Halaman

Senin, 01 Juli 2013

BULETIN KBH V 15 JUNI 2013

DAFTAR ISI
BULETIN KBH EDISI V

No.
Keterangan
Halaman
1.
KATA PENGANTAR (Redaksi)
i
2.
DAFTAR ISI
iv
3.
PESAN EYANG UTI
1
4.
SEKELUMIT SEJARAH PERJALANAN HIDUP
2
5.
SAKIT / MUSIBAH
3
6.
KETAPANG
5
7.
PERTEMUAN WONGSOMIRJAN
9
8.
BUMI ALLOH TERBENTANG UNTUK KITA
11
9.
MENEMANI SUAMI
13
10.
DOA KETIKA MENJENGUK ORANG SAKIT
14
11.
MENJAGA UCAPAN
15
12.
ROLADE ROTI TAWAR
19
13.
KISAH ANEH
21
14.
BU TRI IN ACTION
22
15.
MAKAN BUAH-BUAHAN SEGAR
24
16.
KELUARGA HARMONIS ITU SEDERHANA SAJA
26
17.
BELANG
27
18.
GENGSI MOBIL EROPA
29
19.
MBAH KAKUNG DALAM KENANGAN (SAYA)
35
20.
ANGKOT ISTIMEWA
38
21.
SEPATU JEBOL
39
22.
DI MANAKAH AKU BERADA?
41
23.
CERITA-CERITA KIRIMAN
44
24.
PETUALANGAN ELIFA
46


KATA PENGANTAR
       Buletin KBH IV telah terbit pada tanggal 13 Maret yang lalu. Di awal April, sudah ada yang kirim naskah, walau hanya copas dari tetangga. Memang rasanya sudah kepingin menulis lagi untuk Buletin KBH. Karena ternyata menulis merupakan pekerjaan yang di pengaruhi oleh kondisi kejiwaan, sekaligus bisa mempengaruhi kondisi kejiwaan penulisnya. Di buletin KBH edisi IV yang lalu, Eyang Uti menulis untuk meredakan emosinya yang sedang galau (istilah anak muda sekarang). Om/Pakde BJ mengirimkan petikan buku Habibie-Ainun, yang ternyata merupakan terapi psikologis Habibie setelah di tinggal Ainun. Di tambah lagi Ita (maminya Hani dan Aina) menulis dengan judul Katarsis yuuuk. Jika diperhatikan, dari ketiga artikel itu bercerita tentang menulis dan emosi penulisnya. Ternyata menulis bermanfaat dalam mengelola emosi. Oleh karena itu, redaksi mengajak KBH agar rajin menulis. Apa saja bisa di tulis, mumpung ada wadah yang menampungnya, yakni Buletin KBH. Dan ada pembaca yang menunggu kehadirannya, yakni KABEHA alias Keluarga Bani Hoedan. Cover buletin kita kali ini adalah gambar Eyang Uti sedang menulis.
       Beberapa peristiwa yang terjadi dalam 3 bulan ini, diantaranya : pada tanggal 29 Maret 2013 beberapa anggota KBH dalam perjalanan, Eyang Uti di derekke PdW dan BdN perjalanan darat dari Yogya ke Semarang, di sambung naik pesawat terbang dari Semarang ke Ketapang. Bulik/Bude Warih perjalanan dengan kereta dari Yogya ke Bandung. Dik/Kak Basith sekeluarga perjalanan dari Yogya ke Salatiga, setelah dua malam sebelumnya perjalanan dari Jember ke Yogya. Demikian pula Om/Pakde BJ beserta istri dan 2 putrinya (Nisa dan Kia) menempuh perjalanan panjang dari Bandung ke Jakarta lewat darat, di sambung naik plane dari Jakarta ke Sydney lanjut ke Adelaide, tempat tinggal keluarga Kang Adam. Alhamdulillah semua berjalan lancar, aman, selamat dan Insya Alloh membawa berkah. Perjalanan lainnya setelah itu diantaranya adalah keluarga dik/kak Basith telah menyempatkan menengok Bapaknya di Makassar pada tanggal 3 sampai 5 Mei 2013. Kemudian keluarga dik Addin juga ke Makassar pada tanggal 7 sampai 9 Mei 2013. Kunjungan mereka ke Makassar dalam rangka bezuk Eyang Kakung dik Nashwa cs yang sedang kurang sehat. Semoga dengan kunjungan anak cucu ke Makassar Eyang Fauzi tambah sehat. Beberapa kisah perjalanan tersebut Insya Alloh bisa di temui di buletin KBH edisi V ini.
       Berita duka dari keluarga Mas Imad, sehubungan dengan wafatnya Bapak Amadi (Bapaknya Mbak Ita, Bapak Mertua Mas Imad) pada tanggal 13 April 2013. Innalillahi wainnailaihi roji’un. Pak Amadi wafat pada usia 67 tahun karena sakit beberapa minggu sebelumnya. Semoga Pak Amadi khusnul khotimah dan keluarga yang di tinggalkan tabah dan ikhlas serta tambah kuat imannya. Aamiin.
Dalam………….  

    Dalam rangka menghadapi sakit/ditimpa musibah, PdW memberikan advice/saran yang di muat dalam buletin ini. Pkde/Om Sapto juga menulis tentang doa pada waktu menengok orang sakit.
       Info selanjutnya, acara KBH yang biasanya rutin di laksanakan setiap bulan, untuk periode ini agak terhambat. Baru bisa terselenggara pada tanggal 7 Mei 2013 di warung Jl Karang Lo. Dalam pertemuan yang di sponsori oleh Om/Pakde Bambang tersebut Eyang Uti memberikan petuah yang di bacakan oleh Om/Pakde Bambang. Petuah Eyang Uti bisa di baca kembali di Buletin ini. Acara keluarga lainnya adalah pertemuan Keluarga Wongsomirjan (keluarga orang tua Eyang Uti) yang di selenggarakan di Semarang (rumah Eyang Palguno Ngiryadi), pada tanggal 25 Mei 2013. Shohibul bait pertemuan tersebut adalah Ibu Hida Ngirhanto Singgih. Alhamdulillah KBH Yogya semua hadir kecuali Salma dan Opang karena ada acara di kampus/sekolahnya. Dari Yogya menggunakan mobil Kijang dan Avanza. Dalam pertemuan di Semarang tersebut, Eyang Uti menceritakan proses lahirnya anak pertama beliau, yang pada tanggal 25 Mei tersebut berulang tahun. Memenuhi keinginan Eyang Uti, cerita tersebut dan juga sekelumit tulisan BdN sebagai rasa syukur berupa “Doa Untuk Ibu” di sajikan dalam buletin KBH V ini. Sebenarnya yang berulang tahun di bulan Mei tidak hanya BdN, coba buka lagi buletin KBH edisi ke empat, ada Om/Pakde Fauzi, Mbak Nisa, Mbak Salma, dan juga ulang tahun pernikahan Mas Imad-Mbak Ita. Redaksi menyampaikan selamat ulang tahun, semoga panjang umur yang barokah, selalu pandai bersyukur dan di kabulkan Alloh doa-doanya. Kenangan tak terlupakan juga terjadi di bulan Mei 10 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Mei 2003. Pada saat itu Adik Ainul Arief menghadap Alloh Sang Pencipta. Semoga arwah Adik mendapat tempat mulia di sisi Nya. Aamiin.
       Selain cerita-cerita tersebut diatas, isi buletin ke V ini cukup beragam. Bulik/Bude Warih bercerita tentang pengalamannya menemani suami yang pindah-pindah karena dinas di Telkom. Redaksi menerima kiriman resep masakan dari Bude/Bulik Fat. Mari di praktekkan untuk menambah variasi masakan keluarga kita. Sedangkan Pakde/Om Sapto juga mengirimkan artikel tentang menjaga ucapan. Adapun kutipan tentang penyebab sakit menurut Ustad Danu, karena cukup panajang (12 halaman), maka dengan berat hati tidak di muat dalam buletin, namun dikirim ke alamat email masing-masing. Maaf ya dan terima kasih dik 7, semoga bisa menambah wawasan pembacanya. Redaksi mendapat kabar gembira yang di alami oleh Bundanya Chera, karena berhasil menjadi juara I Lomba mendongeng guru TK tingkat Kabupaten. Pengalaman mendongeng di sajikan pula di buletin ini. Sedangkan ayahnya Chera menulis lagi yang aneh di KBH. Dari Tambun ada beberapa tulisan yang di muat, yakni dari Deroem 3 judul, yaitu tentang makan buah, keluarga dan si belang. Di menit-menit terakhir naik cetak, Mas Imad kirim cerita berjudul : Gengsi Mobil Eropa. Kak Basith juga mengirimkan tulisan berupa kenangannya tentang Mbak Kakung, cerita yang sangat menggelitik.                                              
                                                                                        Tidak ………………………………..
Tidak ketinggalan Bagus Seno mengirimkan tulisan yang berhasil di muat di Koran “Berani” terbitan PT Anugerah Mitra Dharma Grha, Jakarta, dan dua judul lagi, salah satunya adalah cerita bersambung. Berarti kita harus menunggu cerita selanjutnya di edisi berikut. Alya juga sudah pandai bercerita yang di tulis dalam 4 judul tulisan, yaitu : Apel Merah dan Apel Ijo, Mimi tidak punya Ibu dan Ayah, Burung Kakak Tua Masuk Dalam Buku Cerita, dan Mina si Penakut. Tidak ketinggalan Hani menyumbangkan tulisan dengan judul : Petualangan Elifa.
       Akhirnya redaksi menyampaikan terima kasih kepada KBH yang telah berpartisipasi mengirimkan tulisan dan mengucapkan selamat menikmati hidangan buletin KBH yang diciptakan dari dan untuk KBH.

                                                                                         Yogyakarta, 15 Juni 2013
                                                                                                        Redaksi



      


Kamis, 21 Maret 2013

Kisah Aneh KBH Part 2


Kisah Aneh KBH Part 2
(Kisah Si Ganteng)
Pada suatu hari Si Ganteng bersama Mas Imad, Faisal dan Chera pergi mengantar Bunda ke depot ikan segar Tamanan, karena Bunda ada janjian sama temannya ketemuan disitu untuk pergi bersama ke Bantul. Setelah Bunda bertemu dengan temannya, Si Ganteng Cs pun hendak pulang ke Selokraman, tetapi Si Ganteng teringat bahwa pulsanya hampir habis, ahirnya Si Ganteng mengajak Mas Imad berhenti disebuah counter hp untuk membeli pulsa. Kebetulan yang menjaga counter adalah seorang wanita muda cantik rambutnya disemir merah sedikit. Dia melihat rombongan Si Ganteng, setelah dekat dia melihat Si Ganteng sambil tersenyum (jangan cemburu ya), kemudian melihat Chera lalu melihat Si Ganteng lagi sambil tersenyum dia bertanya kepada Si Ganteng “ Cucunya ya pak?”. Si Ganteng pun tersenyum, yang lain juga terutama Mas Imad?...
Disaat  yang lain, Si Ganteng bersama Chera sedang bermain di kebun bawah rumah selokraman, kebetulan di jalan dekat kebun ada seorang ibu lewat, kelihatannya baru pulang dari pasar. Dengan ramahnya ibu itu memandang Si Ganteng sambil bertanya “ Momong cucu?”, jujur Si Ganteng bingung harus menjawab apa. Belum lagi Si Ganteng menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut, ibu itu bertanya kembali bertanya kepada Si Ganteng “ Cucunya berapa?”. Bagus sekali ya pertanyaannya, bertambah pulalah beban pikiran Si Ganteng untuk menjawabnya…..
Yah, mungkin beginilah resiko jadi orang ganteng!...
Kadang mudah menarik perhatian para wanita……..
Sabar ya Bunda….
Seorang supir taksi memarkir mobilnya didekat kebun bawah rumah Selokraman, Dia menjemput Si Ganteng yang akan pergi bersama bunda dan Chera . Sebelum semua naik mobil, supir itu sempat bertanya “Putranya berapa pak?”, Si Ganteng pun menjawab”Dua”. “ Diajak semua?”, kata supir itu lagi. Hi..Hi..Hi..

By Pakne Chera

JUMAWA ITU APA SIH?


JUMAWA ITU APA SIH?

Oleh : Sapto Yoga

Anak-anak di Gedongan 1 C sering bertanya arti dari kata-kata dalam Bahasa Sunda. Kalimat berbahasa Sunda itu didapatkan dari teman kuliah/sekolahnya, buku bacaan atau dari acara-acara televisi. Ada yang bermakna baik, namun ada pula yang artinya kurang baik untuk ditiru.

Meski cukup lama – sekitar 8 tahun -  penulis ndherek bapak dan ibu tinggal di daerah Pasundan, yaitu di kota Bandung, tetapi penguasaan penulis terhadap Bahasa Sunda ternyata masih sangat kurang. Ada beberapa kata dalam Bahasa Sunda yang ditanyakan oleh anak-anak terasa agak sulit menterjemahkan dan menjelaskannya, misalnya kata "si barokokok" yang sering diucapkan dalam sinetron yang cukup digemari anak-anak. Sepertinya "si barokokok" ini adalah semacam kata-kata kasar atau umpatan/makian terhadap orang yang tidak disenangi. Jadi, mestinya tidak pantas untuk ditiru. Untuk memperjelas artinya, tentu kita bisa bertanya kepada urang Bandung : Dupi  "si barokokok" teh naon artosna?

Ada lagi sebuah kata yang sering terucap dalam sinetron itu, "jumawa". Anak-anak bertanya, "Pak, jumawa itu apa sih?"

Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, Jumawa sama dengan sombong, artinya merasa lebih baik, lebih pandai, lebih tinggi, atau lebih hebat sehingga meremehkan orang lain. (Betulkah begitu artinya, teh?).

Pertanyaan anak-anak itu menimbulkan hasrat bagi penulis untuk menasehati diri sendiri, anak-istri dan mudah-mudahan juga bermanfaat bagi warga KBH semuanya.

Definisi sombong (kibir) dari Rasulullah SAW adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Diceritakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Mas'ud bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun hanya seberat biji sawi". Seseorang bertanya: "Seseorang suka bahwa pakaian dan sandalnya itu bagus (apakah termasuk sombong?)". Rasulullah SAW menjawab: "Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia".

Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong dan mengancam orang-orang itu dengan siksa, sebagaimana firman-Nya:
... إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ * النحل: 23

                                                                                  Sesungguhnya……………...

Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS 16:23)
فَادْخُلُواْ أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ * النحل: 29
                                                                                                      
Maka masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam sebagai orang-orang yang kekal di dalamnya. Maka (neraka jahannam itu) adalah tempat yang sejelek-jeleknya bagi orang-orang yang sombong. (QS 16:29)

Poin pertama dari kesombongan adalah menolak kebenaran.

Kita benar-benar yakin bahwa semua firman Allah pasti benar adanya dan semua sabda Rasul-Nya juga tidak bisa disangkal kebenarannya karena semua ucapan beliau selalu dalam bimbingan-Nya. Jadi tidak ada satupun yang boleh kita tolak kebenarannya. Memang ada kalanya bertentangan dengan hati (nafsu) kita atau terasa berat bagi kita dalam mengamalkannya, namun semuanya harus kita terima karena Allah tahu apa yang baik untuk kita sedangkan kita belum tentu mengetahuinya. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 216:

... عَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ * البقرة: 216
Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai seseuatu padahal itu jelek bagi kalian. Dan sesungguhnya Allah itu mengetahui dan kalian tidak mengetahui. (QS 2:216)

Perbuatan yang mungkin tidak kita sukai, misalnya:
  • Kita harus bangun pagi untuk melaksanakan shalat shubuh, padahal sedang enak-enaknya tidur.
  • Sebagai muslimah harus berpakaian yang menutup aurat dan tidak ketat, padahal trend pakaian wanita saat ini adalah menampakkan aurat,.
  • Pakaian bawah laki-laki muslim harus di atas mata kaki, sementara trend-nya justru menutup mata kaki.
  • Seorang anak harus hormat dan patuh kepada orang tuanya, sementara orang tua tidak sejalan dengan pendapat anak.
  • Seorang istri berkewajiban patuh dan hormat kepada suaminya selama suami tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat, padahal si istri merasa lebih pintar.
  • Dll

Jadi, kalau kita tidak mau bangun pagi untuk shalat shubuh, sebagai muslimah tidak mau menutup aurat dengan cara yang benar, sebagai laki-laki muslim pakaian bawahnya di bawah mata kaki, sebagai anak tidak hormat dan patuh kepada orang tuanya, seorang istri tidak patuh dan hormat kepada suaminya, berarti kita telah berbuat kibir. Na'udzu billah min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari hal-hal seperti itu.

                                                                                      Kabar …………………

Kabar gembira dari Allah adalah jika bisa melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan kemampuan kita, bisa menjauhi semua larangan sejauh-jauhnya, percaya terhadap semua yang diceritakan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka Allah pasti akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. 

Sebaliknya, Allah Yang Maha Bijaksana juga memberikan ancaman siksa agar kita lebih berhati-hati sehingga tidak menentang perintah-Nya, tidak melanggar larangan-Nya dan tidak mendustakan firman-Nya.

Poin kedua dari kesombongan adalah meremehkan manusia.

Tinggi rendahnya derajat setiap manusia menurut Allah tidak diukur dari nilai keduniaannya, akan tetapi dari ketaqwaan seseorang. Dalam penggalan surat al-Chujurat ayat 13 Allah SWT berfirman:

... إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ... الآية * الحجرات: 13
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. (QS 49:13)

Ketaqwaan seseorang itu berada dalam hatinya, meskipun akan tercermin pula pada tingkah lakunya dan setiap manusia diciptakan oleh tentu ada fungsinya. Dale Carnegie mengatakan bahwa setiap orang itu paling tidak mempunyai satu kelebihan dibanding orang lainnya sehingga tidak pada tempatnya kalau kita menganggap remeh kepada orang lain. Bahkan Allah yang Maha Tahu pun memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ ... الآية * الحجرات: 11
Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum meremeh kaum yang lain. Boleh jadi yang diremehkan itu lebih baik daripada yang meremehkan. Dan janganlah para wanita meremehkan wanita lain. Boleh jadi yang diremehkan itu lebih baik dari yang meremehkan. (QS 49:11)

Seseorang mungkin menganggap remeh kepada orang lain karena melihat kondisi fisiknya, ekonominya atau derajat sosiajnya. Dalam bentuk lain, bisa jadi seseorang meremehkan orang lain karena merasa karena orang itu banyak berbuat dosa. Padahal Allah SWT selalu memberi kesempatan bagi orang yang berdosa untuk bertobat kepada-Nya seraya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Rasulullah SAW pernah  bercerita dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud  dari Abu Hurairah bahwasanya pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil ada dua laki-laki bersaudara. Salah satu dari keduanya (katakanlah  A) adalah orang yang sering berbuat dosa sedangkan yang lain (B) selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah. Setiap kali  B melihat A berbuat dosa, B selalu menasehati agar A menghentikan pebuatannya. Karena selalu ditegur, akhirnya A berkata: "Demi Tuhanku, apakah kamu memang diutus untuk selalu mencari-cari kesalahanku?".
                                                                                         B menjawab…………
B menjawab: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke surga". Ketika keduanya telah meninggal dunia, maka Allah mengumpulkan arwah keduanya, lalu Allah berfirman kepada B: "Adakah engkau lebih tahu dari pada Aku atau lebih kuasa dari Aku?"

Dan Allah berfirman kepada A: "Masuklah engkau ke dalam surga karena kasih sayang-Ku". Kepada para malaikat Allah memerintahkan: "Masukkanlah dia (B) ke neraka!".

Kisah ini tidak berarti membolehkan seseorang untuk berbuat dosa lalu berharap Allah akan mengasihinya, akan tetapi maksudnya adlah melarang seseorang agar tidak menganggap rendah kepada orang lain walaupun dirinya mempunyai kelebihan.

Seseorang dimasukkan ke surga atau neraka itu pasti ada sebabnya, karena dalam Hadits yang lain (riwayat Imam Bukhary) dikatakan bahwa calon ahli surga pasti akan beramal seperti amalannya ahli surga. Demikian pula sebaliknya, ahli nerakapun akan beramal seperti amalannya ahli neraka. Bisa jadi menjelang ajalnya, A bertobat kepada Allah sedangkan B justru berbuat dosa karena seseorang yang meremehkan orang lain karena perbuatan dosanya padahal yang diremehkan itu sudah bertobat, maka yang meremehkan itu akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang diremehkannya itu (menurut riwayat Imam Tirmidzi)


AYAHKU R MD HOEDAN


AYAHKU R MD HOEDAN

       Alhamdulillah kami bersyukur sekali dikaruniai orang tua yang sangat baik. Ibuku sosok yang sangat penyayang dan ayahku sosok yang sangat disiplin dan jujur. Keduanya kalau dipadukan maka sangat serasi karena bisa saling mengisi dalam hal mendidik anak. Bisa dibayangkan kalau keduanya punya sifat yang sama mungkin kami tdk seperti sekarang ini.
Untuk kali ini sy akan cerita tentang bpk kami R.Md.Hoedan.
       Pak Hoedan itu sama Alloh swt dikaruniai otak yg cerdas. Saya pernah melihat nilai raport bapak itu tidak ada nilai 6 nya. Yang ada 7, 8, 9, 10. Waktu sy lihat raport bpk sy terkagum kagum juga...kok bisa begitu ya..?!...kok aku anaknya belum bisa seperti itu ya..?...
Bapak juga sangat memperhatikan dan menyayangi anak2 nya. Terbukti kalau bapak dapat makanan dari kantor sering dibawa pulang untuk oleh2 anaknya..
Kalau ingat semua itu aku jadi ingin nangis. Bapak sering membelikan buku buku bacaan untuk anaknya. Kalau subuh bpk selalu berdiri di depan pintu kamar anak2 sambil menyanyi dg maksud agar anaknya mau bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Wah...air mataku jadi tidak terbendung nih...terbayang bapak nyanyi dg lirik lagu seperti ini
Bapak mengganti lirik lagu bila diperlukan. Kalau sedang membangunkan saya bapak akan menyanyi
" mbak Warih...ndang tangiyo...iki wis jam piro...yenwis tangi enggal wudhuo...banjur enggal sholato  "
Nanti kalau membangunkan anaknya yg lain lagunya sama hanya namanya diganti. Terasa banget sayangnya bapak kepada anak anaknya.
Bapak juga selalu menanyakan kepada kami " wis sholat opo durung ?...sehingga ketika itu kami sering ngumpet2 takut ditanya bapak. Maklum wkt itu masih anak anak jadi inginnya bermain terus bersama teman teman. Bapak kelihatan sekali menjaga amanah yang diberikan Alloh swt terutama kepada anak anak yang wanita bapak selalu melindunginya dengan cara membatasi pergaulan anak anaknya, menjemput kalau kemaleman belajar bersama di rumah teman dll.
Kami juga sering dibonceng bapak naik sepeda, diantar bapak belajar qiro' ah, disuruh belajar di madrasah dll.
Pokoknya kuacungi jempol deh bapak.  
       Dalam menjaga amanah Allih swt bapak termasuk orang yang hati hati memilihkan jodoh anak anaknya. Bapak sll memandangnya dari sudut pandang agama, bukan keduniawian. Begitulah yang kutau tentang bapak. Sebenarnya masih banyak lagi yang mau kutulis tp insyaAlloh kapan kapan lagi ya kbh..smg bapak bahagia disisi Alloh swt dan ditempatkan di tempat yg mulia di sisiNya karena menurut kami bpk sdh melaksanakan apa yang diperintahkan Aloh swt.


                                                                                                                    Oleh : Warih Fauzi

PERCAKAPAN BUDE DAN PRUNANNYA


PERCAKAPAN BUDE DAN PRUNANNYA
Oleh : Ninik Darwinto
       Bude sedang berbincang-bincang dengan dua orang prunannya, sebut saja prunan besar dan prunan kecil.
Bude (Bd) bertanya : “Apa yang paling tidak kamu sukai ketika kamu di rumah?”
Jawab Prunan Besar (PB) : “Di marahi”. 
Bd : “ Memangnya siapa yang suka marah?”
PB : “Ibu”. Jawabnya singkat.
Eeee Prunan Kecil (PK) ikut nyambung : “Sama, ibuku juga suka marah”. 
Bd nyambung lagi : “Coba kamu tanya sama anaknya Bude, kira-kira ibunya suka marah gak ya?” Paling-paling jawabnya sama, Ibuku juga suka marah…. 
Hahahahaha, kami bertiga tertawa ngakak.
       Lain lagi ceritanya, cucu Bude lapor ke Papinya, katanya Eyang marah, jadi cucu tidak mau lagi ke rumah Eyang. Ketika Bude ngobrol sama tetangga cucu, dapat info bahwa Kakak tidak mau ke rumah Eyang karena Eyang hanya mengurus Adik terus, Kakak di suruh mengalah. Padahal Adik sebenarnya usil juga…. Hehehehe… Yang ada di benak Eyang, yang besar harus momong yang kecil. Ternyata yang besar sebenarnya masih kecil juga. Maklum baru 6 (enam) tahun.
       Dari cerita di atas, nampaknya orang tua marah itu tidak di sukai oleh anak ataupun cucu. Pantesan Eyang Uyut yang tidak pernah marah menjadi favorit dan di sukai oleh cucu-cucunya. Pernah terjadi, si Ibu yang sedang memarahi anaknya, di komentari oleh anaknya : “Bu, mbok seperti Eyang itu lho, tidak pernah marah”.
       Mengapa orang tua suka marah kepada anaknya? Keberadaan orang tua bersama anak-anaknya pada umumnya dalam waktu yang relatif panjang. Posisi orang tua yang merasa telah bersusah payah mengasuh anak/cucu, harus mencukupi kebutuhan anak, tanpa di sadari menuntut agar anaknya patuh kepada orang tua. Anak di tuntut untuk menjadi seseorang sesuai keinginan orang tua. Terkadang anak di tuntut untuk menjadi seseorang yang sebenarnya hal tersebut adalah ambisi orang tuanya yang tidak kesampaian. Sehingga ketika melihat anaknya kurang tekun belajar, ketika anaknya bermain terus, maka orang tua cenderung memarahinya. Sebenarnya maksudnya baik, agar supaya anaknya kelak menjadi orang “besar”, atau paling tidak hidupnya tidak kesulitan di kemudian hari, atau kehidupan anaknya kelak lebih baik dari orang tuanya saat ini.
                                                                                                        Beberapa ………………………..      
       Beberapa orang besar di Indonesia bercerita bahwa dulu orang tuanya keras dalam mendidik anaknya, seperti Dahlan Iskan, misalnya. Tetapi apabila cara memarahi anak menjadikan anak tidak nyaman, maka anak akan mencari tempat lain yang bisa membuat nyaman. Jika tempat lain tersebut adalah tempat yang benar, misal di sekolah bersama guru yang baik dan benar, atau di masjid bersama ustad yang baik dan benar, tentu akan menjadikan anak lebih baik. Tetapi bagaimana jika lari kepada temannya yang kebetulan tidak baik? Pecandu narkoba? Atau di rekrut oleh orang yang berkedok ibadah namun ajarannya menjerumuskan? Anak akan terjerumus pula kepada hal-hal yang tidak baik, bisa kecanduan narkoba, bisa jadi teroris, naudzubillahi min dzalik. Semakin anak tidak baik, semakin orang tuanya sering marah. Maka kehancuran yang akan di temui. Siapa yang merugi?
       Berbeda situasi dan kondisi, ketika Bude masih bekerja di kantor, atasan Bude pernah bilang : “Kamu saya usulkan menjadi Kepala Bagian, jika kamu sudah bisa marah kepada anak buah”. Lho… kok begitu ya? Apakah seorang pimpinan di tuntut untuk bisa marah? Setelah di renungkan, yang di maksud oleh atasan adalah bersikap tegas, jangan lembek. Karena ketegasan tersebut perlu di tunjukkan shingga dalam waktu singkat anak buah mengerti maksudnya, maka perlu di aktualisasikan dengan cara marah. Barangkali sifatnya situasional, tergantung kondisi saat itu. Namun kenyataannya bersikap tegas dengan marah masih di perlukan, di lingkungan kantor. Konon Dahlan Iskan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN pernah membagi-bagikan uang kepada anak buahnya yang dulu sering kena marah. Semakin sering kena marah maka uang yang di terima semakin besar. Sehingga anak buahnya ada yang berkomentar : “Kalau tahu begini, aku ingin sering di marahi Pak Dahlan Iskan”. Dan fakta membuktikan, bahwa Pak Dahlan Iskan sukses dalam memimpin Jawa Pos Group dan memimpin PLN. Bagaimana dengan menjabat sebagai Menteri Negara BUMN? Mari kita amati bersama.
       Ternyata, marah juga diperlukan untuk menggapai tujuan. Apakah itu dalam keluarga ataupun organisasi. Hanya saja perlu strategi dalam melepas kemarahan agar hasilnya sesuai harapan. Apabila penyaluran marah dengan emosi yang tidak terkendali, bisa menjadikan renggangnya hubungan anak dengan orang tua, ataupun atasan dengan bawahan. Jika sudah tahu demikian, terutama dalam rumah tangga, mengapa orang tua tidak mengendalikan kemarahannya demi masa depan keluarga yang lebih baik? Ibarat bermain layang-layang, ada saatnya benang kita tarik, ada saatnya benang kita lepas, jadi harus ada kendali. Namun dalam suatu riwayat, ada seorang sahabat yang meminta nasehat kepada Nabi SAW, yang di jawab oleh Rasul : “Jangan marah”. Untuk itu, marilah kita sama-sama mengendalikan diri untuk tidak mudah marah, terutama kepada anak-anak dan keluarga kita.
Catatan :
  • Prunan : anaknya adik
  • Ponakan : anaknya kakak

LAHAT


LAHAT
Oleh : Ninik Darwinto
RENCANA PERJALANAN
       Pernikahan Nur dan Yuda, sesuai undangan akan di laksanakan pada tanggal 2 Februari 2013 di Palembang. Dalam rangka menghadiri pernikahan Nur (temannya Adik almarhum), PdW dan BdN sekaligus ingin berjalan-jalan di Sumatera. Kebetulan Dimas bekerja di Perkebunan Kelapa Sawit yang lokasinya di Lahat.  Selanjutnya BdN mencari info perjalanan dari Palembang ke Lahat. Ternyata ada travel dari Palembang ke Lahat yang di tempuh kira-kira 6 jam, sedangkan untuk mencapai kebun London Sumatera di mana Dimas bekerja, masih 30 km lagi. Tetapi karena jalanan rusak, maka perlu waktu 1 sampai 1,5 jam. Waduh, ternyata perlu waktu yang relatif lama.
       Persiapan selanjutnya, tanya Bu Ndarti, apakah bisa menjaga Aina hari Jum’at sore dan Senin pagi? Jawabnya : Siiiip. Oh ya, Bu Ndarti adalah tetangga Imad yang biasanya dititipi cucu jika kami ada keperluan. Kebetulan orangnya enthengan (suka menolong) dan para cucu lengket sama keluarganya. Kami merencanakan perjalanan ke Palembang dengan Lion Air berangkat Jum’at menjelang siang, transit  di Jakarta terus ke Palembang. Pulangnya Senin pagi dari Palembang, dengan harapan, sore hari masih bisa menjemput sekolah Aina. Sedangkan Hani bisa di jemput Papinya, dan biasanya terus ikut membantu di warung. Tetapi perlu menghubungi Dimas dulu, ada di tempat apa tidak pada tanggal 2 dan 3 Februari 2013. Ha? Ternyata Dimas mau tugas ke Medan? Dan Pak Darus yang sedang berada di Lahat (nengok Dimas) mau pulang ke Yogya? Setelah menghitung waktu, diadakan kompromi. Ternyata Dimas Sabtu (2 Februari) sudah kembali ke Lahat, dan Pak Rus yang semula sudah mau pulang ke Yogya (karena di tinggal Dimas ke Medan), bersedia menunggu kami dengan catatan pulangnya ke Yogya bareng kami. Alhamdulillah..
       Karena jadwal yang ketat, acara padat, Dimas tidak di tempat, maka perlu mencari informasi adanya mobil sewaan untuk sampai ke kebun. BdN tanya ke teman di BRI Palembang, kemungkinan menyewa mobil, apakah dari Lahat ke kebun atau dari Palembang langsung ke kebun? Eeee buntutnya malah di pinjami mobil BRI Palembang sekalian sopirnya, bahkan ada yang ingin mengawal perjalanan dari Palembang ke kebun, pergi pulang, Mas Nanang Catur namanya. Alhamdulillah.

ACARA HARI PERTAMA DI PALEMBANG.
       Perjalanan dari Yogya ke Palembang perlu transit di Jakarta, kira-kira 2 jam. Dari Yogya dengan pesawat jam 10.50 sampai Jakarta jam 12.05 disambung dengan pesawat ke Palembang jam 14.20 mendarat di Palembang jam 15.20 Kebetulan ada teman pensiunan BRI yang pernah bekerja di PKSS Yogya, Pak Mustafa Effendi namanya. Ketika di kabari kalau kami mau ke Palembang, spontan Pak Mus menawarkan akan menjemput di bandara Palembang dan mencarikan penginapan yang dekat dengan acara pernikahan Nur-Yuda. Alhamdulillah. Teman dari Kanwil BRI (Mas Budi Santoso dan Mas Nanang Catur, keduanya di rekrut BRI ketika BdN bertugas di Kantor Pusat BRI, 23 tahun lalu, dalam program yang bernama AO KBP), juga menjemput di bandara. Setelah bertemu di bandara Palembang (Bandara Sultan Mahmud Badarudin II), di sepakati kami beserta rekan dari BRI ke rumah Pak Mus dulu. Ternyata Bu Mus sudah menyiapkan empek-empek, tekwan, kerupuk ikan, duku dan rambutan khas Palembang. Hemmm nyam nyam nyam, nikmatnya makanan khas Palembang ini, semua kami cicipi, kenyang deh.
       Dari rumah Pak Mus, PdW dan BdN diantar teman BRI ke rumah Mas Burhan Suwardi (famili dekat, anggota Tresno Wandowo yang ber mukim di Palembang). Lagi-lagi di suguhi empek-empek, kali ini di temani risoles dan teh hangat. Makan lagi deh, demi menghormati tuan dan nyonya rumah, dan juga demi memanjakan lidah dengan makanan enak. Hehehe.. Ternyata hari Jum’at sore, Palembang macet juga, seperti di Jakarta saja. Perjalanan menuju hotel makan waktu relatif lama. Tawaran makan malam dari teman BRI terpaksa kami tolak, di samping sudah kenyang, juga badan capai. Ke bayang besok akan perjalanan jauh ke Lahat, perlu istirahat jaga stamina. Malam itu PdW dan BdN menginap di hotel Swarna Dwipa, Jln Dr Wahidin Palembang.

MENGHADIRI ACARA PERNIKAHAN NUR-YUDA.
       Akad Nikah Nur-Yuda di jadwalkan jam 9 pagi, di masjid Baitul Atiq yang lokasinya dekat dengan hotel. Kami jalan kaki menuju masjid tersebut. Acara sedikit mundur, menjadi di mulai jam 9.30. Kami sempat berbincang dengan orang tua Nur, mereka sudah tahu kami akan hadir, mereka tahu juga bahwa kami orang tuanya Ainul Arif almarhum. Rupanya Nur banyak cerita tentang kami kepada orang tuanya. Alhamdulillah acara akad nikah berjalan lancar, jam 10.30 sudah selesai. Ketika acara di lanjutkan dengan makan-makan, kami menyelinap kembali ke hotel. Ingin rasanya segera melakukan perjalanan ke Lahat.

PERTEMUAN DENGAN TEMAN LAMA.
       Sampai di hotel, Mas Nanang dan Mas Aidil (Pengemudi mobil BRI), telah siap. Kami ganti kostum menyesuaikan dengan acara perjalanan santai dan cek out dari hotel. Jam 11.00 siap berangkat ke Lahat menggunakan mobil kijang inova. Setelah melewati jembatan ampera, kami lewat jalan yang di kiri kanannya semak belukar, daerah rawa-rawa. Di beberapa tempat ada warung, juga ada rumah-rumah penduduk walau tidak banyak. Baru berjalan satu jam, kami sudah berhenti untuk makan di rumah makan Padang, daerah Indra Laya. Selesai makan, sholat dulu di masjid sebelah rumah makan. Perjalanan berlanjut, namun baru berjalan kira-kira 1 jam, Mas Nanang sudah telpon-telponan, janjian mau ketemu di Prabumulih. Di BRI Cabang Prabumulih ada 3 orang AO KBP yang ingin bertemu kami. Mereka adalah Mas Kiswo, Mas Jono dan Mas Joni. Kami di ajak ke Rumah Makan Candy empek-empek. Makan lagiiiii dengan menu khas Palembang. BdN mencoba Mi Chelor (mi dan toge di beri kuah seperti pasta encer di buat dari ikan dan di tabri udang). Di sediain juga empek-empek. Senang sekali bertemu teman-teman lama. Sejujurnya BdN sudah tidak mengenali mereka lagi, karena bertemu mereka pada waktu mereka pendidikan di Kantor Pusat BRI kira-kira 23 tahun yang lalu. Namun setelah berbincang-bincang, jadi ingat kembali ketika mereka baru masuk di BRI. Subhanalloh, mereka masih mengenal BdN, masih ingin bertemu, ingin berbagi cerita kesuksesan masing-masing. Dulu ketika penempatan di BRI, hampir semua AO KBP di tempatkan di BRI Luar Jawa untuk menangani Kredit Perkebunan Rakyat. Sebagian besar akhirnya menikah dengan wanita setempat di tempat kerjanya. Hal tersebut menjadikan mereka betah bertempat tinggal di kampung orang, jauh dari kampung halaman sendiri. Dan ternyata berkarir di luar Jawa memberikan banyak kesempatan mengaktualisasikan diri. Sebagai perantau, umumnya di tuntut untuk bekerja keras, mencari kesempatan untuk menambah penghasilan. Diantaranya dengan berkebun, memanfaatkan ilmu yang di peroleh sebagai bekal menangani Kredit Perkebunan Rakyat. Ada juga yang beternak, karena lahan di luar Jawa mendukung untuk usaha tersebut. Untuk bisa betah di kampung orang, katanya juga dengan cara bergaul di kampung, aktif di masjid, ikut olah raga bersama warga, aktif di kegiatan masyarakat, dsb. Dengan kesuksesan hidup mereka, rata-rata setiap tahun pulang kampung, ada yang ke Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur,  bahkan dalam setahun sering lebih dari satu kali.
       Perjalanan Palembang –  Lahat, melalui kota-kota : Indra Laya, Prabumulih, Muara Enim, baru kemudian Lahat. Perjalanan di tempuh dalam 6 jam, termasuk mampir-mampirnya. Sesampai di kota Lahat, ada juga AO KBP yang namanya Suharjanto. Kami di minta mampir ke kantor BRI Lahat. Ternyata Kepala Cabang BRI Lahat, Bp Sudarno, ada di kantor juga. Bahkan akhirnya beliau ikut mengantarkan kami ke kebun Lonsum, yang sebenarnya tidak terlalu jauh, namun banyak ruas jalan yang hancur sehingga mobil harus jalan extra hati-hati. Kami merasakan indahnya punya banyak teman baik, walau perjalanan jauh dan melewati pula jalanan rusak, rasa nikmat bercanda dan bernostalgia menambah semangat kami bersilaturahim.

TEMPAT KERJA DIMAS
       Perjuangan untuk mencapai rumah dinas Dimas banyak di bantu oleh teman BRI Lahat. Berbekal alamat : Perkebunan London Sumatra, Emplasemen 63, dan ancer-ancer yang di berikan Dimas, yakni melewati SP (Satuan Pemukiman) 6, SP 3, dan rumah-rumah hutan (rumah panggung tak berpenghuni, karena biasanya hanya untuk singgah sementara pemilik kebun yang sedang mengerjakan kebunnya). Ternyata kampung tetangga Dimas adalah para transmigran. Untuk lebih meyakinkan tidak salah jalan, juga bertanya kepada penduduk yang kebetulan nasabah BRI, akhirnya ketemu juga rumah Dimas. Ternyata, perusahaan di mana Dimas bekerja adalah nasabah BRI Lahat. Setiap bulan BRI Lahat membayarkan gaji  para karyawan di lokasi kerja Dimas. Mobil Rocky (double gardan, cocok untuk perjalanan off road) yang di gunakan Bapak Kepala Cabang BRI Lahat mengantar kami ke kebun, sangat di kenal oleh penduduk setempat dengan sebutan “mobil gajian”.
       Komplek perumahan dimana Dimas bekerja dan bertempat tinggal berada di tengah-tengah perkebunan seluas kurang lebih 2.000 ha. Sekitar kebun masih banyak hutan, dan juga perkebunan rakyat. Dari kota Lahat ke kebun melalui beberapa perkampungan, hutan-hutan, kebun rakyat, dan tentu saja kebun milik perusahaan (London Sumatra) di mana Dimas bekerja. Komplek perumahan tersebut merupakan perumahan yang relatif baru di dirikan, belum banyak pohon-pohon besar sehingga tarasa perampang (panas). Karena di luar perumahan ada area perkebunan, maka udara yang terbawa angin menerpa menyejukkan. Untuk keperluan listrik menggunakan genset, akan tetapi tersedia tidak sepanjang hari. Sedangkan keperluan air di sediakan perusahaan menggunakan air waduk yang keruh kemudian di proses sehingga layak untuk keperluan rumah tangga, namun belum layak untuk di konsumsi. Air mineral menjadi andalan untuk minum dan masak. Untuk keperluan makan, ada beberapa warung makan, yang kata Dimas bisa ngutang di bayar saat gajian. Lumayan. Jika mau masak sendiri, ada tukang sayur yang datang setiap pagi kira-kira jam 8, akan tetapi jika hari hujan tidak jualan, karena jalanan licin sulit untuk di lewati. Kami lihat, jarang ada tanaman hias atau tanaman sayur mayur dan obat-obatan di halaman rumah. Ternyata, karena sapi bebas berkeliaran, bahkan ketika Bdn n PdW jalan pagi, ada sapi berkeliaran di rumah kosong bagaikan penghuninya saja. Perusahaan menyediakan rumah sederhana untuk pekerjanya, seperti rumah Dimas terdiri dari 2 kamar, ruang keluarga/tamu, dapur dan kamar mandi. Jadi ingat rumah BTN di Kunciran ketika belum di pugar, namun halamannya lebih luas. Rumah para pejabat tentu jauh lebih besar, halamannya juga lebih luas dan banyak tanamannya. Mungkin sapi-sapi tahu kalau itu rumah pejabat sehingga tidak di hampiri… hehehe. Karena ada yang jaga kali. Di dalam komplek terdapat surau/mushola, ada juga sekolah taman kanak-kanak. Di dinding sekolah tersebut penuh gambar-gambar pemandangan, hewan, tanaman, dsb. Dimas ikut andil menggambarnya. Memperhatikan komplek perumahan yang masih baru, dengan fasilitas dari perusahaan yang sangat terbatas, maka hiburan pun juga terbatas. Para penghuni harus pandai-pandai mengisi waktu, dan perlu kekompakan agar tidak kesepian. Kalau Mbah Darus, jelas hiburannya mancing. Di dalam dan sekitar kebun ada sungai. Barangkali kondisi tersebut yang menyebabkan FB Dimas kadang terpasang status : bosan.
       Kegiatan Dimas sehari-hari, dengan jabatan sebagai Krani (pengelola administrasi kebun), banyak berhadapan dengan komputer. Namun untuk mengumpulkan data mengharuskan Dimas mendatangi lokasi-lokasi kebun lain guna mengambil datanya. Keahlian Dimas mengendarai mobil juga merupakan peluang mendapat tugas sebagai pengemudi. Bahkan, ketika kami datang, Dimas sedang ke Medan menjemput keluarga atasannya. Dilanjutkan dengan mengantarkan keluarga tersebut jalan-jalan sampai Denpasar. Berarti Dimas mengendarai mobil dari Medan sampai Denpasar pergi pulang. Jalan yang di tempuh berpedoman kepada penunjuk jalan yang ada dan tanya sana-sini termasuk melalui BBM. Subhanalloh. Itulah perjuangan hidup Dimas. Semoga selalu dalam lindungan Alloh.

PENUTUP
       Alhamdulillah kami bisa jalan-jalan ke Lahat. Sebagai pensiunan, kami mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum. Namun ternyata kami masih menikmati fasilitas BRI, dengan mendapat pinjaman kendaraan berikut pengemudinya. Bahkan tidak hanya itu, sambutan teman-teman sejak turun dari pesawat di Palembang sampai kembali ke lapangan terbang lagi, sungguh luar biasa dan tidak terkirakan sebelumnya. Subhanalloh. Semoga Alloh memberikan balasan kepada mereka atas pengorbanannya menyambut kehadiran kami.
       Banyak pelajaran yang kami dapatkan. Diantaranya, adalah indahnya persahabatan, manfaat silaturahim, dan juga perjuangan hidup teman-teman, termasuk Dimas. Dengan merantau, jauh dari kampung halaman, menumbuhkan semangat hidup dan kesempatan mengaktualisasikan diri.
       Semoga kami dan juga sidang pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita perjalanan ini.

EYANG HOEDAN


EYANG HOEDAN


       Sebagai cucu pertama, mungkin saya yang paling lama ketemu beliau disbanding adik-adik (tingkat cucu). Semua kenangan tentang Eyang Hoedan adalah baik. Beliau telah menurunkan gen kecerdasan yang luar biasa sehingga anak-cucu menikmati potensi kecerdasan yang baik pula. Terbukti dari 7 cucu-nya yang telah atau sedang kuliah, hampir semua diterima di universitas negeri, bahkan beberapa termasuk cucu mantu sampai ke strata post graduate..hehehe. Semoga tradisi ini berlanjut sampai cucu terakhir dan buyut-buyut kelak.

       Kecerdasan Eyang Hoedan juga terwujud dalam bentuk penyusunan sistem kalender ’Tahun Doremif’. Sebenernya sistem penanggalan ini sangat unik karena kita dapat mengetahui ’weton’ (hari yang dikombinasikan dengan pasaran Jawa) dengan cepat. Sayang sekali anak-cucu Eyang Hoedan tidak ada yang mewarisi ilmu ini dan malah jatuh ke tangan mas Isnawan (kakak sepupu saya dari Bapak Darwinto). Alhamdulillah masih ada yang mewarisi dari keluarga sendiri sih..hehehe. Selain itu Eyang Hoedan juga menyusun teori bermain rubik/kubus, apit-balik, dan permainan-permainan lain yang sangat rumit. Pada zaman computer masih merupakan barang langka dan pengoperasiannya sangat njlimet, Eyang Hoedan sudah punya dua computer di rumah Selokraman dan menjadi suhu bagi generasi pertama pemakai computer se-Kotagede. Banyak teman-teman saya yang lebih tua di Kotagede yang selalu mengenang jasa Eyang Hoedan dalam mendidik mereka hingga mereka punya kehidupan yang lebih baik sekarang. Jadi, kecerdasan Eyang Hoedan sebenernya tidak hanya kecerdasan intelegensi, tapi juga kecerdasan sosial dengan berbagi ilmu, bahkan pernah aktif di masyarakat sebagai ketua RT. Semoga kecerdasan sosial ini juga bisa kita lestarikan agar anak-cucu Bani Hoedan juga dikenal dapat bermasyarakat dengan baik, bermanfaat bagi tetangga dan ummat.

       Eyang Hoedan juga mewariskan kita budaya kejujuran dan keteguhan memegang amanah. Beliau sangat tertib dan amanah dalam masalah keuangan. Eyang selalu mengembalikan kelebihan uang BBM dari Telkom bila tersisa di akhir bulan. Semoga kejujuran ini juga menurun ke kita semua.

       Secara pribadi, kenangan saya bersama Eyang Hoedan sih suka bercanda dan tidak mudah marah sama saya. Waktu kecil suka disikep dan menggosokkan jenggotnya ke pipi saya..hahahaiyy,geli sekali. Maaf ya anakku Raihani dan Aina kalo sekarang saya melakukan hal yang sama pada kalian. Eyang Hoedan juga pernah aku siram air karena aku kira lik Mingki. Waktu itu saya sedang mandi di kamar mandi Barat Pendapa Selokraman (dua kamar mandi satu bangunan yang sekatnya nggak sampai atap). Sebelum mandi memang abis bercanda sama lik Mingki. Tau-tau ada yang masuk di kamar mandi sebelah dan pas aku tanya: ”Siapa di sebelah?”.

                                                                                                       Kamar ......................
Kamar mandi sebelah manjawab: ”Akuuuu” (dengan suara dibuat-buat yang menurutku pasti lik Mingki). Langsung deh aku siram air segayung. Masalahnya kok nggak mbales ya? Nah, pas keluar kamar mandi kebetulan sebelah juga pas keluar. Saya langsung lari tunggang langgang begitu lihat Eyang Hoedan basah kuyup (ternyata beliau cuma pipis). Konyolnya aku sembunyi di kamar lik Mingki..hihihi..Ternyata Eyang Hoedan nggak marah dan hanya menasehati agar nggak suka nyiram orang.

                                                                                                                   Oleh : Imad

CERITA DEROEM TENTANG BAPAK


CERITA DEROEM TENTANG BAPAK
OLEH : NINGRUM WIJAYANTO
Mbak ini sdikit ceritaku ttg bapak.
Bapak itu sangat sayang pdku. Bapak sering membawakan aku makanan yg enak2, yg ternyata itu snack bapak di kantor. Bapak juga sering membawakan ayam goreng kesukaanku. Kalau bapak pergi tugas keluar kota, banyak sekali oleh2nya untukku.
Bapak sering mengajakku ke toko mainan dan toko buku. Bapak tidak pernah mencelaku. Kadang2 aku nakal, tapi aku tidak ingat bapak memarahiku.
Pernah aku ingin ikut bapak tugas ke suatu tempat. Aku boleh ikut, ditemani temanku, irma. Entah kenapa waktu di sana mgkn aku berantem dg temanku, atau aku sedih tdk ada ibu, aku nangis minta pulang. Akhirnya bapak pulang. Entah tugasnya sdh selesai atau belum.
Aku pernah merusakkan dan menghilangkan barang2 bapak.
Pernah juga aku pulang sekolah di awiligar langsung main lihat bazar di dkt rmh teman. Ga tau kalau yg di rumah menghawatirkanku. Sampai rumah sdh hmpir sore dn kulihat bapak berbaring lemas di tempat tidur sambil selimutan. Ternyata bapak begitu karena menghawatirkan aku...
Bapak, maafkan aku ya. Sampai akhir usia bapak, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuat bapak bangga padaku, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membalas semua jasa dan kebaikan bapak.
Bapak sudah terlanjur pergi, sebelum melihat betapa bahagianya kehidupanku saat ini. Kalau bapak melihatnya, insyaAllah bapak senang, dan itu akan membuatku merasa, ada yg telah kulakukan untuk bapak, selain membuat repot dan khawatir... 
"I Love You Daddy"
Daddy You know how much I love you
I need you forever I 'll stay by your side
Daddy oh Daddy I want always bliss you
But I never stop trying to be your number one
You understand me....
You teach me how to pray..
And you play the game I love to play
I have no fear here when you are near
You guide me through the dark is night
I love you Daddy...
You are my hero (and you always in my dream)
I love you daddy oh daddy
You are my superstar
Daddy You know how much I love you
I want you to help me
Please show me the way
Daddy oh Daddy
Sometimes I might do wrong
But I never stop trying To be your number one
I wanna show you I'll be as strong as you
When I grow up I still look up to you
So have no fear here I believe here
I will be my daddy's girl
I love you Daddy...
You are my hero (and you always in my dream)
I love you daddy oh daddy
You are my superstar 2x
The one in a million and a million in one
Forever I want to be by your side You're in a million
Show me the way
Guide me through my night...
(Richardo&friend's song. I love you daddy)
http://m.youtube.com/#/watch?v=Awuk7_c6XNs&desktop_uri=%2Fwatch%3Fv%3DAwuk7_c6XNs&gl=ID

MY FATHER’s FLIGHT


MY FATHER’s FLIGHT   (By : Manung)
Hari ini aku pulang dari Kalimantan pake pesawat baling2. Maklum Ketapang cuma kota kabupaten di pinggiran Kalbar yang bandaranya kecil. Cuma pesawat baling2 yg bisa landing n take off di sana. Perjalanan ke Pangkalan Bun (tempat transit sebelum lanjut Surabaya) melintasi hutan lebat Kalimantan yang dilukis kelok2 sungai besar di antara rimbunnya pepohonan. Beberapa perkebunan sawit terbentang di tengah2 hutan. Tiba2 pemadangan dari jendela pesawat tertutup awan2 seputih kapas. Jadi inget albumnya Bapak yang banyak foto2 awannya. Jadi inget cerita Bapak waktu pulang dari Kalimantan juga.
Waktu aku masih SD Almarhum Bapak sering tugas ke luar kota keliling Indonesia. Bapak sebagai pemeriksa keuangan harus meriksa semua cabang2 kantor yang ada di Indonesia. Hampir tiap bulan Bapak keluar kota. Yg seru itu kalau lagi nunggu Bapak pulang. Kadang2 kita kumpul di teras rumah malam2 nungguin Bapak pulang. Yg aku inget sih duduk di tiker lesehan. Miss U Pak.
Pernah suatu ketika Bapak udah selesai perjalanan dinasnya dari Kalimantan. Tapi karena waktu itu kehabisan tiket Bapak nggak bisa pulang. Kecewa juga sih, harusnya sudah pulang tapi nggak bisa. Ya sudah akhirnya Bapak dapet tiket buat besoknya. Dari berita yg didapat (lupa aku berita nya lewat apa) pesawat yg nggak jadi dinaikin Bapakku kecelakaan. Alhamdulillah Bapak nggak jadi naik pesawat itu. Coba kalau Bapak dapet tiket pesawat itu....
Dari pengalaman itu, sekarang mas ku suka ngingetin aku kalau ada kejadian yg nggak kita harapkan. Insya Allah ada hikmahnya. Jangan sampai kita menyesal kalau belum bisa seperti yang kita harapkan. Kalau ponakan nggak keterima di sekolah favorite dia suka bilang Insya Allah dg sekolah di tempat selain itu akan lebih baik. Kalau sudah mikir gitu biasanya terus rada plong..
Di hadits ada yg berbunyi: Allah itu ada pada persangkaan kamu sekalian (CMIIW).
Mudah2an kita bisa membiasakan diri untuk selelau berprasangka baik.. Amiiin. 

KENANGAN BERSAMA BAPAK


KENANGAN BERSAMA BAPAK
Biasanya jauh sebelum buletin KBH terbit, aku sudah nyicil nulis walau hanya sekedar, sehingga ketika buletin hampir tiba (saat redaksi mulai menyapa), aku tinggal lanjutin, itu kulakukan disela-sela waktu. Baru deh kalau sudah kepepet terpaksa waktu kusempat-sempatkan. Nah berhubung untuk buletin edisi ke-4 ini aku belum nyicil blas , maka kemarin sempat terlintas dalam pikiranku “ah, nggak usah nulis aja, paling2 yang ngirim itu2 aja”. Tapi saat itu, pulang dari menghadiri pertemuan Trah Wongsomirdjan di rumah Dr. Kunto, walau sebetulnya lumayan cape, kucoba menulis. Alhamdulilah lumayan walau hanya beberapa bait. Nanti lagi kulanjut pikirku. Ya Allah, esoknya saat pulang ngajar mau kulanjutin , ku buka file ternyata kosong, aduh lemes deh jadinya. Ya sudah pasrah, nggak jadi kulanjut, komputerpun kumatikan. Kayaknya sudah kusimpan tapi kok kosong, kalaupun ada, yang ada nggak kebaca. Rasanya semakin nggak ada niat n pasrah nggak jadi nulis, tapi  hari ini akhir Pebruari, pagi2 sebelum berangkat ngajar ku coba nyicil ngetik. Moga2 bisa terbit n pembaca setia nggak bosen dengan tulisan bu guru TK he2, untuk itu kan kutulis kenanganku bersama bapak Hoedan.
Aku nikah 7 Januari 1995, bapak meninggal September 1995. Walau tak ada setahun bersama beliau, tapi kenangan tetap terkenang. Awal kumemasuki rumah Selokraman aku jadi tau, kemana ibu bapak pergi, saat itu Mas Hasto lah yang ngantar. Terkadang aku ikut, jadi tau kalau bapak saat itu suka sekali minum jamu genggang, karena sering mampir di jamu tersebut, bila dari bepergian. Nah kalau aku nggak ikut, di rumah aku bersih2 n rapi2. Sehingga pulang bapak ibu dari bepergian rumah manpak rapi. Akhirnya bapak menjulukiku “keong emas”. Aku sendiri tau cerita tentang keong emas, tapi saat ku bersih2 n rapi2 nggak kepikiran akan keong emas. Rasanya asyik aja tuh rapi2 tanpa ada orang lain yang lihat. Bapak juga suka berkata “ini rum apa tri ya” saat melihat atau berpapasan denganku. Wah pernah juga lho aku di diamin lumayan lama tapi aku biasa aja, nggak ada pikiran apa2. Ternyata bapak mengira aku de rum saat itu n setelah bapak tau bapak lantas menyapaku sekedarnya, kemudian keluar, tak lama kemudian bapak datang lagi membawa makanan n mimuman yang baru di belinya. Akupun ditawarinya diberikannya padaku (Asyik2 he2). Waktu lebaran seusai shalat ied, bapak mengajak kami mengunjungi sanak saudara dengan berjalan kaki. Disitulah aku jadi tau jalan2 di kotagede yang sempit, seperti gang tikus atau kelinci. Aku senang, ternyata bapak senang bersilaturohim dengan mengajak kami. Suatu contoh yang layak ditiru.
Saat bapak n ibu hendak menunaikan rukun islam yang ke-5, kamilah yang sering mengantar bapak ibu bila manasik, membeli oksigen, ambil obat di apotik dll. Pernah beberapa kali aku n mas Hasto berbuka puasa di jalan/di luar, karena acara bapak ibu belum selesai. Teringat olehku saat menjemput bapak ibu pulang haji di bandara, yang seharusnya kami jemput di asrama haji, tapi kami menjemput di bandara karena kondisi bapak yang sakit saat itu. “bapak kurus ya tri?” begitu kata bapak saat kami saling berpelukan dengan penuh rasa haru. Memang bapak sangat kurus saat itu. Waktu mau berangkat haji bapak sudah dinyatakan sakit, di tanah sucipun bapak sakit hingga dirawat, dan begitu kami melihat bapak pulang haji bapak nampak kurus juga sangat lelah. Kalau tidak salah yang jemput saat itu pakde Bambang, budhe Aam, Aku, mas Hasto, om Yoga n tante Lina (sory lho..kalau ada yang belum kesebut, soalnya itu cuma seingatku he2). Kemudian kami singgah di masjid Baiturrahman Selokraman sebelum memasuki rumah.
Hari berganti diiringi juga dengan bergantinya bulan, kebersamaan kami bersama bapak ibupun terus berjalan. Sampailah pada saat2 terakhir bersama bapak. Malam itu, keadaan bapak semakin memprihatinkan, terlihat dari nafasnya. Ibu setia menunggui bapak di kamar tidur. Bapak selalu memegangi tangan ibu. Akupun ikut berada di dekat bapak. Suasana saat itu kurasakan agak gimana gitu, sehingga entah kenapa, kulihat semua isi ruangan sampai kearah langit2. Akhirnya sekitar jam  9an   ,aku dan mas Hasto naik motor menuju PMI Tegalgendu Kotagede, meminjam Ambulance. Pulangnya mas Hasto naik motor, sementara aku naik Ambulance menuju rumah. Hiii…. Serem juga rasanya malam2 naik ambulance, tapi serba salah kalau aku yang naik motor ??? kan nggak mungkin. Itulah untuk pertama kalinya aku naik Ambulance. Sampailah dirumah, bapak di gotong menuju Ambulance oleh petugas PMI diikuti mas Hasto. Sementara ibu terpaksa melepas genggaman tangan bapak karena mau mengambil dompet, kemudian ibupun menyusul. Aku dirumah, hanya mengantar bapak sampai pintu, karena memang  harus nunggu rumah. Untungnya ada Rani (yang bantu2 dirumah kami) jadi ada teman. Saat itu aku masih di pintu, ternyata bapak nggak jadi dibawa ke RS, Innalillahi wainna illaihi roji’un, Bapak telah tiada, meninggalkan kita semua di dunia. Suasana rumahpun trus ramai, tetangga berdatangan, begitu juga sanak saudara. Bapakpun disucikan, mas Hasto memangku bapak dibantu lainnya.
Esoknya suasana rumah semakin ramai, para pelayat berdatangan. Siswa-siswi SMA Muh.4, saudara, tetangga dll, mengucapkan belasungkawa. “Sabar nggeh mba rum” begitu kata para pelayat mengucap belasungkawa sambil memeluk aku. Tak hanya 1,2 orang tapi banyak, semua mengira aku d.rum. Sudah yaaa sampai jumpa lagi di episode yang lain.

By Heboh


YANG DEKAT YANG PALING BERJASA

atu lagi ya....
                  YANG DEKAT YANG PALING BERJASA
      Kami kami yang jauh ini ada perasaan merasa bersalah tidak bisa menemani yanguti setiap waktu. Kami sangat menghargai kbh Yogya yang senantiasa menjaga, merawat, dan melindungi yanguti. Terutama mas Hadto, dik Tri, pakde Win, bd Ninik, mas Sapto, mbak Fat, mas Imad, mbak Ita...juga cucu cucu dan buyut buyut. Tentunya sudah banyak sekali suka duka dalam menemani yanguti. Semoga amal ibadahnya diterima Alloh swt...Aamiin.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

AYAHKU R MD HOEDAN


AYAHKU R MD HOEDAN

       Alhamdulillah kami bersyukur sekali dikaruniai orang tua yang sangat baik. Ibuku sosok yang sangat penyayang dan ayahku sosok yang sangat disiplin dan jujur. Keduanya kalau dipadukan maka sangat serasi karena bisa saling mengisi dalam hal mendidik anak. Bisa dibayangkan kalau keduanya punya sifat yang sama mungkin kami tdk seperti sekarang ini.
Untuk kali ini sy akan cerita tentang bpk kami R.Md.Hoedan.
       Pak Hoedan itu sama Alloh swt dikaruniai otak yg cerdas. Saya pernah melihat nilai raport bapak itu tidak ada nilai 6 nya. Yang ada 7, 8, 9, 10. Waktu sy lihat raport bpk sy terkagum kagum juga...kok bisa begitu ya..?!...kok aku anaknya belum bisa seperti itu ya..?...
Bapak juga sangat memperhatikan dan menyayangi anak2 nya. Terbukti kalau bapak dapat makanan dari kantor sering dibawa pulang untuk oleh2 anaknya..
Kalau ingat semua itu aku jadi ingin nangis. Bapak sering membelikan buku buku bacaan untuk anaknya. Kalau subuh bpk selalu berdiri di depan pintu kamar anak2 sambil menyanyi dg maksud agar anaknya mau bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Wah...air mataku jadi tidak terbendung nih...terbayang bapak nyanyi dg lirik lagu seperti ini
Bapak mengganti lirik lagu bila diperlukan. Kalau sedang membangunkan saya bapak akan menyanyi
" mbak Warih...ndang tangiyo...iki wis jam piro...yenwis tangi enggal wudhuo...banjur enggal sholato  "
Nanti kalau membangunkan anaknya yg lain lagunya sama hanya namanya diganti. Terasa banget sayangnya bapak kepada anak anaknya.
Bapak juga selalu menanyakan kepada kami " wis sholat opo durung ?...sehingga ketika itu kami sering ngumpet2 takut ditanya bapak. Maklum wkt itu masih anak anak jadi inginnya bermain terus bersama teman teman. Bapak kelihatan sekali menjaga amanah yang diberikan Alloh swt terutama kepada anak anak yang wanita bapak selalu melindunginya dengan cara membatasi pergaulan anak anaknya, menjemput kalau kemaleman belajar bersama di rumah teman dll.
Kami juga sering dibonceng bapak naik sepeda, diantar bapak belajar qiro' ah, disuruh belajar di madrasah dll.
Pokoknya kuacungi jempol deh bapak.  
       Dalam menjaga amanah Allih swt bapak termasuk orang yang hati hati memilihkan jodoh anak anaknya. Bapak sll memandangnya dari sudut pandang agama, bukan keduniawian. Begitulah yang kutau tentang bapak. Sebenarnya masih banyak lagi yang mau kutulis tp insyaAlloh kapan kapan lagi ya kbh..smg bapak bahagia disisi Alloh swt dan ditempatkan di tempat yg mulia di sisiNya karena menurut kami bpk sdh melaksanakan apa yang diperintahkan Aloh swt.


MAKANAN KESUKAAN BAPAK


MAKANAN KESUKAAN BAPAK
Oleh : Warih Fauzi

        Waktu aku masih kecil paling senang kalau didawuhi Bapak beli kacang. Kebetulan kesukaanku sama dengan Bapak. Sampai sampai Bapak sering bilang " Wong dik Warih ki senengane kacaaaang..."
Bapak memang menyukai bangsa kacang2an seperti kacang bawang, kacang ijo, kwaci, peyek, ampyang dll. Kalau kacang hijau Bapak senengnya dibuat sop.
Hah...sop kacang ijo ? Mungkin jarang jarang ya kita menjumpai di restoran sop kacang hijau. Enak lho kbh....apalagi kalau mricanya agak banyak...pedas pedas segar gitu loh. Bapak juga sering beli bumbu pecel dan disimpan di lemari. Pernah saya toto toto lemari menemukan bumbu pecel yang sudah hampir kadaluwarsa...mungkin Bapak lupa naruh bumbu pecel tidak dikeluarkan.
Bapak juga suka beli sarden dalam kaleng...wah pada waktu itu sarden itu termasuk makanan mewah...dan enak...nanti aku suka mbukakin sardennya dan nduliti kuah sarden yg tumpah....wah jan...segitu gitunya ya..
Disamping makanan makanan yg tadi itu Bapak juga suka sate, gule dan tongseng.
Ada cerita sedikit nih ketika Bapak mengajakku ke pasar.
       " Pak...mau tindak ngendi ? ".. tanyaku pada Bapak. Jawab Bapak " yo ayo nderek po ? " jadilah aku ikut Bapak dibonceng naik sepeda. " Mau kemana Pak ? "
Jawab Bapak " Yo wis ayo to ..."... Tiba tiba Bapak masuk ke pasar dan mendekati tukang gule. Wah aku agak malu khawatir ketemu teman sekolah kok ngiras neng pasar...
Bapak pesan tongseng , aku pesan gule...dan pulangnya Bapak bawa sate untuk oleh2 Ibu dan yang lainnya. Kalau makan tongseng Bapak minta mrica bubuk dan ditabur taburkan di atas tongseng
Wah...sedaaap...
       Suatu waktu Bapak mengajakku juga ke toko jamu ginggang...biasanya Bapak pesan cabe lempuyang dan saya pesen parem ( beras kencur tapi tidak diaduk, jadi diambil yang atasnya saja biar nggak pedas ). Apa karena pengaruh itu juga aku jadi menyukai beras kencur dan parem sampai sekarang.
Kalau habis main kasti dengan teman2 pulangnya mampir beli beras kencur di pojokan Mbasen. Demikian itu kenanganku bersama Bapak tentang makanan
      Sudah dulu ya kbh...ini di Arcamanik sedang ada Ichsan dan Sari sedang pada pesen mi tek tek...kalau makanan yang satu ini sepertinya kbh suka semua ya..terutama mas Hasto...

KENANGAN ANAK MBAREP TENTANG BAPAK


KENANGAN ANAK MBAREP TENTANG BAPAK

       Tanggal 15 Januari adalah tanggal kelahiran bapakku (Bp. R Md Hoedan Prodjosubroto). Dulu ketika Bapak masih hidup, dan kami masih bertempat tinggal di Jakarta, setiap tanggal 15 Januari Bapak aku telpon : Sugeng tanggap warso nggih Pak…  mugi-mugi …… (doa buat Bapak). Pernah suatu ketika aku tidak telpon Bapak ketika tanggal tersebut (lupa tahun berapa), baru telpon besok paginya. Bapak langsung bilang : kemarin kok tidak telpon?
       Itulah salah satu kenangan ku tentang Bapak. Tentu masih banyak sekali kenangan tentang Bapak. Diantaranya adalah :
  1. Waktu itu saya, dan adik-adik masih kecil, bertempat tinggal di Selokraman. Ketika itu Ibu melahirkan, kalau tidak salah melahirkan kembar sehingga melahirkannya di PKU Yogyakarta (PKU Kuto, bukan Kotagede). Bapak mengajak saya dan adik-adik nengok Ibu naik sepeda, kami di bonceng sepeda dua orang di belakang dan satu orang di depan. Agar pantat tidak sakit, yang bonceng di depan (di planthangan sepeda) di beri alas anduk untuk membalut planthangan sepeda. Waktu mau naik sepeda, Bapak mencari tempat agar bisa njagang sepeda dengan kakinya (Buk jembatan parit di Njembegan, sekarang sudah tidak ada karena paritnya di tutp untuk jalan), baru kami yang di bonceng belakang naik dengan bantuan buk tadi. Itulah upaya Bapak menyenangkan kami agar bisa bertemu Ibu yang sedang opname di rumah sakit karena melahirkan.
  2. Kami masih tinggal di Selokraman. Setiap bulan Bapak dapat jatah beras dari kantor. Seingat saya satu karung besar. Saya di bonceng Bapak ke kantor, setelah dapat beras saya dan beras naik becak Bapak mengikuti dengan sepeda. Becak hanya sampai Payungan (Pojok timur selatan pasar), kemudian berasnya di naikkan ke boncengan sepeda. Bapak menuntun sepeda sampai Selokraman, dan saya jalan kaki mengikuti dari belakang. Suatu saat di bulan puasa, ketika menuntun sepeda dengan muatan beras melintas di depan rumah Yu Bun (Samaan), jalannya menurun (ndronjong). Bapak kesulitan mengendalikan sepeda sehingga jatuh. Alhamdulillah tidak luka. Namun untuk menaikkan beras ke sepeda lagi, sangat sulit karena tidak ada yang membantu. Tadi sewaktu dari becak, menaikkan beras ke sepeda di bantu tukang becak. Untungnya ada orang lewat yang kemudian membantu Bapak. Itulah perjuangan Bapak untuk memberi makan kepada keluarga.
  3. Setelah lulus SMP, saya harus mencari sekolah SMA (SMU saat ini). Dengan yakinnya saya mendaftar ke SMA Negeri. Eh ternyata testnya tidak lulus. Saya bingung. Bapak berusaha mencarikan sekolah, mendaftarkan saya ke SMA Muhammadiyah I (MUHI) tanpa sepengetahuan saya. Ketika masuk sekolah pertama kali, saya belum tahu tempatnya karena waktu itu tidak ikut mendaftar. Untuk bisa sampai ke sekolah saya di suruh bareng Mas Darwinto yang juga sekolah di SMA tersebut. Cieeee, akhirnya keterusan deh, bareng terus sampai sekarang.
                                                                                          4. Ceritanya………………………….
  1. Ceritanya saya sudah kuliah di Fakultas Peternakan UGM. Mulai masuk kuliah sudah di sibukkan dengan praktikum sehingga harus pulang sore. Jalanan dari Kampus ke rumah melalui jalanan yang kalau hujan tergenang air. Ketika pulang kuliah turun hujan, saya telpon Bapak minta di jemput. Sebenarnya saya naik motor sendiri demikian juga Bapak naik motor sendiri, jadi Bapak menemani saja untuk memastikan ketika melewati jalan yang tergenang air, tidak ada masalah. Di depan pintu gerbang Kampus saya menunggu Bapak. Hujan masih turun rintik-rintik, Bapak datang dengan basah kuyup. Dari tas cangklongnya Bapak mengeluarkan jas hujan dan meminta saya memakainya. Saya kaget, mengapa tidak di pakai Bapak saja sejak dari rumah tadi? Kata Bapak, kawatir jas hujannya basah ketika mau saya pakai. Subhanalloh begitu sayangnya Bapak kepada anaknya. Terima kasih ya Pak.
  2. Kami telah menikah dan mempunyai seorang anak yang masih kecil. Namun terus terang saja kami belum punya pengahsilan rutin. Untuk membeli susu anak, saya sering mengambil uang Bapak yang di taruh di belakang tumpukan baju. Uang logam Rp.100,- banyak sekali di tempat itu. Ketika uang tinggal sedikit, besoknya saya mau mengambil lagi, eh kok ada banyak ya. Itulah cara Bapak menolong kami, tanpa kami harus malu untuk meminta. Subhanalloh Maafkan saya ya Pak.

PAK HOEDAN DAN PENULISAN BUKU SILSILAH TRESNA WANDAWA


PAK HOEDAN DAN PENULISAN BUKU SILSILAH TRESNA WANDAWA
Oleh : Darwinto Nawawi

Tresna Wandawa (dan kita menjadi anggotanya) seperti sudah kita ketahui bersama adalah perkumpulan trah yang antara lain mempunyai ciri  khas :
  1. Mempunyai dua pancer utama sejak berdirinya (Kyai Syarifuddin dan Tumenggung Wirarejo)
  2. Usia Tresna Wandawa lebih tua dari Republik Indonesia, TW didirikan sekitar tahun 1935.

Karena dari awal sudah mempunyai dua sumber utama (pancer), maka tentu saja sangat diperlukan keuletan, ketelatenan dan semangat tinggi untuk  “nggathuk-nggathuk-ke” persaudaraan antar anggota. Ditambah juga, generasi pendiri Tresna Wandawa sendiri (antara lain Pakdhe Djarojan, Pakdhe Marwan, Pakdhe Syabrowi dan Pakdhe Wawi) sudah ada di urutan (grade) ke 6 di bawah pancer Tresna Wandawa I (Kyai Syarifuddin).

Sampai sekitar tahun 1970, pertemuan syawalan Tresna Wandawa salah satu acara pentingnya adalah memperkenalkan anggota yang hadir diikuti keterangan tentang urut-urutannya kenapa terdaftar menjadi anggota Tresna Wandawa. Acara perkenalan ini hampir selalu dipandu oleh Pakdhe Wawi. Beliau oleh Alloh dikaruniai pengetahuan untuk hafal silsilah Tresna Wandawa dan kemahiran berbicara di depan publik, sehingga acara ini selalu dinanti-nantikan saat syawalan.

Pengetahuan yang dimiliki Pakdhe Wawi tersebut, sekitar tahun 1975 terpikir untuk didokumentasikan.  Alasan utama tentu saja agar bisa diwariskan kepada generasi muda Tresna Wandawa dan juga semakin sepuhnya Pakdhe Wawi.  Untuk pendokumentasian ini diperlukan tenaga yang antara lain mempunyai kriteria berwawasan luas tentang silsilah Tresna Wandawa sebagaimana Pakdhe Wawi, dan teknik tulis menulis.

Teknik tulis menulis ini juga memerlukan kesabaran dan ketelatenan tersendiri, karena saat itu belum didukung oleh sarana komputer. Jadi masih menggunakan kertas stensil, mesin ketik manual dan tentu saja tip-ex “ngawekani”  kalau salah ketik (cara pengetikan seperti ini masih dilakukan oleh Bdn ketika membuat skripsi S1 Fak. Peternakan UGM).


                                                                                                              Tokoh………………………….
Tokoh yang masuk kriteria memenuhi syarat untuk pendokumentasian silsilah Tresna Wandawa ini adalah Bp. Haji Raden Muhammad Hoedan Projosubroto, yang tak lain orangtua kita yang nama beliau kita abadikan dalam kita berkomunikasi, KBH.  Dari  diri Bapak kita ini (Pak Hoedan) bahkan muncul ide penomoran anggota Tresna Wandawa. Seperti nomor anggota untuk Pak Hoedan sendiri adalah K*6ABD, artinya Pak Hoedan adalah :

  1. Seorang laki-laki ditunjukkan dengan huruf K di awal nomor anggotanya.
  2. Ada di grade ke 6 urutan awu Tresna Wandawa, ditunjukkan dengan angka 6.
  3. Beliau adalah putra pertama, ditunjukkan dengan huruf A di abjad paling depan nomornya.
  4. Orang tua beliau (Eyang RS Condrokartiko) adalah putera ke 2, ada huruf B di nomornya.
  5. Eyang beliau (Eyang Tomokarso) adalah putera ke 4 (huruf D).
  6. Dari Eyang Tomokarso, ke atas adalah Eyang Amatkariyo, Kyai Ismail, Kyai A.Rifai dan TW 1 (Kyai Syarifuddin)
Pengumpulan data anggota Tresna Wandawa, yang saat itu belum didukung alat komunikasi canggih seperti sekarang, dan diteruskan dengan penyusunan buku Silsilah Tresna Wandawa yang juga belum dibantu sarana komputer, memerlukan tenaga pembantu pelaksana (tebak siapa yang dipilih Pak Hoedan ?). Dan juga tentu saja waktu yang cukup lama.

“Karya” Pak Hoedan yang begitu monumantal ini, semoga menjadi amal jariah beliau yang Insya Alloh pahalanya terus mengalir, aammiin. Juga bersyukurlah kita mempunyai Ayah, kakek, kakek buyut jenius, sehingga ketika Mas Imad, Dik Inun (alm), Dik Basith, Dik Adin dan Dik Ikhsan sekolah di satu “kampus” SD Islam Yakmi  Kunciran dan semuanya juara di kelasnya masing-masing, pertanyaan dari salah seorang teman Dik Basith adalah :”Siapa sih Sit kakek lu ?”.