksa waktu kusempat-sempatkan. Nah berhubung untuk buletin edisi ke-4 ini aku belum nyicil blas , maka kemarin sempat terlintas dalam pikiranku “ah, nggak usah nulis aja, paling2 yang ngirim itu2 aja”. Tapi saat itu, pulang dari menghadiri pertemuan Trah Wongsomirdjan di rumah Dr. Kunto, walau sebetulnya lumayan cape, kucoba menulis. Alhamdulilah lumayan walau hanya beberapa bait. Nanti lagi kulanjut pikirku. Ya Allah, esoknya saat pulang ngajar mau kulanjutin , ku buka file ternyata kosong, aduh lemes deh jadinya. Ya sudah pasrah, nggak jadi kulanjut, komputerpun kumatikan. Kayaknya sudah kusimpan tapi kok kosong, kalaupun ada, yang ada nggak kebaca. Rasanya semakin nggak ada niat n pasrah nggak jadi nulis, tapi hari ini akhir Pebruari, pagi2 sebelum berangkat ngajar ku coba nyicil ngetik. Moga2 bisa terbit n pembaca setia nggak bosen dengan tulisan bu guru TK he2, untuk itu kan kutulis kenanganku bersama bapak Hoedan.
Aku nikah 7 Januari 1995, bapak meninggal September 1995. Walau tak ada setahun bersama beliau, tapi kenangan tetap terkenang. Awal kumemasuki rumah Selokraman aku jadi tau, kemana ibu bapak pergi, saat itu Mas Hasto lah yang ngantar. Terkadang aku ikut, jadi tau kalau bapak saat itu suka sekali minum jamu genggang, karena sering mampir di jamu tersebut, bila dari bepergian. Nah kalau aku nggak ikut, di rumah aku bersih2 n rapi2. Sehingga pulang bapak ibu dari bepergian rumah manpak rapi. Akhirnya bapak menjulukiku “keong emas”. Aku sendiri tau cerita tentang keong emas, tapi saat ku bersih2 n rapi2 nggak kepikiran akan keong emas. Rasanya asyik aja tuh rapi2 tanpa ada orang lain yang lihat. Bapak juga suka berkata “ini rum apa tri ya” saat melihat atau berpapasan denganku. Wah pernah juga lho aku di diamin lumayan lama tapi aku biasa aja, nggak ada pikiran apa2. Ternyata bapak mengira aku de rum saat itu n setelah bapak tau bapak lantas menyapaku sekedarnya, kemudian keluar, tak lama kemudian bapak datang lagi membawa makanan n mimuman yang baru di belinya. Akupun ditawarinya diberikannya padaku (Asyik2 he2). Waktu lebaran seusai shalat ied, bapak mengajak kami mengunjungi sanak saudara dengan berjalan kaki. Disitulah aku jadi tau jalan2 di kotagede yang sempit, seperti gang tikus atau kelinci. Aku senang, ternyata bapak senang bersilaturohim dengan mengajak kami. Suatu contoh yang layak ditiru.
Saat bapak n ibu hendak menunaikan rukun islam yang ke-5, kamilah yang sering mengantar bapak ibu bila manasik, membeli oksigen, ambil obat di apotik dll. Pernah beberapa kali aku n mas Hasto berbuka puasa di jalan/di luar, karena acara bapak ibu belum selesai. Teringat olehku saat menjemput bapak ibu pulang haji di bandara, yang seharusnya kami jemput di asrama haji, tapi kami menjemput di bandara karena kondisi bapak yang sakit saat itu. “bapak kurus ya tri?” begitu kata bapak saat kami saling berpelukan dengan penuh rasa haru. Memang bapak sangat kurus saat itu. Waktu mau berangkat haji bapak sudah dinyatakan sakit, di tanah sucipun bapak sakit hingga dirawat, dan begitu kami melihat bapak pulang haji bapak nampak kurus juga sangat lelah. Kalau tidak salah yang jemput saat itu pakde Bambang, budhe Aam, Aku, mas Hasto, om Yoga n tante Lina (sory lho..kalau ada yang belum kesebut, soalnya itu cuma seingatku he2). Kemudian kami singgah di masjid Baiturrahman Selokraman sebelum memasuki rumah.
Hari berganti diiringi juga dengan bergantinya bulan, kebersamaan kami bersama bapak ibupun terus berjalan. Sampailah pada saat2 terakhir bersama bapak. Malam itu, keadaan bapak semakin memprihatinkan, terlihat dari nafasnya. Ibu setia menunggui bapak di kamar tidur. Bapak selalu memegangi tangan ibu. Akupun ikut berada di dekat bapak. Suasana saat itu kurasakan agak gimana gitu, sehingga entah kenapa, kulihat semua isi ruangan sampai kearah langit2. Akhirnya sekitar jam 9an ,aku dan mas Hasto naik motor menuju PMI Tegalgendu Kotagede, meminjam Ambulance. Pulangnya mas Hasto naik motor, sementara aku naik Ambulance menuju rumah. Hiii…. Serem juga rasanya malam2 naik ambulance, tapi serba salah kalau aku yang naik motor ??? kan nggak mungkin. Itulah untuk pertama kalinya aku naik Ambulance. Sampailah dirumah, bapak di gotong menuju Ambulance oleh petugas PMI diikuti mas Hasto. Sementara ibu terpaksa melepas genggaman tangan bapak karena mau mengambil dompet, kemudian ibupun menyusul. Aku dirumah, hanya mengantar bapak sampai pintu, karena memang harus nunggu rumah. Untungnya ada Rani (yang bantu2 dirumah kami) jadi ada teman. Saat itu aku masih di pintu, ternyata bapak nggak jadi dibawa ke RS, Innalillahi wainna illaihi roji’un, Bapak telah tiada, meninggalkan kita semua di dunia. Suasana rumahpun trus ramai, tetangga berdatangan, begitu juga sanak saudara. Bapakpun disucikan, mas Hasto memangku bapak dibantu lainnya.
Esoknya suasana rumah semakin ramai, para pelayat berdatangan. Siswa-siswi SMA Muh.4, saudara, tetangga dll, mengucapkan belasungkawa. “Sabar nggeh mba rum” begitu kata para pelayat mengucap belasungkawa sambil memeluk aku. Tak hanya 1,2 orang tapi banyak, semua mengira aku d.rum. Sudah yaaa sampai jumpa lagi di episode yang lain.
By Heboh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ayo komen biar rame